Kabupaten Sumbawa salah satu daerah di Nusa Tenggara Barat yang mempunyai ragam seni ukir maupun seni kaligrafi yang sangat tinggi dan sarat akan kearifan para leluhur mereka, terus berkembang dalam tradisi masyarakatnya hingga kini, latar sejarah karya- karya ornamen berkembang pada Pulau Sumbawa yang dimulai dengan berkembangnya peradaban Islam di Bima dan Sumbawa pada pertengahan abad 17 masehi, asimilasi kebudayaan Islam pada pulau ini datang melalui 3M yaitu Melayu, Makassar dan Mekkah. yang diperkenalkan oleh para ulama Nusantara lulusan tanah Hijaz.

Ornamen Islam salah satu ornamen yang sangat berpengaruh dalam perkembangan motif tradisional. Bukan hanya ornamen beberapa asimilasi kebudayaan Islam yang sangat menonjol dalam keseharian masyarakat di Pulau Sumbawa adalah Batedung dan Rimpu, menjadi identitas perempuan disana, implementasi Islam yang terdapat pada pakaian juga masih bisa dilihat hingga kini. Bukan hanya pakaian juga ornamen-ornamen itu sudah menjadi identitas kebudayaan mereka. 

Mushaf salinan Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Bugisi (Sumber : Ali Akbar)

Pusuk Suar Seli merupakan motif yang terdapat pada iluminasi penulisan Mushaf Al-Qur`an Kesultanan Sumbawa, sebelum berkembangnya motif atau ornamen tersebut pada lingkungan masyarakat Samawa (nama lain Sumbawa), perkembangan awalnya datang dari lingkungan para Ulama yang belajar di Hijaz (Mekkah) lalu membawanya pulang ke Nusantara, dan di negeri asal mereka pertama kali berkembang di lingkungan Istana. Kenapa awal kali akulturasi budaya harus di mulai lingkungan istana. Menurut  Koentjaraningrat bahwa proses akulturasi bisa mulai dalam golongan atas yang tinggal di kota, kemudian menyebar ke golongan-golongan yang lebih rendah di daerah pedesaan. Proses semacam ini biasa di mulai dari perubahan sosial ekonomi. 

Akar Budaya Datangnya seni iluminasi Mushaf awal terlacak dari seorang ulama asal Bugis yang tinggal di Sumbawa bernama Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Bugisi pada tahun 1785, hidup pada era Sultan Harun A Rasyid II (1780-1791) yang berkuasa di tanah Samawa pada tahun itu. Salinan Mushaf Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Bugisi ini kaya akan warna, perpaduan antara warna merah, biru, hijau dan warna emas, di tulis pada kertas eropa (Akbar : 2011 : 7). Seorang seniman ukir Sumbawa yang bernama Ucup Satoana menjelaskan ornamen-ornamen pada mushaf Syekh Muhammad Al-Bugisi, bahwa pada puncak mushaf terdapat motif Suar Seli dan motif yang terdapat pada pinggir mushaf yaitu Lonto Engal, merupakan asimilasi gaya ornament Melayu serta Utsmaniyah (Turki), katanya. 

Menyinggung tentang Utsmaniyah, seorang Ulama Sumbawa bernama Ibrahim Al-Sambawi nama lengkapnya Ibrahim Al-Khulusi bin Wudd Al-Sambawi merupakan seorang ahli kaligrafi tersohor di Mekkah, dia hidup pada paruh abad 19 masehi, yang di tugaskan oleh Syarif Mekkah kala itu sebagai penyalin surat-surat yang akan di kirim ke Istanbul (pusat pemerintahan Utsmaniyah). Keindahan dan gaya huruf penulisan yang rapi oleh murid-murid beliau menyebutnya gaya surat Istanbul. Salah satu karya monumentalnya adalah kitab Mawlid Syaraf Al-Anam, sebuah kitab yang menceritakan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan kumpulan sholawatnya.

Kaligrafi dan ornamen dalam kitab Mawlid Syaraf Al-Anam menggunakan aksara arab bercorak tsulutsi dan perpaduan hiasan ornamen Turki dan Nusantara dengan menggunakan warna emas, biru dan merah. Tidak begitu banyak catatan mengenai kehidupan Syekh Ibrahim di tanah kelahirannya, hingga beliau wafat pada tahun 1860 masehi.

Kemudian ahli-ahli mushaf dan penyalin lainnya di Kesultanan Sumbawa juga ada Syekh Abdurrahman Al-Sambawi atau nama lengkapnya Abdurrahman bin Ayub bin Abdul Bagi Al-Sambawi. Beliau hidup sekitar awal paruh abad 19 masehi juga, mushaf yang beliau salin selesai pada hari kamis 19 April 1838 (Akbar : 2011 : 7), dilihat dari tahun tersebut masuk pada era Sultan Lalu Mesir (1837-1843) anak dari Sultan Muhammad Kaharuddin II (1795-1816) yang meninggal karena infeksi paru-paru akibat debu letusan Tambora. Pada iluminasi mushaf yang disalin syekh Abdurrahman Al-Sambawi juga menggunakan ornamen pucuk suar seli dengan warna biru, merah dan emas.

Transformasi kesenian Islam kedalam kehidupan masyarakat Samawa menjadi sebuah pondasi yang kuat hingga mengakar kedalam kebudayaan mereka terutama yang paling menonjol adalah ukiran-ukiran yang terdapat dalam istana tua Dalam Loka. Perjalanan ornament-ornamen Islam di tanah Sumbawa melalui proses kembalinya para Ulama yang belajar di Mekkah. Salah satu Mushaf yang disalin di Mekkah oleh Syekh Abdurrahman bin Musa Al-Sambawi pada tahun 1864, merupakan bukti berkembangnya jaringan Islam di Sumbawa melalui Mekkah. 

Warna-warna dalam Islam

Pewarnaan iluminasi mushaf bukan hanya pewarnaan yang sesuai estetika warna bagus untuk dilihat, namun juga sesuai dengan pemilihan warna yang tertera dalam Al-Qur’an. Misalnya dalam surat Yaasiin ayat ke-80 Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menjadikan kayu berwarna hijau yang melambangkan kesuburan, keindahan dan kenyamanan. Lalu warna Biru yang disebut Surat Thaaha ayat 102, biru merupakan warna ilustrasi yang menggambarkan akhirat. 

Dan warna merah yang disebut dalam Surat Al-Insyiqaq ayat 16, dalam ayat tersebut merah adalah cahaya yang kuat. Sedangkan warna emas tidak disebutkan dalam Al-Qur`an, menurut beberapa pendapat tradisi penggunaan warna emas yang menggantikan warna kuning (kuning disebut dalam Al-Qur`an) sejak perkembangan peradaban Dinasti Umayah di Andalusia. Warna kuning adalah warna emas menggambarkan sebuah kebaikan (Risalah : majalah da`wah Islamiyah 39).

Kearifan dalam Ornamen Sumbawa

Hingga kini iluminasi bertransformasi kedalam kesenian Islam yang berkembang dilingkungan masyarakat Tau Samawa. Ragam hias ornamen banyak di dapati pada rumah-rumah tradisional di ukir ornament Suar Seli dan ornament lainya. Ornamen yang awalnya hanya berkembang pada seni iluminasi mushaf lingkungan istana, kini menjadi identitas kebudayaan Sumbawa, semua terimplementasi kedalam keseharian mereka salah satunya adalah pakaian.

Seorang budayawan Sumbawa Bapak Haji Hasanuddin menjelaskan mengenai ornamen dan nilai kearifannya pada pandangan masyarakat Sumbawa. Pada iluminasi mushaf  Syekh Muhammad Al-Bugisi terdapat beberapa ornamen dan nilai kearifan menurut Bapak Haji Hasanuddin, yaitu ada empat motif pada iluminasi bagian atas motif Bua Nanas adalah symbol dari kekuatan, perlindungan dan kewaspadaan dalam rasa kemanusiaan yang hakiki, jelasnya.

Kemudian pada bagian pinggir musaf ada motif Panisir atau Umbak merupakan hiasan repititif seperti halnya Lonto Engal bermakna tentang kontinuitas dan kesinambungan dalam daur hidup. Sedangkan ornamen iluminasi bagian tengah mushaf yang beri warna hijau yaitu motif Salimpat merupakan simbol dari hubungan sosial cinta kasih dan kekeluargaan masyarakat Sumbawa, terang Bapak haji Hasanuddin.


Oleh : Fahrurizki

 

 

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top