ADS

Nama Wera mempunyai khazanah yang kaya akan budaya, ritual dan mistisme. Sejak lampau, Wera juga dianggap sebagai tanah keramat, tanah tua yang masih menjaga eksistensi aura leluhur mereka, mempunyai jalan sejarah yang panjang dan menarik diulas dalam artikel sederhana ini, berbagai peristiwa dan tragedi sejarah di Wera memberikan kontribusi dalam narasi kesejarahan Bima, mulai dari perang Doro Cumpu hingga gendang keramat Waro Jali.

Rombongan Gendang Waro Jali tahun 1925 (sumber gahetna)

Masyarakat Wera terbagi dua etnis yang berbeda yaitu Dou Sangiang yang menempati areal pesisir, sedangkan Dou Wera yang menempati wilayah daratan dan Tawali sebagai epicentrum Wera secara keseluruhan. Komoditi Wera selain kuda yang mendiami daratan rumput, juga kerbau yang juga menjadi komoditas terbanyak dahulu.

Jika topiknya adalah Wera dalam ruang bincang masyarakat, pastilah dalam narasinya akan menyentil nama gunung Sangiang Api dan sihir. Dapat dipastikan nama Wera sudah ada sejak abad 17 masehi atau mungkin lebih tua, dalam Bo Sangaji Kai (BSK) nama Wera terkait perjanjian dengan Sultan Bima dalam perkara dijadikan Dou Maradika atau dimerdekakan dari segala macam pajak karena jasa mereka menolong sultan Abdul Kahir.

Loyalitas orang Wera dengan Sultan di tandai dengan simbolik adanya jabatan dalam struktur pemerintahan kesultanan dengan adanya Jena Mone Wera dan Anangguru Jara Wera. Dua jabatan ini mempunyai peranan yang cukup penting dalam mengatur ritual atau acara adat di Bima. Salah satunya Anangguru Jara Wera sebagai pemimpin kavaleri kuda kesultanan, selain tugas dalam kemiliteran Anangguru Jara Wera juga mengawal kuda-kuda pilihan yang di piara kesultanan di pulau Sangiang Api dan melatih kuda perang.

Dalam kegiatan adat Bima yaitu ritual kebesaran Hanta Ua Pua yang memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Ada satu gendang keramat yang didatangkan dari Wera, yaitu gendang Waro Jali, selama perjalanan dari Wera menuju Asi (istana), gendang itu di tabuh sepanjang perjalanan, para penabuh gendang turun temurun haruslah orang Wera yang ditugaskan sejak dahulu oleh sultan.  

Nama Wera juga akan menyentil sakralitas tanahnya, mistisme sangat berkembang pesat di kalangan masyarakatnya. Salah satu kisah yang paling mistis di Wera adalah cerita Karombo Wera. Karombo Wera adalah sebuah gua yang dimana menurut kisah mereka bahwa ujung dari gua tersebut bisa tembus sampai di Mekkah. Legenda gua ini hingga berkembang menjadi budaya masyarakat setempat sebagai media komunikasi promosi wisata. Namun di balik kisah ini, menurut penulis pasti ada sesuatu peristiwa bencana alam yang pernah terjadi, latar belakang cerita rakyat yang muncul pada kolektif masyarakat adalah metode trauma healing pada masa silam.

Cerita Karombo Wera ini juga mempunyai versi yang lain, cerita tua yang di catat oleh Rouffaer sekitar tahun 1911. Menurut cerita orang Bima dahulu, tanah Wera memanjang dari dataran ini, yang menurut mereka, bercabang dari lorong bawah tanah, sebagian tembus ke Sangiang dan sebagian ke Gili Banta. Sebuah pantai seberang Sangiang bagian barat daya dekat Torowaro (Noorduyn : 1987 : 82).

Munculnya cerita Karombo Wera, apakah ada kaitannya dengan gempa bumi akibat Sangiang Api pada bulan Mei tahun 1911? dimana suara gemuruh bawah tanah terus terdengar oleh orang Wera selama enam hari bagaikan ada sebuah lorong yang tersambung,  kejadian tersebut di beritakan oleh koran Algemeen Handelsblad edisi 3 Mei tahun 1911 :

Para kepala suku di Pulau Sangiang memberi tahu kepada Gubernur Sipil Bima bahwa dinding kawah utara gunung berapi tersebut telah retak akibat gempa bumi pada tanggal 8 bulan itu, dan bahwa mereka telah mendengar gemuruh bawah tanah yang terus menerus sejak tanggal 13. Namun, para kepala suku ini tidak bersedia menetap sementara di Wera, karena mereka yakin memiliki perahu yang cukup untuk membawa seluruh penduduk ke sana dengan segala risiko.

Gunung Api atau lebih dikenal, Sangiang Api. Pulau ini pada masa silam berpenduduk sekitar 300 keluarga (sekitar tahun 1850) dan diperintah oleh kepala suku yang dipanggil Dalu, yang tinggal di Wera. Pulau Sangiang menghasilkan sekitar 60 pikol kapas, yang ditukar di Bima dengan beras dan kebutuhan lainnya. Makanan pokok penduduknya adalah jagung dan labu, pulau ini juga digunakan oleh para Ruma (pejabat istana) sebagai tempat pengasingan bagi para penjahat, yang dihukum hanya untuk jangka waktu tertentu.

Selain pulau Sangiang sebagai tempat pengasingan kesultanan Bima untuk menghukum penjahat, juga pulau Komodo sebagai tempat pembuangan penjahat kelas kakap, pulau Komodo yang pada saat itu masuk dalam daerah kekuasaan kesultanan Bima. Pulau Komodo, tempat para penjahat kelas kakap diasingkan seumur hidup oleh para Ruma. Pulau ini memiliki kota utama atau negeri, yang juga menyandang nama pulau tersebut, dengan populasi yang dilaporkan sekitar 100 jiwa, yang berada di bawah kekuasaan seorang Dalu. Pulau ini terkenal dengan banyaknya rusa yang ditemukan di sana, daging hewan-hewan ini diolah menjadi dendeng, yang diekspor ke Bima dan dijual di sana (Francis :1856 :135).

Dalam tuturan lisan orang Wera mengenai Wadu Sandaka, sudah menjadi konsumsi obrolan mereka dalam keseharian, legenda Wadu Sandaka tetap hidup di kalangan berbagai generasi, turun temurun tetap di tuturkan. Cerita Wadu Sandaka dan Ompu Roti bertautan dengan sejarah pelarian Ma Bata Wadu anak dari Raja Ma Ntau Asi Sawo saat terjadi perang saudara perebutan tahta kerajaan Bima tahun 1620. Ma Bata Wadu ditolong oleh orang Wera untuk melawan Raja Salisi. Pertempuran tersebut dikenal dengan perang Doro Cumpu.

Kemudian Ma Bata Wadu dilarikan ke pulau Sangiang Api, karena disana sudah ada kapal yang menunggu untuk menuju Makassar (kerajaan Gowa). Menurut penuturan orang Sangiang, bahwa Ma Bata Wadu sudah dilindungi oleh Wadu Sandaka dengan apinya, oleh karena itu pasukan Raja Salisi yaitu paman dari Ma Bata Wadu tidak dapat menyerang rombongan Ma Bata Wadu yang kemudian hari menjadi sultan pertama Bima di kenal dengan nama Abdul Kahir Ma Bata Wadu.

Nama Wadu Sandaka mempunyai arti yaitu Batu Penopang, secara harfiah Wadu Sandaka adalah batu pelindung orang Sangiang, melindungi komunitasnya dari gangguan orang jahat maupun sihir. Batu ini terletak di tengah perkampungan lama Sangiang di Toro Joro, terletak di sebelah rumah Dalu, sayangnya, penulis tidak bisa menuju lokasi batu tersebut, karena jadwal kapal rombongan harus segera balik ke Desa Sangiang Darat.

Dari kisah orang Sangiang bahwa dahulu Wadu Sandaka sangat keramat dan mempunyai aura sihir yang kuat, orang Sangiang percaya bahwa batu itu adalah pengendali api, seperti arti namanya sebagai penopang dan penolong, jika ada salah satu orang Sangiang tersakiti atau di tipu, maka api Sangiang akan dikirim menuju rumah orang yang telah menyakiti orang sangiang tadi, rumahnya akan terbakar habis hingga rata dengan tanah.

Memang nama Api Sangiang atau oleh orang Bima dikenal dengan nama “Afi Sangia” sangat terkenal akan sihirnya, Api ini konon katanya tidak mampu di siram dengan air, hanya bisa menunggu padam dengan sendirinya saat ayam berkokok pada subuh hari. Wadu Sandaka sejak era kesultanan, orang istana mempunyai tugas tiap tahunnya yaitu mengganti kain penutup batu tersebut. Para sultan dan keturunannya mempunyai tugas untuk menyediakan kain penutup di saat orang Sangiang menuju istana untuk melaporkan kondisi kain yang sudah usang atau sobek.


Oleh Fahrurizki

Penulis Sejarah & Budaya



Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

0 comments Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top