Pada akhir abad ke-19, kepulauan nusantara bukan hanya menjadi ladang komoditas bagi kolonial, tetapi juga laboratorium raksasa bagi para ilmuwan dan para pelancong. Salah satu catatan yang paling provokatif datang dari Francis Henry Hill Guillemard, seorang naturalis asal Inggris yang berlayar dengan kapal pesiar Marchesa tahun 1882 masehi. Dalam bukunya yang terkenal, The Cruise of the Marchesa to Kamschatka & New Guinea With Notices of Formosa, Liu-Kiu, and Various Islands of the Malay Archipelago. Terbit pada tahun 1886, Guillemard menyajikan potret yang kontras dan sedikit mengejutkan mengenai kehidupan elit di Sumbawa.
Saat kapal Marchesa berlabuh di teluk Sumbawa pada sore hari bulan Agustus, namun teluk tersebut memberikan kebimbangan pada awak kapal mereka, dimana musim angin monsun sedang melanda areal teluk tersebut, dalam catatanya ia menulis :
Teluk Sumbawa, menurut pengalaman kami, memberikan perlindungan yang cukup baik, tetapi selama musim monsun barat, tempat ini pasti sangat tidak aman. Daerah sekitarnya sangat kering, dan sebagian besar pohon tampak gundul seperti saat musim dingin di Inggris. Tulisnya dalam catatan.
Guillemard dan rombongannya pada sore itu juga menepi ke darat, menariknya di desa pesisir Sumbawa mereka menemui seorang blasteran yang sangat cakap berbahasa melayu dan sedikit Belanda untuk membantu rombongan mereka, ia menulis :
Setelah mendayung ke darat, kami menemukan seorang blasteran bernama Omar, yang berbicara bahasa Melayu dan beberapa kata bahasa Belanda, dan tampaknya merupakan kepala desa.
Dengan diantar oleh Omar, rombongan Guillemard pergi menuju pusat kota Sumbawa untuk menemui sultan yang pada saat itu berkuasa adalah sultan Amrullah. Setelah menempuh perjalanan yang sangat lama akhirnya mereka tiba di salah satu kampung terdekat :
Tidak lama kemudian kami tiba di tempat yang disebut kampung Bugis, sebuah desa terpencil yang panjangnya hampir satu mil, yang berdekatan dengan kota Sumbawa. Desa ini seluruhnya dihuni oleh orang-orang Bugis, dan kami diberitahu bahwa hanya ada tiga orang Bugis di ibu kota itu sendiri.

Dua orang di Jawa sedang hisap opium (sumber wikimedia)
Begitu rombongan kapal Marchesa tiba di istana Sultan, namun sayangnya saat itu sultan sedang tidur, kemudian rombongan akhirnya diarahkan kerumah Datu Jereweh seorang pejabat kesultanan Sumbawa, yang dilihat oleh Guillemard sebagai seorang pecandu opium dan suka sampanye, ia menulis :
Omar pun membawa kami ke rumah Tungku Jirewi (Datu Jereweh). Rumah itu terdiri dari tiga kamar kecil, di kamar terluar, yang bersebelahan dengan balkon di kedua sisi tangga kayu, beliau menerima kami. Beliau bertubuh kecil, kurus kering hampir seperti kerangka karena menghisap opium, dan mengenakan sarung sutra dan baju berwarna cerah seperti biasa. Tulis Guillemard.
Diterima pada kediaman Datu Jereweh, jabatan atau gelar Datu Jereweh adalah pejabat kesultanan Sumbawa yang menguasai wilayah bagian barat Sumbawa. Kemudian rombongon di jamu makan sambil berbicara santai mengenai barang pusaka yang dimiliki oleh tuan rumah. Bagi mata Eropa, pertemuan ini adalah percampuran antara kemegahan Timur dan pengaruh gaya hidup Barat yang mulai merembes masuk. Dalam pengalamannya tersebut Guillemard menulis :
Setelah bicara (jamuan makan) panjang yang biasa dilakukan, kami meminta izin Tungku untuk makan di rumahnya, dan sementara itu beliau pergi ke ruangan sebelah, dari mana terdengar suara berbagai perempuan. Dari waktu ke waktu, mata mengintip melalui celah di dinding bambu, dan jelas bahwa kami sedang diperiksa dan dikritik secara bebas oleh para wanita harem, yang di pulau-pulau ini tidak memiliki kebebasan yang diizinkan bagi mereka yang berada di Sulu. Kami membawa beberapa botol sampanye, yang menurut pengalaman sejak lama memiliki kekuatan lebih besar daripada musik dalam menenangkan hati para penguasa Oriental, dan, mengabaikan Al-Quran, kami mengirimkan beberapa botol kepada tuan rumah dan para pengikutnya. Hal itu berhasil membuatnya meminta lebih banyak lagi, dan kami berhasil membujuknya. Tulis Guillemard dalam bukunya.
Seusai dari rumah Datu Jereweh, kemudian rombongan melanjutkan perjalanan untuk menuju ke istana sultan, dalam perjalanan menuju istana, Guillemard juga di buat heran dengan orang-orang dipasar yang selalu banyak wanitanya di banding laki-laki, memasuki halaman istana, rombongan kapal dibuat takjub dengan istana sultan :
Bangunan itu terbuat dari kayu berukuran cukup besar, dikelilingi tembok batu rendah dan gerbang ganda. Sekelompok kecil penjaga bersenjata tombak menempati pos penjaga bambu terbuka di dekat pintu masuk. Setelah masuk, kami menemukan tangga kayu panjang yang tertutup, yang kemudian membawa kami ke ruang penerimaan, sebuah aula besar dengan atap yang ditopang oleh pilar-pilar kayu besar, yang, seperti pintu-pintunya, dicat hijau cerah. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, dan terdapat lima atau enam layang-layang besar yang digantung di dinding, dibuat, seperti kebiasaan di sini, berbentuk burung. Di ujung ruangan terdapat bukti peradaban Eropa berupa meja dan beberapa kursi, di belakangnya terdapat rak-rak senapan flintlock dan senapan perkusi.
Guillemard mencatat bahwa istana bukan hanya pusat kekuasaan, tetapi juga tempat di mana tradisi lokal bersinggungan dengan barang-barang mewah dari perdagangan internasional. Salah satu pengamatan Guillemard yang paling mencolok adalah kesopnan sultan. Dalam catatannya, ia menggambarkan bagaimana Sultan dan para bangsawan di sekitarnya menyambut mereka sebagai bagian dari rutinitas protokol istana :
Sultan, yang hampir berusia tujuh puluh empat tahun, rupanya dulunya adalah pria yang tampan, dan sekarang sangat lucu mirip dengan seorang wanita tua Inggris yang ramah, kemiripan itu semakin diperkuat oleh gaya rambutnya yang beruban yang disisir ke samping menutupi telinga. Dia menerima kami dengan ramah, dan memberi tahu kami bahwa orang Inggris adalah orang-orang baik, dan bahwa Ratu mereka telah mengirimkan sebuah senjata kepadanya, yang dibawa untuk kami periksa. Karena jelas buatan Belgia, kami ragu tentang siapa pemberinya, tetapi tentu saja tidak membongkar kebohongannya. Teh, kue pisang, dan sejenis anggur disajikan untuk kami, dan tujuan serta alasan kami mengunjungi Sumbawa ditanyakan, meskipun dengan cara yang paling sopan.
Kembali pada persoalan peredaran opium abad 19 di Sumbawa, Dompu dan Bima. Bahwa penggunaan opium juga sebagai status sosial pada masa itu, opium sering kali dianggap sebagai barang mewah yang menunjukkan kedudukan tinggi. Monopoli Kolonial untuk distribusi opium di Nusantara kala itu memang dilegalkan dan bahkan dimonopoli oleh pemerintah Hindia Belanda melalui sistem Opiumregie.
Dalam perjalanan Guillemard di Sumbawa, ia memandang hal ini dengan campuran rasa ingin tahu dan kritik khas Victoria, melihatnya sebagai tanda "kemunduran" yang ia anggap umum di istana-istana Timur. Selain opium, Guillemard juga menyoroti kegemaran para petinggi istana terhadap sampanye (anggur) dan minuman beralkohol dari Eropa. Hal ini cukup unik mengingat Sumbawa adalah kesultanan Islam yang taat.
Namun, dalam sejarah diplomasi Nusantara, menyajikan sampanye atau minuman keras kepada tamu Eropa sering kali menjadi simbol keramahan dan upaya untuk sejajar dalam pergaulan internasional. Sultan tampaknya cukup mahir dalam mengakomodasi selera tamunya, sekaligus menunjukkan bahwa ia memiliki akses terhadap barang-barang impor yang mahal.
Perjalanan Guillemard di Sumbawa memberikan warna pada narasi sejarah kita. Ia memotret sebuah masa transisi, di mana seorang Sultan tidak hanya menjadi simbol agama dan adat, tetapi juga seorang kosmopolitan yang menikmati arus barang dari dunia luar.
Oleh :
Fahrurizki
Penulis Sejarah & Budaya
0 comments Blogger 0 Facebook
Posting Komentar