Sejarah Rimpu dan penyebaran pada tanah Bima dimulai paska kedatangan kaum melayu yang pindah dari Makassar, dilatari kekalahan Kerajaan Gowa yang jatuh pada tangan VOC. Sebelumnya kedatangan pertama kaum Melayu di Bima ketika tahun 1640 dimana ketika itu Raja Salisi di tundukkan oleh Tureli Ngampo Manuru Suntu Jalaluddin bersama Karaeng Baroangin, dengan kekuatan militer 400 kapal perang Gowa (Makassar) menyerang Bima untuk mengembalikan legitimasi kekuasaan Ma Bata Wadu (Hagerdal 2017 : 63). Ma Bata Wadu yang berubah nama ketika sudah memeluk Islam menjadi Abdul Kahir bersama Datu Ditiro dan Datu Ribandang datang ketika situasi dan kondisi Bima sudah dibersihkan dari perlawanan Raja Salisi, dan pada tahun 1640 Kerajaan Bima resmi mengganti sistem pemerintahan berdasarkan Islam juga kerajaan menjadi kesultanan Bima.

Para Wanita memakai Kudung Sarung atau Rimpu di Dompu tahun 1943, setelah Dompu digabungkan ke Kesultanan Bima. (Sumber foto : Tropen Museum) 

Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Datu Ditiro dan Datu Ribandang sangatlah singkat, pada bulan Maret 1645 mereka berdua mengajukan diri untuk kembali ke Gowa dan menitipkan kedua anaknya Ince Nara Diraja dan Ince Jaya Indra. Pada tahun yang sama Tanah Bima setelah Islamisasi menganggap anak turunan (Melayu) Dato kaum yang di Istemawakan, sehingga ada dua janji Kerajaan Bima salah satunya sebagai berikut :


“ Duli Yang Dipertuan Kita mengaku dan meneguhkan selama-lamanya hingga turun-temurun nama kerajaan Bima akan memandang dengan hormat dan mulia segala turun-temurun bangsa Melayu, karena bangsa ini tidak disamakan bangsa pedagang Bugis Mengkasar karena bangsa Melayu itu telah menjadi gurunya Yang Dipertuan Kita dan gurunya Tanah Bima yang memasukkan agama Islam.”(Bo Sangaji Kai 1999 : 58).

Sekitar tahun 1670 paska perang Makassar, kedatangan gelombang kedua kaum Melayu sekaligus datangnya kebudayaan baru di Bima. Kaum Melayu yang tidak sepaham dengan jatuhnya kekuasaan Gowa di tangan Admiral Cornelius Spellman (VOC) memilih pulau Sumbawa menjadi tanah kedua mereka untuk tinggal. Oleh Sultan Abdul Khair Sirajuddin (1640-1682) anak dari Sultan Abdul Kahir memberikan Sori Kempa pesisir utara teluk Bima sebagai tempat pemukiman baru untuk mereka, dari sini (Sori Kempa) dimulai dekade penyebaran Islam yang terorganisir dengan dibentuknya Kelebean, ada pelabuhan Ule yang menjadi sentral penyebaran. Tidak hanya agama juga kebudayaan Melayu mulai berakulturasi dengan Bima, berbagai jenis kesenian dan pakaian, hingga aksara Bima mulai diganti dengan aksara Arab-Melayu (Jawi). Hingga terciptanya suatu event yang bersejarah yaitu Hanta Ua Pua sebagai simbol kekuatan dan kecintaan pada  Islam. Hanta Ua Pua diadakan pada saat hari kelahiran Nabi Muhammad ketika itu kaum Melayu dipimpin oleh seorang penghulu Dato Maharajalela (Damste : 61).

Akibat seringnya terjadi banjir, kaum Melayu yang bermukim di Sori Kempa akhirnya dipindahkan ke Tolobali (Tolo ra Bhali) dimana dahulu adalah tanah yang diberikan oleh Sultan Abdul Kahir kepada dua gurunya namun dikembalikan lagi dengan alasan  kaum Melayu adalah orang melaut (berdagang) bukan petani. Kemudian terbentuklah komunitas “Kampung Melayu” di pesisir timur teluk Bima menjadi kampung kaum Melayu pertama di Pulau Sumbawa berdiri sekitar 1680 masehi. Ajaran Islam dan penyebaran budaya Melayu dimulai dari satu titik yaitu kampung Melayu sebagai sentral edukasi masyarakat di Pulau Sumbawa, mulai dari budaya hingga sastra yaitu Patu (Pantun) dan Mpama (Umpama), seni musik sarone dan tari Lenggo hingga pakaian Kabaya Bantam, Tembe dan Kudung Sarung atau sekarang dikenal dengan nama Rimpu yang diperuntukkan untuk wanita. Seperti yang tercatat dalam naskah “Upacara dan Busana Adat Bima Dalam Naskah Abad ke-18 dan ke-19 Daerah Nusa Tenggara Barat”, yaitu seorang wanita apabila ia keluar rumah maka ia menutup kepala dengan kudung sarung, dengan cara  yang dinamakan Rimpu. Hanya muka yang dibiarkan terbuka sedangkan seluruh badan tertutup bahkan bila perlu hanya mata saja yang kelihatan.

Mulai dari kampung  Melayu penggunaan dan penyebaran Rimpu disebarkan di tanah Bima, Rimpu menjadi simbol keagaaman masyarakat Suku Mbojo atau Dana Mbojo, penyebaran Rimpu sendiri berkembang di luar hegemoni budaya istana dan kaum bangsawan yang banyak ber-asimiliasi dari budaya Makassar. Tidak hanya pakaian yang bercorak melayu, beberapa kuliner dan panganan di Bima juga adalah akulturasi melayu seperti halnya Pangaha Bunga. Kampung Melayu dan kaum Melayu oleh orang Bima disebut Dou Malaju dan tempatnya Kampo Malaju, tulis Helius Sjamsuddin dalam bukunya Memori Pulau Sumbawa.

- Satu sama Satu
- Mu lao ta be?
- Lao weha elaku ese Samili
- Di au-mu ela?
- Di ma muna weak u tembe teja
- Di au mu tembe teja
- Di lao kai ku ngaji
- Ngaji ta be
- Ipa Mbojo Malaju   

Pantun diatas adalah pantun yang biasa di ucapkan oleh masyarakat pesisir barat teluk Bima (Helius Sjamsuddin 2013 : 27). Pantun yang menjadi teman mereka ketika pergi belajar mengaji di kampo Malaju. Pesisir barat teluk Bima masuk dalam wilayah kejenelian Bolo atau sekarang menjadi dua bagian wilayah kecamatan Bolo dan Soromandi. Ajaran agama Islam diutamakan pada masyarakat dengan dua hal ketika itu, adalah baca dan tulis menjadi panutan Dou Mbojo (Bima) yaitu “Ngaji labo Tunti”, juga hingga tercipta suatu slogan keagamaan yang kuat dalam tatanan sosial  bagaimana Islam melebur kedalam kehidupan mereka yaitu “Mori ro Made na Dou Mbojo ede kai Hukum Islam”.

Para Wanita Dompu mengenakan Baruko tahun 1924 (Sumber foto : Tilerma)

Penyebaran Kudung Sarung atau Rimpu diwilayah Dompu dan sekitarnya, dibawa oleh para pedagang dari Bolo atau kadang mereka disebut “Dou Sila”. Selain dari melalui perdagangan oleh Dou Sila, penyebaran Rimpu di Dompu juga dibawa oleh orang-orang Bima yang pergi untuk membuka ladang pada musim perabasan hujan disebut Kanggihi (Depdikbud 1991 : 93). Awalnya kerudung asli wanita Dompu disebut Baruko dimana satu kain tipis dililitkan untuk menutup seluruh bagian kepala hanya bagian mata saja yang terlihat. Hingga kini Rimpu berasimiliasi kedalam kehidupan wanita Dompu.  Penyebaran orang Bima di Dompu dimulai sejak paska meletusnya Gunung Tambora tahun 1815, disana (Dompu) mempunyai tanah yang subur namun sedikit pengelolahnya sedangkan di Bima tanahnya kurang subur namun petaninya sangat rajin, tulis Zollinger ketika berkunjung di Dompu tahun 1847.

Penggunaan Rimpu semakin tenar ketika memasuki masa Indonesia era Orba (Orde Baru), ketika itu Bupati Bima yang ke-4 Letkol H. Umar Harun gencar mengembalikan nilai kearifan lokal Suku Mbojo hingga dia dipanggil oleh Dou Mbojo dengan nama Ama Emo yang berarti Bapak bagi orang Bima. Penggagasan membangun kearifan lokal dimulai dari berdirinya gedung Paruga Parenta dan Islamic Center sebagai tempat kegiatan  budaya masyarakat Bima kala itu. Kegiatan kebudayaan intens dilakukan hingga berbagai peragaan baju adat seperti Rimpu juga diperagakan didepan para pesohor yang berkunjung ke Bima. Pada era 70-an hingga 90-an Rimpu tetap dikenakan oleh masyarakat Bima masig dapat dijumapi di pasar maupun di jalanan saat itu. 


Oleh : Fahrurizki 
Blogger dan Explorer 





0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top