Kitab Nurul Mubin karya dari Ibnu Asj-Sjarif Alwi As-Sajjidul Allamah Asy-Syarif Ibnu Bakri Al Arif Billahi Taala Asy-Syarif Husain Bafaqih Al Alawi Al Husain Asy-Syafi`I Al Asy-Ari Al Ghazali Al Hudrami Minattariym. Sebuah kitab yang mengulas dua kalimat syahadat berisi 260 halaman dengan ukuran  16 cm x 10 cm. Nurul Mubin mulai disunting dan tercatat pada era Sultan Abdul Hamid (1773-1817) dari peninggalan Sultan Abdul Kadim (1751-1773), penyebaran kitab Nurul Mubin atau Nur al Mubin pada masyarakat Bima atas perintah Sultan Abdul Hamid pada tanggal 20 Rajab 1200 Hijriyah (19 Mei 1786 Masehi) pada hari Sabtu jam sembilan pagi, berbagai kitab karya yang dibuat atau berasal dari istana intens disebarkan untuk mewarnai dan mengisi ajaran-ajaran Islam masyarakat.

Naskah Kitab Nurul Mubin atau Nur al-Mubin koleksi Museum Samparaja

Sudah empat abad kitab Nurul Mubin menjadi pegangan masyarakat Bima dalam persoalan Syahadat. Tidak hanya versi tulisan jawi (arab melayu), Nurul Mubin juga disunting dengan bahasa malaju (Indonesia) atas perintah Sultan Muhammad Salahuddin seperti juga yang dilakukan oleh sultan-sultan terdahulu. Kitab Nurul Mubin dalam versi bahasa malaju di sunting oleh seorang Khatib istana bernama Haji Usman pada hari senin tanggal 9 bulan Ramadhan 1358 Hijriyah (23 Oktober 1939) dengan judul “Kitab Noeroel Moebin Pada Menjatakan Itiqad Doea Kalimat Sjahadah.” Pada versi tersebut sudah di sunting oleh Khatib Haji Usman menjadi 19 halaman yang dimana aslinya berisi 260 halaman.

Dalam kitab Nurul Mubun menegaskan betapa wajibnya kitab ini untuk mengisi pengetahuan keagamaan masyarakat Bima, terlebih risalah dua kalimat syahadah. Dalam kitab di tulis sebagai berikut :


“Maka sekarang aku menyatakan bagimu yang demikian dalam risalat ini dan kunamai dia Nurul Mubin Fi I`tiqad yang sebenar-benarnya karena fardlu atas tiap-tiap laki-laki dan perempuan yang Mukallaf mengenal akan Tuhannya dan mengenal akan pesuruhnya” (Nurul Mubin : 4 : 1939).


Tidak hanya Nurul Mubin juga berbagai kitab lain diajarkan dikalangan masyarakat oleh istana, seperti kitab “Kakidi ro Kahoso kai Sambea” yang berarti kitab untuk mendirikan dan sholat khusyuk, kitab yang ditulis pada era Sultan Abdul Kahir ini juga sering disalin oleh para Lebe untuk pengarajan Islam di kalangan masyarakat Bima. Pada 2 Juli 1877 Masehi seorang ulama dengan gelar Guru Lebe Sape bernama Idris, menyalin dan menyebarkan kitab tersebut pada era Sultan Abdul Aziz. Perkembangan Islam di Bima pada abad 18 berada pada puncak kegemilangan Islam di Pulau Sumbawa khususnya penyebaran Islam ke Dana Mbojo (Bima) sangat masif dilakukan oleh para Mufti maupun Lebe yang diutus kepelosok-pelosok desa.

Sistem penyebaran Islam di tanah Bima dilakukan dengan cara mengutus para Lebe, kata Lebe berasal dari kata melayu Lebai (ahli agama) di Bima mereka dikenal sebagai para Ulama yang sudah terdidik dan terlatih. para Lebe dipimpin oleh seorang Lebe Dala(m) dan membawahi Lebe Nae yang juga kadang disebut kelebean. Mereka juga mempunyai tugas menyalin dan menyebarkan kitab-kitab. Tidak hanya mengajarkan agama di Bima, para Lebe ini disebar juga di pelosok-pelosok Flores dan Sumba untuk menyebarkan ajaran Islam. Tahun 1935 Lebe Nae Ngali Haji Said mengislamkan masyarakat Donggo yang hidup di atas pegunungan Soromandi dan sekitarnya dengan mengajarkan iktikad kitab tersebut.

Kembali lagi pada kitab Nurul Mubin, berisikan itikad dua kalimat Syahadat daalam kesempurnaan ke-Islaman Ahlul Sunnah Wal Jama`ah. Bagi orang Bima, budaya mereka adalah Islamiah “Mori ra made na Dou Mbojo ede kaiku hukum Islam” hidup dan matinya orang Bima sudah di atur dalam Islam. Budaya tersebut juga di manifestasikan kedalam kitab Nurul Mubin diproduksi dan diperbanyak lagi oleh percetakan Siti Sjamsijah Solo dengan biaya Sultan dan diwakafkan bagi masyarakat Bima.

Nama Nurul Mubin menjadi ikon keagamaan masyarakat Bima kemudian nama tersebut  dipergunakan untuk nama-nama Musholla dan Panti Asuhan. Musholla Nurul Mubin di Desa Runggu misalnya, nama tersebut menginspirasi Almarhum Haji Muhammad Said ketika pembangunan Musholla selesai tahun 1974, beliau memberikan nama tersebut seperti nama Kitab Nurul Mubin untuk menjadi penerang dalam ke-Islaman masyarakat Bima. Pada Musholla tersebut selepas Maghrib sering diadakan kajian agama setiap hari dan tempat pengajaran Al-Qur`an sebelum dipindahkan ketempat yang lebih luas rumah keluarga Haji Said. Bukan hanya Musholla juga Nurul Mubin menjadi nama panti asuhan di Kota Bima yang juga terinspirasi dari kitab tersebut, oleh Muhammad Saleh (Muma Sile) memberikan nama panti asuhan yatim piatu dengan nama kitab tersebut agar menjadi penerang keilmuan bagi anak-anak asuhnya.     


Oleh : Fahrurizki



Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top