Pagi hari suasana Sambori Baru sedikit ramai dari biasanya, berhubung hari Minggu (6/9/2020), pada sisi kiri jalan sebelah selatan kantor Desa terlihat ramai oleh para pedagang sedang menjajakan dagangan mereka hanya beralaskan karung kusam. Rencananya hari ini menelusuri jejak-jejak leluhur orang Bima yaitu sebuah situs kuno disebut Bungke atau kuburan batu, peninggalan Paganisme leluhur masyarakat Sambori.
 

Bungke atau Watu Ruka di Bhuju Naru Desa Sambori

Sejak dimulainya penulisan sejarah hingga kini, peninggalan pagan hanya permukaannya saja yang terekspose belum keseluruhannya, misalkan mengenai kepercayaan lokal saja banyak di tumpuk oleh lembaran sejarah Agama Hindu-Budha dan Islamisasi. Hingga detik inipun kepercayaan lokal belum semuanya di kaji lebih mendalam sehingga banyak memunculkan spekulasi argumentasi yang keliru dan tidak mendasar. Secara garis besar orang Bima lebih menyebut kepercayaan pagan leluhur dengan nama Parafu ro Waro. Dimana era Paganisme merupakan awal terbentuknya peradaban para leluhur Orang Bima.


Kini peninggalan jejak awal peradaban itu masih bisa dilihat yaitu Bungke terdapat di areal pegunungan Bhuju Naru, Desa Sambori. Untuk menuju lokasi tersebut, bisa menggunakan sepeda motor atau jalan kaki, dengan kondisi jalan setapak yang berbatu dan berdebu. Bungke sebuah kubur batu kuno, yang diperkirakan sisa dari peninggalan era Ncuhi sebelum Kerajaan Bima terbentuk pada abad 13 masehi. Nama Bungke sendiri sangat beragam, namun biasanya para orang terdahulu menyebutnya Watu Ruka yang berarti Watu adalah Batu sedangkan Ruka adalah Rumah. 


Kubur batu yang menggunakan Watu Ruka adalah kuburan para tetuah yang mempunyai jabatan penting dalam satu komunitas Ncuhi, masyarakat dahulu meyakini bahwa roh para tetuah mereka bersemayam diatas atap Watu Ruka tersebut (lihat Johannes Elbert dalam bukunya Die Sunda Expedition). Sedangkan untuk roh suci para Ncuhi (ketua komunitas) masyarakat Bima dahulu meyakini, bahwa roh tersebut bersemayam di atas Bhuju atau puncak gunung. Menyinggung nama Bhuju, dari sinilah cikal bakal nama Mbojo yang di ambil dari kata Bhuju artinya tinggi (puncak) oleh para juru tulis istana mempopulerkannya dengan kata Dana Mbojo.


Posisi Watu Ruka mempunyai ciri khas yaitu “Awa Maipu Bhuju” yang artinya terletak di punggung pegunungan. Begitupun sebaran-sebaran Watu Ruka lainnya yang terdapat di pegunungan Ntori di Wawo terletak pada punggung gunung Ntori, lalu di Desa Teta yang juga terletak pada punggung gunung. Untuk Wawo ada satu bongkahan kubur batu di letakkan di bawah auditorium, oleh masyarakat disana mempercayai bahwa sejak dulu kuburan batu tersebut sudah di letakkan pada tempat tersebut, jika di pindahkan akan terjadi sesuatu. Untuk Watu Ruka di Desa Teta mereka menyebutnya Uma Sakola karena bentuknya mirip rumah sekolah kata salah satu warga yang membuka lahan jagung tepat di samping Uma Sakola tersebut.  


Ukuran kubur batu Bungke di Sambori dengan panjang 60 cm dan lebar 50 cm, tingginya 35 cm dengan diameter 200 cm. Pada ukiran tiang Bungke terdapat 13 tiang dan 10 kolom kotak yang melingkarinya. Ukuran Uma Sakola dan kuburan batu Wawo lebih besar dari Bungke, sedangkan yang di Wawo batunya tampak berbeda, berwarna kuning seperti warna batu sandstone. Sedangkan kuburan batu Uma Sakola dan Bungke terbuat dari batu gunung. Biasanya samping Watu Ruka terdapat sebuah wadah untuk air, juga dengan berbagai ukuran, untuk ukuran di Sambori dan Teta mempunyai kesamaan ukuran sedangkan di Wawo di atas pegunungan Ntori, mempunyai ukuran yang sangat besar lebih mirip seperti gentong. Wadah tersebut juga disebut Parafu tempat dimana air suci diletakkan sebelah kuburan batu tersebut. Nama Watu Ruka pun diberikan pada salah satu dusun di bagian selatan teluk Waworada yaitu dusun Waduruka, karena juga terdapat satu kuburan batu pada tempat tersebut. 


Banyak sebaran yang ditemukan untuk peninggalan Watu Ruka terdapat di garis lintang pegunungan bagian timur teluk Bima, sedangkan pegunungan bagian barat teluk banyak ditemukan dari sisa peninggalan Hindu. Dari sini kita bisa menganalisa bahwa bagian timur teluk pengaruh Hindu tidak begitu dominan berkembang pada masyarakat Bima dahulu. Kemungkinan besar kepercaayaan yang di anut masyarakat pegunungan  bagian timur teluk masih kepercayaan pagan leluhur mereka. Untuk masyarakat bagian barat teluk di sebut Donggo Di sedangkan masyarakat bagian timur teluk di sebut Donggo Ele. Tidak hanya mempunyai Tipologi yang berbeda antara Donggo Di dan Donggo Ele, juga mereka mempunyai bahasa tersendiri yang berbeda dengan bahasa Bima daratan pada umumnya.


Namun dibagian masyarakat Donggo Di ada satu komunitas tersendiri yang masih menerapkan Paganisme leluhur mereka disebut Dou Mbawa. Menariknya di Mbawa kini tidak hanya Paganisme leluhur yang masih di terapkan juga berkembang kepercayaan Abrahamik yaitu dua agama besar Kristen dan Islam. Dalam satu rumah keluarga masyarakat Mbawa hidup dua keyakinan, misalkan orangtuanya Kristen dan anaknya Islam, biasanya mereka Islam ketika menikah dengan seorang dari keluarga Islam. Hingga kini para tetuah di Mbawa masih menerapkan Paganisme seperti Raju dan Numpu Karodo, dua ritual yang berhubungan dengan bercocok tanam.


Juga dalam ritual-ritual tersebut mereka masih bersenandung syair-syair suci lama dari para leluhur seperti Kasaro, Kalero dan Belaleha. Tidak hanya di Mbawa, juga masih disenandungkan juga oleh masyarakat Donggo Ele seperti di Tarlawi, Teta dan Sambori. Khusus Belaleha kini hanya disenandungkan oleh masyarakat Sambori. Agama-agama besar telah merubah kepercayaan mereka terhadap kepercayaan leluhurnya, namun kisah-kisah para leluhur mereka masih tetap di dendangkan.       


Oleh : Fahrurizki



0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top