Suara Lira terdengar diantara lorong gang Desa Sangiang, semakin mendekati suaranya semakin keras. Lira warna hitam yang kuat terbuat dari perut pohon asam pegunungan  berfungsi untuk merapatkan benang-benang tenunan yang akan dibuat kain, dimana kain tersebut untuk Tembe (Sarung), Kababu (Baju) dan lainnya. Masih penasaran darimana asal suara Lira tersebut, ternyata suara itu berasal dari kolong rumah panggung salah satu rumah warga dimana tampak terlihat seorang wanita tua yang sedang asik menarik Muna (alat tenun), ketika saya menghampiri, sejenak dia menghentikan aktifitasnya, dengan senyumannya yang ramah dia menyambut kedatangan kami di tempatnya.

Foto Ina Arwae sedang menenun Weri Lanta

Namanya Ina Arwae asli dari Desa Sangiang, Bima, Nusa Tenggara Barat. Ina Arwae salah satu generasi yang tetap meneruskan tradisi leluhurnya Dou Sangiang, dia sudah belajar menenun sejak kecil, keahlian diturunkan oleh ibunya, Ina Arwae sedang menenun kain putih, dia sebut “Weri Lanta” atau kain kafan dimana benangnya dari kapas yang memang ditanam oleh Dou Sangiang sejak dulu di pulau keramat Sangiang Api, pulau seberang tempat asal muasal mereka berasal dahulunya, letaknya persis sebelah timur desa. Weri Lanta biasa ditenun oleh para wanita tua, sebagai interprestasi untuk mempersiapkan kafan mereka ketika ajal tiba.

Memang sejak dahulu tradisi menenun orang Sangiang sudah dilakukan, terbukti dari catatan seorang pelaut asal Portugis bernama Tome Pires pada abad 15 masehi, dia menulis, di Sangiang salah satu komoditi yang dijual adalah kain kasar. Letak pulau Sangiang Api memang sangat strategis terletak  ditengah jalur perdagangan laut pada era kejayaannya, menjadi gerbang perdagangan di Timur. Setelah pulaunya  meletus dahsyat kesekian kalinya, sekitar tahun 1980-an akhirnya mereka di ungsikan ke seberang pesisir  wilayah Wera hingga kini dikenal dengan istilah Sangiang Darat. 

Kembali lagi pada soal tenun, selain menjadi tradisi turun temurun wanita sangiang, tenun juga adalah cara mereka membunuh kesepian ketika para lelakinya (suami) pergi untuk Loja yaitu mencari nafkah di pulau-pulau seberang. Tradisi Loja memang sudah dilakoni para pria Sangiang sejak lampau, mereka pergi untuk Loja paling lama dua tahun dan paling cepat setahun. Oleh sebab itulah menenun sudah mengakar pada nadi kehidupan wanita Sangiang hingga kini, antara menenun untuk nafkah juga persediaan rumah tangga. Wajib setiap rumah di desa ini mempunyai alat Muna (alat tenun) yang diletakkan dibawah kolong rumah mereka.

Weri Lanta juga mempunyai proses pembuatan yang sangat lama, jika dilakukan secara tradisional. Lebih awal yang harus dilakukan ialah dimana untuk mengambil kapas mereka harus menyeberangi laut menuju pulau Sangiang Api, untuk menyeberang biasanya mereka menaiki Sope yaitu perahu layar untuk pulang pergi. Setelah kapas dipetik kemudian kapas di jemur sambil dipukul hingga betul-betul mengering selama satu hingga dua hari lamanya. Lalu kapas kering dipintal hingga menjadi benang, selama dua hingga empat hari, setelah sudah menjadi benang atau oleh orang Bima menyebutnya Kafa Nae, kemudian di jemur lagi, proses yang sangat panjang ini, mulai dari mengambil kapas, memintal hingga menenun yang kelak hasilnya untuk membungkus jenazah mereka. Namun kini sudah banyak wanita Sangiang meninggalkan proses tersebut dikarenakan sudah adanya benang jadi yang dijual di pasar, syukurnya masih ada beberapa yang tetap melakukan proses pemintalan tradisional tersebut di Sangiang, salah satunya Ina Arwae.

Pembuatan Weri Lanta (kain kafan) kini juga ikut tergerus oleh zaman, seperti halnya penyediaan benang yang mudah dibeli dalam pasar, juga kafan kini sangat gampang didapat dalam pasar dengan harga sangat murah. Namun masih juga terdapat yang masih membuat Weri Lanta, mereka percaya bahwa ritual pemintalan Weri Lanta seperti kehidupan, yang harus dilakukan dengan sebuah proses, mulai dari kita dilahirkan hingga di wafatkan, seperti halnya membuat kafan tenunan sendiri yang juga butuh proses untuk melatih pribadi diri dengan penuh kesabaran dalam kehidupan hingga menghadap Sang Khalik. 

 

Oleh : Fahrurizki

 

   

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top