Orang Terpal mereka berasal dari Bima menuju Sumbawa hanya untuk mencari penghidupan mengais keuntungan dari beberapa karung gabah. mereka tersebar di tanah Sumbawa, dari Empang, Plampang hingga Utan.

Orang Tarpal, mereka dari Bima menuju Sumbawa hanya untuk mencari penghidupan mengais keuntungan dari beberapa karung gabah. Membangun tenda dengan tarpal yang berukuran 6x6 meter, mereka biasa datang di Sumbawa pada musim panen “Mai Pako” mereka menyebutnya, dimana tenaga mereka diupah dengan gabah hanya untuk “Mai Gaba” yaitu datang mengambil gabah dari upah tuan tanah, kata mereka. Biasanya pada bulan April ketika musim panen. Dari Bima mereka membawa serta keperluan dapur mereka seperti panic juga keperluan tempat tidur. Gelapnya malam dan dinginnya angin malam menjadi saksi kegigihan mereka hanya untuk sekarung gabah.
Satu keluarga turut di bawa dari Bima datang dan menempati satu tenda, membuat tenda berukuran 6x3 meter yang beralaskan tanah kering. Biasanya jumlah dalam satu tenda ada dua hingga tiga keluarga, mulai dari orang tua, anak hingga cucunya dibawa serta ketika musim “Mai Pako”.

Tenda berjejer ditepian sawah Brangkolo, Plampang, Sumbawa.Warna tenda yang terang disiang hari namun gelap dimalam hari, hanya sebuah lampu minyak dari kaleng atau botol sisa yang meneranginya. Apa adanya untuk menghalangi angin malam, namun semangat mereka kembali dikala pagi tidak bisa dikalahkan oleh angin untuk sekarung gabah.  

Ketika pagi hari mereka menuju sawah, tenda di ikat dan tertutup, jika dalam satu tenda ada suami istri yang menjaga dipagi hari hingga sore adalah istri mereka. Tidak ada jendela sangat pengap, tenda pada pagi hingga siang dibiarkan kosong, sebab anak istri mereka lebih banyak bermain diluar tenda dan tiduran digubuk pinggir sawah, tenda ramai ketika sore dan malam.

Sejak pagi buta hingga sore para lelaki pergi untuk Pako yaitu memanen sawah, dalam sehari mereka bisa memanen lebih dari dua sawah tergantung besar kecilnya ukuran sawah, jika mendapat sawah yang ukuran kecil maka hanya sekitar 4 hingga 5 jam saja mereka panen dengan menggunakan alat rontok yang dimodifikasi untuk menggiling gabah.  

Pada setiap sawah yang dikerjakan ada 5 hingga 6 orang yang diperlukan tenaganya untuk Pako. Tidak hanya pada musim “Mai Pako” mereka datang di Sumbawa, juga tenaga mereka diperlukan ketika musim “Tana” tiba yaitu menanam pada sekitar November hingga Desember.

Pertama semua padi dipotong terlebih dahulu lalu ditempatkan pada satu tempat. Semua mengambil fungsi masing-masing, ada dua tau tiga orang yang menggiling, satu atau dua orang yang mengumpulkan gabah. Mereka bekerja sama, tambah cepat akan semakin baik kerjanya karena masih banyak sawah lain yang menunggu untuk dipanen.

Satu sawahnya upah yang didapat oleh satu orang yaitu satu karung gabah hasil panen, sistem upah disebut “Cinggu Waru” yaitu dalam tujuh karung hasil panen satu karungnya diambil oleh para pako. Dalam sebulan satu orang bisa mencapai 2 ton gabah yang didapatkan dari upahnya, kemudian mereka menjualnya lagi kepada pengepul beras. Sebulan hasil yang mereka dapatkan stelah menjadi beras dan dijual bisa mencapai 7 hingga 8 juta.

Mai Pako dan Mai Tana adalah peluang mereka (Orang Bima) mengais penghasilan di daerah orang untuk memenuhi kebutuhan mereka, lebih selama beberapa bulan mereka bertahan hidup memakan apapun sayuran yang tumbuh disekitar tenda mereka. Di tanah mereka (Bima) tenaga mereka sudah jarang diperlukan lagi karena sudah tergantikan oleh mesin.  

Iwan sejak tahun 1990 dia datang di Sumbawa untuk mencari peruntungan hidup dengan Mai Pako dan Mai Tana. Akhirnya sekitar tahun 2000 dia mampu membeli tanahnya sendiri di Plampang, Sumbawa. Hasil yang dia dapatkan dikumpulkan dan kini dia bisa menikmati memanen tanahnya sendiri. Iwan asli Sila Tambe, Bima. Orang yang datang Pako kebanyakan dari berbagai pelosok Desa yang ada di Bima seperti Cenggu, Kalampa, Mpuri hingga Tambe.

Essai Foto Oleh : Fahrurizki




0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top