Sepulangnya dari Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Bandung sekitar tahun 1920-an, banyak harapan yang menunggu Abdul Hamid di Bima untuk sebuah gagasan membangun tanah leluhurnya ke sebuah tatanan pemerintahan yang lebih baik. Abdul Hamid muda seorang yang mempunyai visi untuk masa depan bangsanya yang maju dan modern.

Abdul Hamid dilahirkan dari lingkungan keluarga turunan Raja Bicara generasi ke 15 dari Bilmana para pelopor penggerak roda pemerintahan Kesultanan Bima. Ayahnya bernama Abdul Majid Ruma Parenta (Raja Sakuru) seorang pejabat tinggi pada kesultanan dan ibunya bernama Siti Aisyah (Ico), sejak kecil banyak ilmu yang didapatkan oleh Abdul Hamid pada lingkungan keluarganya mempunyai dua orang saudara laki-laki Muhammad Hilir (Ruma Ola) dan Muhammad Nasir (wafat ketika kecil).

Foto Abdul Hamid  dikala Remaja saat pertama kali diangkat sebagai Raja Bicara Kesultanan Bima. (Sumber : koleksi keluarga Raja Bicara Abdul Hamid)

Setelah mentamatkan pendidikannya di Bandung, Abdul Hamid mendapati penurunan ekonomi pada beberapa masyarakat bawah, akhirnya timbul gagasan beliau untuk membangun koperasi konsumsi  tahun 1920 yang bertujuan membantu perekonomian masyarakat bawah. Koperasi itu diberi nama “Satya Usaha” dan dibantu beberapa pengurus diangkat dari masyarakat (Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTB).

Pada tahun itu Bima sudah mempunyai Koperasi Konsumsi untuk membantu masyarakat miskin, dan listrik mulai masuk serta alat-alat komunikasi seperti telegraf dan telepon juga mulai masuk. Bima mengalami masa transisi yang berkembang pesat menuju modernitas, atas usulannya pada pihak Hindia Belanda untuk memperkerjakan serta mengenalkan pribumi pada aktifitas perkantoran dan perusahaan. Akhirnya Raba dijadikan sebuah kota administrasi perkantoran Hindia Belanda dengan kode stempel Raba-Bima dan banyak pribumi mulai diperkerjakan.

Karena mencolok akan ilmunya Abdul Hamid terpilih dan diangkat menjadi Raja Bicara di usianya yang masih terbilang muda menggantikan pamannya Muhammad Kurais tahun 1920 untuk mendampingi Sultan Muhammad Salahuddin. Setelah menjabat Raja Bicara, dia mengembalikan lagi fungsi sepenuhnya Majelis Suba sistem pemerintahan kesultanan yang sebelumnya dirubah campur tangan Contreleur Belanda. Dalam hal ini cukup besar peranan Raja Bicara Abdul Hamid sebagai pendamping sultan. Dengan bekal agama yang kuat sultan menjalankan kebijaksanaan pemerintah didampingi oleh Ruma Bicara Abdul Hamid yang cakap, berani dan berwibawa (Kerajaan Tradisional di Indonesia : Bima, 1997).

Pemerintahan kesultanan mulai berjalan dengan baik setelah Majelis Suba dikembalikan lagi. Kepiawaian Abdul Hamid dalam menjalankan roda pemerintahan kesultanan, berbagai kebijakan yang dibuat Raja Bicara untuk perbaikan social ekonomi masyarakat Bima, dalam pengabdiannya untuk rakyat terbukti pada tahun 1923 dia dianugerahi penghargaan dari Hindia Belanda yaitu sebuah medali kehormatan Order of Orange-Nassau, medali untuk para pribumi yang berprestasi dan pengabdian mereka untuk masyarakat (Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch Indie, 19 Maret 1923).

Kegemilangan karir Abdul Hamid sebagai Raja Bicara menjadi buah bibir masyarakat Batavia kala itu sebuah Koran lokal Batavia Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch Indie yang berbahasa Belanda diterbitkan pada 19 Maret 1923 yang menyanjung keberanian dan kepintaran Abdul Hamid dalam menjalankan pemerintahan yang lebih moderat.

Abdul Hamid adalah orang yang energik, penuh semangat, yang memiliki andil besar untuk pengabdian pada negaranya.” tulis Koran Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch Indie yang diulas pada halaman utama Koran tersebut.

Untuk membangun sarana pendidikan dan peningkatan ilmu pengetahuan masyarakat Abdul Hamid menghibahkan tanah miliknya di Raba untuk pembangunan sekolah dan Madrasah. Juga sarana kesehatan semacam rumah sakit modern disarankan oleh dia harus ada di Bima. Tahun 1935 Abdul Hamid membangun Masjid Raya di Raba dan dinamakan “Baitul Hamid” yang sebagian besar biaya pembangunan berasal dari tanah wakafnya (Tawaludin Haris, 1997).

Dimata rakyatnya dia adalah seorang guru bangsa yang sangat peduli dengan peningkatan mutu sumber daya manusia di Bima. Agar tidak buta akan politik Hindia Belanda banyak organisasi lokal yang dia bangun untuk pemikiran yang moderat seperti Kepanduan Angkatan Muda Indonesia (KAMI) cikal bakal kepanduan di Bima kemudian organisasi persatuan Gelarang. Menjadi guru untuk berbagai kalangan bersama mertuanya Abdullah (Ruma Kali) di tahun sekitar 1930-an banyak murid mereka dari anak-anak Sultan/ Raja di Indonesia Timur yang datang ke Bima untuk belajar ilmu tata pemerintahan.

(Llihat Foto-foto Abdul Hamid Tempo Dulu)

Dipandang sebagai seorang guru bangsa banyak para pemuda pelajar Bima datang kerumahnya untuk meminta nasehat atau berdiskusi dengan beliau. Seringnya Abdul Hamid bertentangan pendapat dengan Contreuler membuat geram pemerintahan Belanda di Bima. Berbagai cara dilakukan untuk menjatuhkan Raja Bicara, kemudian tahun 1939 dia dituduh menggelapkan bea (pajak) kesultanan oleh Belanda yang bekerja sama dengan beberapa oknum pejabat kesultanan, dia dibuang ke Kupang dan rumahnya di Kampung Nae (sekarang Pane) diambil oleh Controleur Belanda untuk dijadikan kantor.

Menurut M. Ali Hanafiah saat diwawancarai, Senin (19/9/2016), salah satu kerabat dari Abdul Hamid, “ketika Abdul Hamid kembali dari pembuangan tahun 1944, melalui pengadilan untuk membuktikan tuduhan terhadap dirinya sama sekali tidak ada sedikitpun bukti penggelapan yang mengarah ke Abdul Hamid,” katanya.

Setelah terbukti tidak bersalah, kediamannya dikembalikan lagi. Kemudian tahun 1947 Swapraja Bima masuk kedalam NIT (Negara Indonesia Timur) majelis hadat difungsikan, Abdul Hamid diminta kembali oleh sultan dan NIT untuk menjabat lagi sebagai Raja Bicara, namun beliau hanya sampai dua tahun menjabat sebagai Raja Bicara, karena banyak ketimpangan yang tidak sesuai dengan arah pemikirannya, akhirnya tahun 1950 dia mengundurkan diri dan 21 April 1950 ikut dalam rombongan pemuda merah putih untuk menuntut kepada sultan agar Bima keluar dari NIT.

Dalam kesehariannya bergaul bersama rakyat dan para pemuda dia dikenal dengan pribadi yang sangat ramah dan penuh kebijaksanaan, saat itu rumahnya selalu terbuka untuk siapapun. Abdul Hamid biasa dipanggil “Ruma Mpore” oleh kerabatnya yang menunjukkan badannya semakin gemuk karena kegrandungan beliau makan sup bebek. Bersama istrinya Minda Ratu anak dari Ruma Kali, Abdul Hamid dianugerahi tiga orang putra dan tiga orang putri. Tahun 1957 Abdul Hamid dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, ribuan orang dari berbagai kalangan mengantar jasad sang Raja Bicara menuju tempat peristirahatan terakhir. Atas permintaannya beliau dikebumikan dipinggir sungai dibawah kaki bukit nanga Nteli.



Oleh : Fahrurizki





0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top