Perjalanan Johannes Elbert seorang antropolog dari Jerman dan tim ekpedisinya tahun 1908 mempunyai kisah aneh dan unik, dalam rangka selain mendata kebudayaan masyarakat kepulauan sunda kecil. Banyak keanehan di jumpai oleh Elbert salah satunya bertemu dengan Sultan Dompu yang saat itu adalah Muhammad Sirajuddin II dinobatkan sebagai Sultan Dompu ke 18 tahun 1882 menggantikan ayahnya Abdullah II.

Sultan Dompu Muhammad Sirajudin bersama tim peneliti Siboga tahun 1927 (sumber : Webber)

Peta perjalanan Elbert di Pulau Sumbawa setelah dari Lombok melalui jalur laut, perjalanannya dimulai dari Taliwang kemudian melanjutkan perjalanannya ke Sumbawa Besar setelah beberapa hari disitu, Elbert melanjutkan perjalanan ekpedisinya ke Bima melalui pintu masuk teluk. Elbert beserta timnya disambut oleh seorang Raja Bicara kesultanan Bima yang pada waktu itu menjabat adalah Muhammad Qurais.

Ada sedikit kemelut dalam pemerintahan kesultanan Bima paska  meninggalnya Sultan Abdul Aziz tahun 1881 di usianya yang sangat muda. Tercium dibalik politik kesultanan campur tangan Hindia Belanda sangat mencengkram majelis kesultanan. ketika pergantian Raja Bicara menggantikan Ahmad Daeng Manasa yang mengundurkan diri dari jabatannya karena tidak setujunya keputusan Sultan untuk kesultanan Bima berdaulat pada Hindia Belanda tahun 1886. Lalu digantikan oleh Bicara Saleko Abdul Azis bin Yunus.

Protes terjadi dari pihak keluarga Bilmana (keturunan Raja Bicara) karena Bicara Saleko tidak mempunyai ikatan yang kuat pada geneology Raja Bicara. Juga pada hal keintelektualan Bicara Saleko tidak memenuhi syarat sebagai Raja Bicara yang adalah jabatan nyawa pada kesultanan. Maka Bicara Saleko diganti oleh Muhammad Qurais tahun 1886 yang dinilai memenuhi syarat keintelektualan Raja Bicara yang mempunyai kecakapan menguasai tiga bahasa Belanda, Inggris dan Melayu.

Kembali lagi pada kisah kedatangan peneletian Johannes Elbert dan timnya ketika sampai di teluk disambut oleh Raja Bicara Muhammad Qurais. Setelah disambut secara resmi oleh kesultanan Bima, Elbert melakukan penelitiannya selama satu bulan lebih di Bima, yang pada saat itu kondisi di Bima masih dibayangi peperangan antara rakyat Bima melawan Hindia dan kesultanan akibat pajak kepala yang tinggi.

Elbert memulai penelitian dari Donggo hingga Kolo setelah di Bima, dia melanjutkan perjalanan penelitiannya menuju Kesultanan Dompu. Menuju Dompu Elbert diantar oleh Bumi Luma Rasanae hingga didepan istana, sebelumnya ditengah perjalanan Elbert diwanti-wanti untuk jangan kaget ketika disambut oleh Sultan Dompu dan bahasanya yang kedengarannya sangat aneh.

Begitu sampai di Dompu, Elbert disambut oleh kesultanan yang dimana sudah berbaris dan ditengahnya berdiri sang Sultan.”Sultan melangkah maju dan meyapa diriku, sangat aneh hanya bisa dengan bahasa hahaha…hahaha..” tulis Elbert dalam bukunya Sunda Expedition terbit di Frankfurt tahun 1911.

“Dengan suara yang keras dan tinggi dan tingkah laku aneh, aku langsung teringat ucapan kepala pejabat di Bima bahwa tuan Sultan adalah penguasa yang sangat aneh.” Tulisnya.

Setelah penelitiannya di Dompu Elbert kembali ke Bima untuk melanjutkan penelitiannya di daerah Flores (Manggarai). Penelitian Elbert mengenai Antropologi banyak membuka jalur penelitian lainnya yang menjadi literature hingga kini, penelitiannya berakhir pada tahun 1910.


Oleh : Fahrurizki
Historiografer Bima
      

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top