Pergulatan politik regional Bima di era kependudukan kolonial atau Hindia Belanda pada sekitar tahun 1930-an mengalami perubahan besar karena para pelajar Bima yang pulang kampung dari Makassar dan Jawa, ketika mereka kembali ke tanah kelahiran muncul gagasan yang mempelopori pergerakan regional juga turut membawa oleh-oleh pemikiran. Hal tersebut menjadi ancaman bagi kekuatan politik Belanda, untuk itu pengaruh pergerakan yang mulai masuk di Bima era 30-an harus di intai oleh kaki tangan Belanda. Begitupun keadaan di pulau Lombok, kondisi politik sangat memanas dari kalangan agama hingga pihak Belanda mencari celah untuk mengadu domba dua golongan Islam yaitu Islam Waktu Lima dan Islam Waktu Telu (Depdikbud 1991).

Berawal memasuki abad 20 pergerakan nasional mulai terbentuk, berbagai pergerakan politik yang dibentuk oleh para cendekiawan nasional seperti Budi Utomo tahun 1908, Sarekat Islam tahun 1911 hingga Indische Partij tahun 1912 yang pelopori oleh Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara atau ketika itu lebih dikenal sebagai Suwandi Suryaningrat. Pembentukan pergerakan diatas juga didukung oleh Undang-undang Hindia Belanda mengenai  Disentralisasi tahun 1903 mengatur kota Praja, terbentuk dari tuntutan para cendekiawan ketika itu  yang menuntun kearah persatuan bangsa atau lebih dikenal dengan istilah Pax Nederlandica.

Para tokoh Muhammadiyah, Idris Djafar dan AD Talu depan Sekolah Muhammadiyah di Kampung Ranggo, foto sekitar tahun 1940. (Sumber : Syarifuddin Pane).

Selain pergerakan politik, juga tercipta pergerakan lainnya yang berafiliasi ke hal keagamaan untuk memurnikan ajaran Islam dan pendidikan untuk jelata yang layak. Pada tanggal 18 Novembber 1912 di Yogyakarta berdiri sebuah organisasi keagamaan yang bernama Muhammadiyah di didirikan oleh KH Ahmad Dahlan. Awal berdirinya Muhammadiyah bertujuan untuk mengajarkan agama Islam yang murni sesuai dengan Al-Qur`an dan Hadist, dimana pada saat itu masyarakat jelata banyak dipengaruhi oleh hal mistik. Muhammadiyah melalui pendirinya kemudian disebut sebagai organisasi Islam yang bersifat pembaruan. Pembaruan pemikiran dan social pada masyarakat, “Muhammadiyah telah menyuntikkan ruh perubahan masyarakat  Islam Indonesia,” tulis Zuly Qodir, dalam bukunya, Muhammadiyah Studies : Reorientasi Gerakan dan Pemikiran Abad Kedua.


Campur aduk Mistik pada tatanan agama kalangan masyarakat kebawah (Jelata) sangat mentradisi, seperti halnya di Sulawesi, mistis yang sangat berkembang menjadi bagian dari ritus kepercayaan masyarakat lokal. Hal itupun memang sengaja dibiarkan oleh kolonial saat itu dengan istilah “Politik dan Ritual” (Thomas Gibson 2009 :32), dimana kolonial sengaja mendatangkan antropolog untuk meneliti kepercayaan kuno dan disebarkan ke masyarakat, hal ini tak lain upaya untuk membuat para cendekiawan yang pulang dari Mekkah sibuk memperbaiki ajaran Islam pada masyarakat agar tidak bisa menghasut untuk melawan mereka (kolonial).   

Keadaan pendidikan di Bima sejak berdirinya HIS (Holland Indisch School) pada tahun 1919, membuka lembaran baru dunia pendidikan modern, anak-anak yang masuk di HIS haruslah diseleksi oleh Asisten Residen. Anak bangsawan dan orang kaya dominan duduk dibangku HIS namun bagi anak jelata hanya bisa melihat, dari sinilah tersentuh melihat kondisi diskriminasi pendidikan tersebut membuat  para tokoh dan pelajar Bima mulai bergerak untuk memajukan pendidikan di tanah mereka.

Bima mengalami kekosongan ruang pendidikan formal bagi kelas masyarakat bawah, HIS yang dianggap sebagai sekolah kaum kelas atas dibawah kontrol kolonial tidak memungkinkan menerima kaum kelas bawah (Jelata), begitupun sekolah madrasah yang ada di Bima tak mampu menjangkau jelata lainnya. Melihat kondisi inilah membuat beberapa orang bangsawan Bima seperti Idris Djafar khawatir atas nasib pendidikan generasi. Kebimbangan Idris Djafar terjawab pada tahun 1931 Muhammadiyah masuk ke Bima dibawa oleh seorang guru bernama Abdul Wahid dengan visi pendidikan, social dan keagamaan dikala daerah mengalami krisis hal-hal tersebut. Pertemuan Abdul Wahid dan Idris Djafar sudah lama terjalin dan akrab, namun Idris Djafar belum menyatakan masuk Muhammadiyah ketika itu. Jauh sebelumnya Muhammadiyah sudah masuk di Kepulauan Sunda tahun 1918, dengan paham Islam Moderat pada saat itu lebih dikenal dengan istilah Kaum Muda (Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTB, 1991).

Akhirnya tahun 1937 Idris Djafar menyatakan diri sebagai anggota Muhammadiyah karena mempunyai visi yang sama untuk mencerahkan pendidikan masyarakat jelata, masuknya Idris Djafar juga diikuti oleh tokoh lainnya yaitu A.D Talu, Junaidi Amir Hamzah dan M. Hasan menjadi angkatan pertama pelopor Muhammadiyah cabang Bima (Depdikbud 1977 : 144). Setelah merangkul bangsawan dan tokoh Bima lainnya, Muhammadiyah mulai dikenal kalangan banyak, yang sebelumnya dianggap lembaga biasa-biasa saja. Memberikan kepercayaan pada masyarakat jauh sulitnya daripada perintisan awal, berbagai duri sengaja ditaburi pada jalan perjuangan Muhammadiyah yang dianggap akan merubah tradisi Islam di Bima yang sudah lama.

Sekitar tahun 1940 seorang pemuda bangsawan yang baru kembali dari menuntut ilmu di Makassar bernama Saleh Bakry, di Bima dia membuka cabang PERPI (Persatuan Penuntut Ilmu). Saleh Bakry cukup berpengaruh dikalangan istana Kesultanan Bima, lebih dikenal sebagai seorang konseptor dikalangan pergerakan (organisasi) kepemudaan, mempunyai visi yang sama dengan Idris Djafar yang sesama alumni dari Makassar yaitu mencerdaskan rakyat Bima. Dengan bergabungnya Saleh bakry bersama Muhammadiyah semakin menambah terangya matahari pergerakan tersebut dan menciptakan  citra yang baik di mata masyrakat. Lalu dia dipercaya untuk mengemban jabatan diplomasi pergerakan sebagai konsul Muhammaddiyah Indonesia Timur (Rangkaian Melati Kehidupan H.M Thayib Abdullah).

Penyebaran awal Muhammadiyah memfokuskan untuk pendidikan pada desa-desa dan sentral pergerakan ditempatkan di Tente, berhubung saat itu Idris Djafar (Ketua Muhammadiyah Bima) menjabat sebagai seorang Jeneli (Camat) Woha. Memasuki era tahun 40-an Muhammadiyah semakin diminati terutama kalangan pemuda yang sangat berpengaruh di Tente, mereka bergabung dalam pergerakan bersama Saleh Bakry diantaranya adalah Ahmad Daeng Amin, Husin Uba Tasrif, Yahya Teta La Ani kemudian di ikuti oleh Thayib Abdullah salah satu tokoh pemuda yang sangat disegani serta vocal dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.     

Banyak isu dan gesekan politik yang berhembus menerpa bendera Muhammadiyah ketika mulai eksis di Bima, berbagai rintangan social terjadi dalam pergerakan mereka untuk mencerdaskan masyarakat dan memurnikan Tauhid dari hal mistis. Namun Muhammadiyah semakin mekar di tanah Bima semua berbondong-bondong bergabung mulai dari kalangan bangsawan, intelektual hingga kalangan jelata, bergerak bersama memajukan pendidikan. Sekitar tahun 1940-an sekolah Muhammadiyah pertama di Bima didirikan di Kampung Pane (dulunya Nae) tanah yang diwakafkan oleh para bangsawan. Setahun kemudian semakin banyak muridnya terutama kaum jelata semakin berminat mengirim anak-anak mereka untuk bersekolah, karena kondisi sekolah sangat kecil akhirnya sekolah dipindahkan ke Kampung Ranggo, dimana lahannya diwakafkan oleh seorang bangsawan yang bernama Abbas Daeng Iba (Jeneli Woha).

Memasuki masa peperangan (1942) kemerdekaan bangsa, para tokoh pemuda Muhammadiyah yang disebut Hizbul Wathan (HW) sepakat untuk terjun ke medan perang melawan penjajahan, inisiasi kemerdekaan di Bima banyak dipelopori oleh para tokoh Muhammadiyah. Setelah Thayib Abdullah membentuk KRI (Komite Rakyat Islam) bersama Daeng Amin, upaya perjuangan KRI ketika jepang datang menduduki Bima yaitu menolak memberikan “gadis rumah kopi” yang dinilai sangat tidak berkemanusiaan dan bertolak dengan ajaran Islam. Di seantero Bima tersebar informasi bahwa para wanita akan di ambil paksa oleh tentara Jepang sebagai budak pemuas nafsu sexual mereka, terjadilah Nikah Baronta yang sangat merugikan moral masyarakat Bima. Nikah Baronta tidak memandang umur dan paksaan, yang penting anak perempuan mereka terselamatkan dari incaran hawa nafsu sexual tentara Jepang, Nika Baronta itu dinilai oleh para pemuka agama dan tokoh Muhammadiyah sangat salah.

Thayib Abdullah bersi kukuh untuk membela kehormatan wanita dan menolak para wanita Bima dijadikan pelayan di asrama tentara jepang atau dikenal “Jugun Ianfu”. Maka tercetuslah tiga keputusan menolak Jugun Ianfu di Bima oleh KRI, pertemuan dengan pihak Jepang, dimana KRI yang diwakili oleh Thayib Abdullah, Abubakar Abbas dan Dollah Ahmad memutuskan bahwa rakyat Bima akan siap membela wanitanya hingga mati syahid. kemudian pihak Jepang menjelaskan bahwa tidak ada permintaan paksa wanita, jepang menghargai Islam, itu hanya salah informasi dari Sultan (Zulkarnain 1997 : 64).

Kembali ke awal kisah perkembangan Muhammadiyah yang semakin progresif, dengan  ditambah masuknya lagi para tokoh pemuda seperti Gani Masykur dan M. Noer Husen, Muhammadiyah semakin dipandang sebagai organisasi yg revolusioner pada bidang  pendidikan dan keagamaan di Bima. Ketika Gani Masykur diangkat sebagai sekretaris Muhammadiyah cabang Bima, diakhir tahun 1950 banyak penyebaran guru ke berbagai pedalaman desa di Bima kala itu dikirim oleh Gani Masykur, gencar mencerdaskan masyarakat dan memerangi kurafat yang sudah tidak bisa lagi ditolerir, maka tercipta visi TBC (Takhayul, Bid`ah dan Churafat) untuk memurnikan ajaran Islam di Bima. Mencerdaskan umat adalah langkah menuju kehidupan social yang madani, mengisi ruang kekosongan pengetahuan jelata dengan tangan yang tulus.

Dikisahkan oleh Muhammad Syauqie putra dari KH. Gani Masykur dikediamannya (17/06/2018) jalan Sultan Hasanuddin Kota Bima, beliau sangat gencar memerangi kurafat, pernah ada kejadian dimana Gani Masykur menentang tukang sihir yang paling ditakuti oleh masyarakat di pedalaman desa Donggo dahulu untuk menyihirnya. Semua orang kaget dan takut dengan apa yang dilakukan oleh dia (Gani Masykur), namun penyihir itu tetap ditantang untuk menunjukkan sihirnya. Gani Masykur percaya bahwa kekuatan terbesar adalah Allah bukan manusia dengan sihirnya karena itu adalah kurafat penyakit pembodohan yang menyebar pada masyarakat, Kisah Pak Syauqie. 


Oleh : Fahrurizki



     

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top