Rusdin atau biasa di panggil oleh masyarakat Sambori dengan nama lokalnya Ama Jaju, salah satu seorang pendendang syair Barzanji di desanya. Minggu siang itu (6/9/2020), Sambori sedikit panas dari biasanya, salah satu desa yang terkenal akan cuaca dinginnya pegunungan Lambitu. Saat tiba di rumah Ama Jaju, sanak keluarga beliau sedang berkumpul, dimana tengah mempersiapkan segala macam rempah dan perlengkapan dapur untuk memasak hidangan acara Barzanji nanti malam, kebetulan yang mempunyai hajatan adalah Ama Jaju sendiri.

Ama Jaju sedang membuka kitab Barzanji miliknya.
 

Acara Barjanzi dilakukan saat ada keluarga yang akan membangun rumah, sebelum pagi hari memulai pembangunan, malamnya Barzanji dilantunkan hingga tengah malam kadang sampai waktu subuh. Sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat Desa Sambori melantunkan syair tersebut ketika ada pembangunan rumah. Bukan hanya itu, juga Barzanji dilantunkan ketika acara cukur rambut bayi, khitanan dan juga hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Ama Jaju selalu dipanggil untuk mendendangkan Barzanji atau Marhaba tersebut. Oleh masyarakat Sambori sendiri menyebut Barjanzi dengan istilah Marhaba (Marhaban).

Sambori bukan hanya tentang kabut gunung dan mitos para leluhur, juga mengenai sosio religius masyarakatnya sangat kental dengan islamisasi oleh kisah Sehe Subuh. Nama Sehe Subuh merupakan nama seorang mufti Kesultanan Bima era Sultan Alauddin Muhammadsyah (1731-1748) yang berkuasa pada pertengahan abad 18 masehi, dia memilih dakwah bergerilya ke pedalaman dan pegunungan Bima, hingga sampailah dia di Sambori dan mensahadat dan mengajarkan Islam. Dalam pemanggilan kultur masyarakat Bima, untuk seorang ulama biasanya di panggil Sehe yang berasal dari kata Syekh. Jika dia mempunyai jabatan di istana sebagai Mufti atau Khatib maka dipanggil Ruma Sehe yang artinya Tuan Syekh.

Kisah Sehe Subuh sangat populer pada lintas generasi di Sambori, hingga mereka mengatakan ada keturunannya dari Sehe Subuh di Sambori. Praktek-praktek ritus Islam Sambori seperti halnya desa-desa lain di Bima, yang membedakannya hanya satu yaitu praktek Barzanji, hingga kini masih di lantunkan dan di wariskan dari generasi ke generasi. Lantunan Barzanji mereka juga sangat berbeda dengan daerah-daerah lainnya, lago atau langgemnya sangat menunjukkan suara khas lembah Sambori, sama halnya lantunan Belaleha dan Kalero. Berikut beberapa bait syair Barzanji :

Marhaban ya Marhaban
Marhaban Jaddalhusaini marhaban
Misylahus nikmaa ro ainaa
Quth thuyaa wajhassuruuri

Angtanuu rungfauqonuri
Angta iksiiruwwagholii,
Angtamish baahush shuduuri
Yaa habiibii yaa muhammadu,

Ketika mendendangkan Marhaba (Barjanzi), Ama Jaju sangat mendalami tiap kata yang keluar dari mulutnya. Ketika menyebut Ya Nabi Salamu Alaika nada atau lago di panjangkan hingga kedengarannya sangat merdu dan indah. Juga tiap orang pendendang Marhaba di Sambori mempunyai irama khas yang berbeda-beda. Misalkan selain Amam jaju, pendendang lainnya tidak mengikuti irama seperti Ama Jaju namun dia mendendangkan irama yang berbeda sesuai karakter suara mereka.


Oleh : Fahrurizki



0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top