Perang dunia terus berlanjut hingga merambah ke Asia Tenggara, antara Jepang dan Sekutu hingga sampai di Pulau Sumbawa.  pada 12 Mei 1942 mendarat angkatan darat Jepang di Labuhan Haji, Sumbawa. Menyadari akan hal itu Sultan Bima mengirim delegasi untuk menemui tentara Jepang di Pulau Jawa, Makassar hingga Waingapu.

Pada tanggal 17 Juli 1942 di bawah pimpinan Komandan Saito pasukan Jepang mendarat di Bima. Sultan Bima menyambut kedatangan Komandan Saito dengan iringan seluruh pejabat kesultanan menuju istana.

Penyerahan persenjataan Jepang pada pasukan Sekutu Australia pada 18 Oktober 1945 di Sape, dokumentasi oleh Davis salah satu pasukan Australia.

Daerah Nusa Tenggara berada dalam kekuasaan Angkatan Laut Jepang, Armada Selatan kedua. Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dijadikan sumber persediaan perbekalan tentara Jepang, dengan jumlah pasukan yang sangat banyak juga memerlukan perbekalan yang banyak.

Lalu daerah Nusa Tenggara Barat dijadikan oleh Jepang sebagai pusat sumber perbekalan untuk kebutuhan pasukan mereka di NTT, Maluku dan Sulawesi. Bima menjadi pusat untuk penyimpanan beras karena posisinya yang paling timur di Pulau Sumbawa sehingga mobilisasi dengan kupang dan Sulawesi menjadi dekat, sedangkan Lombok dan Sumbawa juga harus menyediakan kebutuhan mereka seperti jagung dan juga beras serta kebutuhan mereka lainnya, seperti yang di katakan oleh Idris Djafar pada tim penyusunan buku Sejarah Kebangkitan Nasional Nusa Tenggara Barat, tahun 1990.

Semua daerah di pulau Sumbawa wajib memenuhi persediaan mereka (Jepang) namun hanya satu daerah yang tidak bisa memenuhi permintaan Jepang tersebut yaitu daerah Dompu. Perang yang berkecamuk di seantero dunia memberikan pengaruh yang tidak begitu menguntungkan bagi Dompu, tidak seperti daerah tetangganya Sumbawa dan Bima dimana masyarakatnya bisa menjual hasil ternak mereka pada kapal-kapal perang sekutu maupun Jepang.

Daerah Dompu yang ketika itu masuk dalam wilayah administrasi kesultanan Bima yang dijadikan daerah Kejenelian, mengharuskan Bima menghadapi dua masalah yaitu pertama kewajiban untuk menyokong beras pada pasukan Jepang dan yang kedua menanggulangi bencana kelaparan yang terjadi di Dompu yang terjadi dari tahun 1941. Menghadapi dua hal masalah tersebut mengharuskan Bumi Luma Rasanae Ahmad Daeng Ngiwu yang bertanggung jawab pada Kejenelian Dompu untuk lebih peka dan fokus menangani bencana kelaparan itu.

Pada 2 September 1945 Jepang resmi menyerah pada pasukan Amerika diatas kapal USS Missouri dibawah pimpinan Letnan Jendral Richard K. Sutherland Jepang yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri Mamoru Shigemitsu menanda tangani penyerahan tersebut.

Enam tahun masa peperangan berlalu kemudian pulau Sumbawa yang menjadi Soembawa Eiland Federation dibawah pemerintahan NIT (Negara Indonesia Timur). wilayah Dompu kembali dilanda oleh kelaparan hebat untuk yang kedua kalinya di abad 20, namun ditahun 1951 kelaparan kali ini hingga memakan korban yang mengancam mengurangi jumlah populasi Dompu

Sebuah laporan yang termuat pada harian Java Bude 23 Februari 1951, menyatakan mengenai krisis kelaparan yang terjadi di Dompu.

“Populasi Dompu terancam oleh kelaparan. Situasi yang saat ini mirip dengan yang di 1941-1942. Dengan bosknollen dicampur makan sedikit nasi, penduduk sedang mencoba untuk mencegah kelaparan. Dalam itu mengkonsumsi ech'er bosiknolden sangat bahaya, jika salah satu tidak menyadari membersihkannya , efek yang menjadi pusing. Sekarang sudah mulai panen beras, tetapi masih tidak yakin apakah panen ladang baru akan menutupi kebutuhan penduduk.”

Pada laporan diatas ech'er bosiknolden semacam tanaman beracun yang tumbuh liar dan berbahaya, masuk tahun 1953 Dompu kembali kepada stabilitas daerah normal dengan berbagai pangan yang tercukupi.


Oleh : Fahrurizki



0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top