ADS

Sebuah hamparan tanah luas yang berwarna merah terdapat di sisi barat pemukiman Belanda di Raba, tanah yang berwarna merah itu disebut Dana Lili (Tanah Liat), sekitaran tahun 1930-an sudah terdapat aktifitas di tanah lapang tersebut, penduduk lokal mulai berdatangan belajar dan membuat gerabah.

Taman Raba-Ngodu, dulunya bangunan pusat komunikasi.(sumber : mbojoklopedia.com)

Sebelum pengrajin tembikar di kampung itu hanya terdapat pengrajin tikar, bakul serta payung yang terbuat dari daun lontar serta daun pandan. Pada 24 oktober 1930 kebakaran besar terjadi 31 pemukiman rumah penduduk hangus terbakar, kerugian mencapai 5.000 gulden (De Indische Courang, 1930).

Lalu di sisi barat pemukiman mulai banyak aktifitas pembuatan tembikar hingga pemukiman terbentuk sekitaran awal 1940-an. Masyarakat Bima menyebutnya kampung Ngodu yang berarti para pengrajin tanah liat. Kampung Ngodu menjadi sentral untuk alat rumah tangga di Bima, Seiring berjalannya waktu pemukiman itu mulai terdapat banyak rumah.

Sekitaran 1960-an kampung Ngodu menjadi Desa Raba-ngodu dengan kepala Desa terakhir Abdul Hamid (Hima) kemudian terbentuknya kelurahan Raba-ngodu sekitaran 1979 bersamaan 25 kelurahan lainnya di Bima .

Sukarto seorang arkeologi Gianyar, Bali. dalam jurnalnya Note on Poettery Manufacture Near Raba, East Sumbawa, ketika kunjungannya ke Bima pada 4 Desember 1972 dia menulis “saya melihat beberapa tembikar yang dijual oleh masyarakat lokal di pasar. Saya mempertanyakan pada teman apakah tembikar itu dibuat oleh orang-orang lokal di Bima atau telah dibawa dari suatu tempat di tengah Sumbawa.Dia menjelaskan Bahwa desa Raba -ngodu adalah pusat dari 'pengrajin tembikar'. Tulisnya.

Tiap rumah di Raba-ngodu memproduksi tembikar, dan kolong rumah atau “Wombo” dijadikan untuk tempat mereka bekerja. Pada tahun itu (1979) masih banyak terdapat rumah-rumah panggung yang bertiang tinggi, dan di kolongnya juga dipajang beberapa tembikar.

“ Saat ini Penduduk Raba-ngodu adalah muslim. Banyak rumah di kedua sisi jalan menjual tembikar dan beberapa orang bekerja pada perdagangan mereka. Aku melihat dan bertanya tentang pembuatan tembikar pada pekerja wanita yang sibuk menyusun tembikar di wombo tersebut.” Tulis Sukarto.

Produksi tembikar juga dilakukan pada Wombo rumahnya, aktifitas pembuatan tembikar dikala pagi hingga siang memenuhi Raba-ngodu. Tanah liat tak jauh diambil pada halaman rumah penduduk.

“dan ruang kecil di bawah rumah tempat tembikar disebut wombo tersebut. Sebenarnya, ini adalah workshop pada Wombo. Tanah liat (dana lili) dikumpulkan oleh wanita, kadang-kadang dibantu oleh orang-orang, dari berbagai bidang di kampung tersebut. pembuatan dilakukan hanya oleh perempuan, dan pembakaran dilakukan satu persatu.”tulis Sukarto ketika mengunjungi Raba-ngodu tahun 1979.


Oleh : Fahrurizki




0 comments Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top