Sebelum Bima memasuki era Kerajaan dan Kesultanan, dahulu kala kelompok masyarakat di berbagai wilayah “Dana Mbojo” atau dikenal dengan Bima di pimpin oleh kepala suku yang di sebut Ncuhi. Dalam pengertiannya Ncuhi adalah asal muasal kehidupan yang berada di Bima “Ncuhi Ade du dou ma dou, ina mpuuna ba weki, ma rimpa di siri wea nggawona, di batu wea lelena”. Artinya Ncuhi asal muasal manusia, ibu dari kita semua, tempat kita semua berlindung, untuk di ikuti petuahnya.

Ncuhi selain sebagai pemimpin kelompok masyarakat juga merupakan “High Priest” atau Pemuka Agama tertinggi di atas Sando (imam dan dukun dalam agama masayarakat Bima dulunya). Seorang Ncuhi di pilih dari seorang yang bijak dan berilmu oleh kelompoknya untuk memimpin mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Bouman, para Ncuhi itu pada hakekatnya adalah para tuan tanah yang berkuasa di wilayahnya masing-masing, yang kemudian dipersatukan oleh Maharaja Sang Bima menjadi satu kerajaan yang bercorak kehinduan. Seperti yang di kutip dalam Kerajaan Tradisional di Indonesia : Bima, 1997.

Dari berbagai wilayah Ncuhi juga mempunyai seorang pimpinan Ncuhi tertinggi yang memegang seluruh wilayah tertentu misalkan Ncuhi Banggapupa yang memegang wilayah Bima bagian Utara, sehingga dari semua Ncuhi yang bermukim di wilayah Utara jika ada masalah yang terjadi maka mereka akan menemui Ncuhi Banggapupa sebagai pemimpin tertinggi untuk melaporkan masalah dari wilayah mereka.

Para Ncuhi adalah para pemimpin yang memegang teguh musyawarah untuk membicarakan berbagai permasalahan dan perkembangan wilayah masing-masing. “Apabila ada persoalan yang perlu disimpulkan bersama, yang ada sangkut pautnya dengan kepentingan daerah bersama pula, maka berkumpulah mereka untuk memusyawarahkannya”, demikian tulis Ahmad Amin dalam Sejarah Bima. Sejarah Pemerintahan dan Serba Serbi Kebudayaan Bima.

Ncuhi juga mempunyai pimpinan tertinggi dari tiap wilayah masing-masing, para Ncuhi tertinggi ini hanya berjumlahkan 5 orang saja, yaitu :

1. Ncuhi Dara bagian Bima tengah.
2. Ncuhi Doro Wuni bagian Bima timur.
3. Ncuhi Banggapupa bagian Bima utara.
4. Ncuhi Parewa bagian Bima selatan.
5. Ncuhi Bolo bagian Bima barat.

Setelah masuknya era Kerajaan, tugas dan wewenang para Ncuhi tetap pada semula di tiap wilayahnya mereka. Seorang Putra Mahkota sebelum di angkat menjadi Raja, mereka terlebih dahulu di gembleng oleh Para Ncuhi tertinggi dan di ajarkan dari masing-masing keahlian yang di kuasai oleh Ncuhi untuk mengenal tanah leluhurnya.

Dalam kepercayaan masyarakat Bima bila para Ncuhi meninggal maka roh sucinya akan menjadi Waro yaitu roh leluhur yang menjaga mereka. Ncuhi sangat di hormati oleh masyarakat karena kewibawaan dan bijak, setelah masuknya Kerajaan, Kesultanan, hingga terbentuknya Indonesia, seorang Ncuhi tetap di angkat dari keturunan para Ncuhi yang sebelumnya. Di tahun 1983 seorang Antropology dari Universitas Of Pennsylvania yang bernama Peter Just saat meneliti tentang Donggo, dia masih bertemu dengan seorang Ncuhi terakhir di Donggo yang bernama La Honte.


Oleh : Fahrurizki




4 comments Blogger 4 Facebook

  1. Kenapa hanya lima ncuhi itu saja yang memegang kekuasaan di wilayah bima?

    ReplyDelete
  2. Karena hanya mereka yg di percayai oleh masyarakatnya sebagai panutan mereka dari sebelum masa kerajaan..
    Ncuhi muncul tidak terkira..
    Ncuhi muncul dari Hati Masyarakat..

    ReplyDelete
  3. Mhon ijin Mada selipkan sejarah ini di vlog Mada sebagai pembuka

    ReplyDelete
  4. Mengenai " definisi " NCUHI : " Ncuhi ade du dou ma dou , ina mpuuna ba weki, ma rimpa disiri wea nggawona dibatu wea lelena " merupakan kalimat yang keliru. Yang benar adalah : " Ncuhi ede ḏu dou ma dou , ina mpu-u-na ḇa weki ma rimpa , ḏisiri wea nggawo-na ḏiḇatu wea lelena ". Konsonan /d/ beda dengan /ḏ /- post elveolar lateral atau apiko palatal implosive yaitu bentuk bunyi antara fonem / d / dan / t /. Konsonan /b/ beda dengan /ḇ /- bilabial nonplosive antara konsonan /b/ dan /p/ . Gaya ungkapan bahasa Bima ( Nggahi Mbojo ) sangat spesifik. Ungkapan : " DOU MA DOU " yang harfiah berarti: ORANG YANG ORANG , tapi maksudnya : SESESEORANG YANG MEMILIKI KEDUDUKAN DAN STATUS KHUSUS DI BANDINGKAN DENGAN ORANG LAIN. Ungkapan: " INA MPU-U-NA ḆA WEKI " secara harfiah berarti : IBU/INDUK POKOK BAGI DIRI , tapi maksudnya : PANUTAN BAGI SEMUA ORANG. Kata " MPU-U " berarti : POKOK berpadanan dengan kata " FU-U " yang berarti :POHON . Oleh karena itu terjemahan yang diberikan : " ibu dari kita semua " untuk " ina mpu-u-na ḇa weki " terlalu harfiah, dan bisa memberi pengertian keliru bagi orang di luar Dou Mbojo ( Orang Bima ).

    ReplyDelete

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top