Persoalan ulama dan politik bukan hanya pada zaman kini terjadi, namun jauh ratusan tahun Ulama adalah musuh besar kaum imperial terlebih kolonial dan antek-anteknya . Perang politik ulama melawan penguasa juga berujung pada pembuangan atau dalam bahasa diplomasi disebut pengasingan.

Pencegalan Ulama masuk ke tanah air ketika mereka pulang belajar dari Mekkah, semata-mata usaha kolonial untuk menjauhkan masyarakat dengan doktrin agama akan bahaya Jihad. Seperti yang terjadi pada perang Padri 1803-1838, dimana perang yang dipimpin oleh para Ulama ditambah perang Diponegoro tahun 1825-1830 juga pemberontakan Banten tahun 1888 yang dipimpin oleh Haji Karim. 

Castle Batavia, tempat diadilinya para tokoh yang melawan kolonial. lukisan Residen Governor General (Sumber : Tropen Museum). 

Namun jauh sebelumnya dari kejadian diatas sekitar tahun 1748 masehi di Kerajaan Tambora, Pulau Sumbawa, peran para pemuka agama (Ulama) dalam pembebasan perbudakan serta melawan cengkraman kolonial sangat masif dilakukan ditambah kondisi hubungan politik Tambora dengan kerajaan tetangga yang rumit. Keadaan politik Tambora semakin memanas perebutan tahta antara bangsawan terjadi ketika Raja Abdurrahman wafat. 


Pada saat itu Tambora di pimpin ole Raja Abdul Said Johan Kamalasa di nobatkan sebagai Raja tahun 1749, setelah dinobatkan perseteruannya semakin memanas dengan anak mendiang Raja Abdurrahman yaitu Jeneli Kadinding (Dikbud, 1977). Banyak para pemuka Agama (Ulama) dan pejabat istana berpihak pada Jeneli Kadinding, mendukung untuk menggantikan posisi ayahnya yang sah. Penolakan dan perlawanan terhadap Raja Abdul Said terus terjadi pada negeri Tambora, akhirnya untuk meredam hal tersebut Raja memilih orang-orang berpengaruh yang melawan dirinya untuk di buang atau diasingkan.

Dengan adanya perlawanan para Daeng dan Ulama membuat hegemoni Raja Abdul Said terancam, salah satunya adalah Daeng Mustoyib seorang Ulama yang sangat berpengaruh di Tambora. Karena kekuasaan raja terancam oleh Daeng Mustoyib akhirnya beliau di adili dan dipenjara ke Batavia tahun 1755. Karena suatu sebab, mungkin ia dituduh menghasut warga setempat untuk melawan penguasa, pada 1755 ia dihukum penjara di Batavia selama lima tahun, tulis Rachmat Ruchiat dalam Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta.

Daeng Mustoyib selama di Batavia dikenal dengan nama Haji Mustoyib Ki Daeng, dilahirkan di Makassar dari peranakan Tionghoa (Cina) muslim. Setelah bebas dari penjara akhirnya dia memutuskan untuk menetap di Batavia dan berdakwah disitu, tahun 1761 dia membangun sebuah Masjid, untuk mengenang tempat ia berasal, Masjid yang dibangunnya itu diberi nama Masjid Tambora (J.R. van Diessen 1989: 206).

Haji Mustayib ki Daeng tinggal di Batavia hingga wafat, dan dimakamkan di sebelah Masjid Tambora yang beliau bangun. Kini nama masjid tersebut menjadi asal usul nama kecamatan di Jakarta Barat, yaitu Kecamatan Tambora. 

Setelah Daeng Mustayib dibuang dan dipenjara di Batavia sepak terjang kolonial leluasa ditanah Tambora, tercatat tahun 1765 Raja Abdul Said bersama lima kerajaan lainnya di Pulau Sumbawa mengadakan perjanjian baru dengan VOC. Begitupun hal nya dengan kerajaan lain pada kala itu, semua para Mufti Istana (Ulama) di hilangkan jabatannya di istana, seperti di Kesultanan Bima seorang bernama Sehe Subuh harus pindah kegunung-gunung untuk berdakwah karena lingkungan istana sudah terjangkit pengaruh kolonial.


Oleh : Fahrurizki


1 comments Blogger 1 Facebook

  1. Menarik kalimat terakhir berita ini..trmksh infonya.

    ReplyDelete

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top