Aroma kopi keluar di celah tirai rumah Haji Sudirman atau biasa di sapa Aji Sedo di Desa Padende, Donggo. Aroma semakin kuat tercium ternyata Aji Sedo keluar dari balik tirai dengan kopi dua gelas. Memikat sekali untuk diminum secepatnya, semakin panas semakin terasa aroma dan rasanya. ‘Santabe Noro Kahawa’ kata Aji Sedo, sambil tangannya mengangkat satu gelas kopi miliknya dan meminumnya. Orang Bima menyebut kopi adalah Kahawa pengaruh dialek dari bahasa  Arab yaitu Gahwa. Bisa dilihat ekpresi wajahnya betapa nikmat kopi bagi Aji Sedo, kemudian mengangkat lagi gelas kopinya.

Lukisan kafe kopi di Turki (Kave Kulturu)

Kopi yang di konsumsi setiap hari oleh keluarga Aji Sedo adalah kopi yang diolah sendiri, hasil dari kebun kopi milik mereka. Setiap bulan Juni dan Juli masyarakat Padende mulai memanen, namun sayang kadang mereka menanen chery kopi yang masih hijau karena takut dimakan oleh monyet, sekarang semakin banyak monyet yang turun dari gunung Salunga dan memporak-porandakan pohon kopi di ladang masyarakat. Dari pada keduluan monyet mending di panen cepat saja, kata Aji Sedo.

Dahulunya awal pembibitan kopi di Desa Padende sekitar tahun 1970, monyet tidak pernah mau memakan kopi, malah oleh warga dahulu fungsinya sebagai penjaga ladang pengusir luwak. Kemudian Aji Sedo bercerita, sejak dulu masyarakat Desa Padende sudah mengkonsumsi kopi namanya “Kahawa Mpida” yang tumbuh liar diatas gunung. Biasanya pergi panen Kahawa Mpida oleh masyarakat Padende pada bulan enam. Waktu kecilnya dahulu Aji Sedo sering ikut kegiatan panen kopi tersebut, pohon kopi itu sudah ada sejak dahulu kisahnya.

Kahawa Mpida artinya adalah kopi kecil, karena bijinya yang kecil, tak lain adalah kopi jenis Arabica. Seperti halnya di Wawo daerah pegunungan Riamau, masyarakat setempat juga menyebut Kahawa Mpida untuk kopi yang tumbuh liar di pegunungan yang katanya sudah ada dahulu. Pegunungan di Padende dan Riamau (Sekitar Pundu Nence) masuk pada ketinggian 1000 mdpl lebih, yang memang tepat dan mendukung untuk tumbuhnya kopi arabica.

Kopi merupakan sajian utama bagi penikmatnya, dewasa ini kopi bukan hanya sekedar sajian yang tertuang dalam cangkir tapi sudah menjadi gaya hidup. Dari kisah Aji Sedo tentang Kahawa Mpida membuktikan sejarah awal orang Bima mengkonsumsi kopi dimulai sejak kedatangan Orang Melayu sekitar tahun 1670 paska perjanjian Bungaya. Pada saat itu kopi hanya disajikan ketika akan melakukan ritual keagamaan Hanta Ua Pua untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Setelah arak-arakan Pabule dan music Sarone berhenti kemudian keluarlah kopi sebagai hidangan utama dalam ritual tersebut di hidangkan ke semua Tureli, Dato, Sultan dan tamu lainnya  (Damste : 59).

Wallahi, Wabillahi, Watallahi. kemudian diucapkan sumpah penghulu melayu dan sultan dalam suasana sakral. Setelah itu datanglah Puan Cerana yang bertugas membawa kopi dan sirih berkeliling di ruangan, jamuan tersebut dinamakan Hidangan dan Talam. Memang sudah menjadi kebiasaan orang Melayu mengkonsumsi kopi ketika mereka akan melakukan dzikir. Sebelum dzikir Rhatib dimulai para tamu yang mengikuti terlebih dahulu meneguk kopi.
 
“Landa ro weli makai tlalim mandai kanggari kai na mori na, 
Weli du mpa ro paralente na, daa wara dou niaridla, 
Kahawa ro kaleli, bawa ro kaboe dou, 
Makai daa maja na dei dou, daa dahu na dei Allahu ta'ala 
Ndai kira-kira weya raa rawi na yaumulqiyamat 
Dei lampa rawi raa tlalim ntau dou ede.” 

Pada syair Ngaji Tua (Tasawuf Bima) diatas menyebut Kahawa ro Kaleli sebagai sebuah makna akan kewibahan kita tunduk pada Allah, dan semua manusia pasti akan diadili kelak. Bagi orang Bima kopi adalah media spiritual, tak hanya sebagai konsumsi spiritual saja, kopi juga sebuah hidangan wajib ketika orang ngaji pada acara Tahlilan kematian selama 44 hari dan selama itu juga kopi di hidangkan, kopi selalu ada ditengah-tengah kegiatan keagamaan di Bima hingga sekarang kopi bagi masyarakat Bima adalah minuman wajib dipagi maupun di malam hari. 


Oleh : Fahrurizki
Blogger, Ekxplorer





0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top