ADS

Di balik lanskap yang kondisi ekosistem hutannya rusak, perbukitan gersang pada musim kering dan pesisir teluk yang indah di ujung timur Pulau Sumbawa, tersimpan sebuah api semangat yang tak kunjung padam, warisan leluhur, namun jarang di kaji. Bagi masyarakat suku Mbojo (Bima), hidup bukanlah sekadar bertahan, melainkan sebuah perjuangan kehormatan. Semangat ini terangkum sempurna dalam sebuah pepatah kuno yang legendaris: “Su’u sa wau, sia sawale.” Budaya Bima kaya akan filosofi hidup yang mendalam, ungkapan-ungkapan ini bukan sekadar rima, melainkan fondasi moral dalam mengemban amanah.

Secara harfiah, ungkapan ini menggambarkan kegigihan fisik dan sikap tanggung jawab pada sebuah amanah, Su’u sa wau adalah menjunjung tinggi beban amanah sampai semampu kita mengembannya. Dan Sia Sawale, menahan resiko tugas hingga amanah yang diberikan selesai. Namun, di balik visualisasi rasa sakit fisik maupun psikologis tersebut, tersirat filosofi mentalitas yang menjadi jati diri orang Bima sejak zaman kesultanan hingga era modern.

Dua orang pria Bima yang sedang buat Dodol (sumber : Fahrurizki)

Bagi orang Bima, bekerja keras bukan hanya soal mencari materi, melainkan soal "Ngara" pantang untuk nama yang diremehkan sebagai harga diri. Menyerah pada keadaan atau bermalas-malasan dianggap sebagai aib besar. Su’u sa wau, sia sawale mengajarkan bahwa rasa lelah adalah teman dalam perjalanan menuju kesuksesan. Jika bahu belum melepuh dan leher belum pegal, maka perjuangan dianggap belum maksimal.

Kondisi geografis Bima yang cenderung panas dan memiliki curah hujan rendah membentuk karakter manusia yang "keras" dalam artian positif. Petani bawang merah dan pelaut Bima terbiasa bertarung dengan cuaca ekstrem. Pepatah ini menjadi bahan bakar mental saat mereka harus menghadapi gagal panen atau ombak besar, mereka akan tetap tegak berdiri hingga titik darah penghabisan, mereka ditempa untuk adaptasi terhadap alam yang keras.

Filosofi ini tidak berhenti di ladang atau laut. Saat ini, semangat Su’u sa wau, sia sawale tercermin dari tradisi “Loja” perantau Bima, banyak pemuda Bima yang merantau ke seluruh penjuru Nusantara untuk menempuh pendidikan atau bekerja dengan modal kegigihan tinggi. Profesor Affan Gafar, Harun Ar-Rasyid dan tokoh Bima di perantauan lainnya, adalah kristalisasi dari pepatah ini, yang melekat pada jiwa dan raga mereka sebagai bekal motivasi diri untuk mencapai harapan.

Edukasi orang tua di Bima rela melakukan apa saja (bekerja melampaui batas kemampuan) demi memastikan anak-anak mereka meraih gelar sarjana. Di kehidupan akar rumput, bagi orang tua di Bima ada dua tujuan hidup mereka yaitu “lao haji labo ka sakola ana” dua hal inilah yang dipegang teguh oleh orang tua sebagai ikhtiar dan janji, mereka hanya cukup naik haji dan menyekolahkan anak. Sekalipun mereka hanya hidup menggarap tanah sepetak dan beban diletakkan di atas kepala atau bahu, pantang bagi orang tua Dou Mbojo untuk melepaskannya di tengah jalan sebelum sampai ke tujuan. Ini adalah bentuk loyalitas terhadap janji.

Su’u sa wau, sia sawale adalah pengingat bahwa hasil yang manis hanya bisa dipetik melalui proses yang pahit. Ia adalah pesan bagi generasi muda Mbojo agar tidak manja oleh zaman, tetap memiliki daya tahan (resiliensi) yang kuat, dan memegang teguh integritas dalam bekerja.

Bagi masyarakat Bima, sejatinya integritas bukanlah barang mewah, melainkan identitas yang melekat sejak lahir. Salah satu falsafah hidup yang paling dijunjung tinggi dalam urusan tanggung jawab. Bagi para pemimpin Bima dahulu, filosofi ini menuntut mereka untuk bersikap adil. Memikul beban rakyat tidak boleh miring ke satu sisi harus seimbang agar tidak mencelakai yang dipikul maupun yang memikul.

Melanggar amanah bukan hanya soal kegagalan tugas, tapi soal merusak tatanan sosial dan spiritual yang telah diwariskan oleh leluhur, Menjunjung tinggi amanah dengan semangat Su’u Sawau, Sia Sawale adalah cara orang Bima menjaga kehormatan diri. Dengan memegang teguh prinsip ini, seseorang akan menjadi pribadi yang dipercaya, tangguh, dan memberikan manfaat bagi banyak orang.


Oleh :

Fahrurizki
Penulis Sejarah & Budaya 




Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

0 comments Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top