Kerajaan Pekat juga disebut Papekat salah satu kerajaan yang ikut musnah dalam erupsi gunung Tambora tahun 1815 masehi. Kerajaan Pekat terletak di sebelah selatan semenanjung sanggar berbatasan dengan Dompu dan sebelah barat berbatasan dengan Tambora. sebelah utaranya berbatasan dengan kerajaan Sanggar bagian timur.

Kerajaan Pekat yang terbentuk pada pertengahan abad 17 masehi atas ijin VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) untuk membendung kekuatan dan pengaruh Makassar yang mendominasi pulau Sumbawa. Pelabuhan Pekat menjadi incaran VOC yang strategis, itu terbukti Gubernur Spelman mempunyai hak  pribadi atas pelabuhan Papekat, tulis Ligtvoet.

Benteng Somba Opu kerajaan Gowa, pusat politik dan perdagangan seluruh kerajaan Pulau Sumbawa. Gambar benteng Somba Opu tahun 1754 di gambar oleh Nicholas Bellin. (Sumber Columbia.edu)

Dengan seorang Raja pertama bernama Ince dikukuhkan pada tahun 1675 masehi. Raja Ince berkuasa hingga 1701 diganti oleh Abdul Cilih dan membuat kontrak baru bersama VOC pada 13 September 1701.

Ketika Raja Abdul Gafur berkuasa di Pekat hubungan dengan kerajaan tetangganya tidak begitu baik, Pekat menjadi anak emas VOC salah satu peristiwa yang membuktikan hal itu adalah ketika Pekat kerap mengambil budak orang Tambora dan VOC mendiami ketika ada protes dari raja Tambora.

Tahun 1750 pecah perang antara Tambora dan Pekat dikarenakan 64 orang Tambora diambil oleh Raja Abdul Gafur untuk dijadikan budak. Lalu pihak kompeni dapat mendamaikan peperangan tersebut. Kemudian ketegangan antara Pekat dan Tambora kembali terjadi pada tahun 1757 disebabkan hal yang sama yaitu perbudakan yang terus dilakukan oleh Pekat.

Raja Tambora Abdul Said meminta supaya Pekat menghentikan perbudakan yang terus terjadi di wilayahnya, namun raja Pekat tidak mengindahkan, VOC ada dibalik perbudakan tersebut dan kerap mendukung Pekat, perbudakan terus dilakukan karena sangat menguntungkan pundi-pundi kekayaan kompeni.

Dari beberapa catatan Batavia yang berasal dari abad 17-18 masehi, kerajaan Pekat tercatat karena terjadi konflik dengan kerajaan tetangga dan politik internal kerajaan. Suksesi para raja Pekat juga kerap diwarnai oleh pergolakan dan perebutan tahta. Tahun 1765 Gubernur Petrus Albertus van der Parra memperbaharui kontrak dengan Pekat dan kerajaan lainnya di pulau Sumbawa, dalam kontrak tersebut kerajaan Pekat di wakili oleh raja Abdurrahman.

Raja terakhir Pekat bernama Abdul Muhammad dikukuhkan pad a tahun 1794 menggantikan pamannya Abdurrahman. Ketika erupsi gunung Tambora terjadi muntahan lahar yang sangat besar pada waktu subuh yang menelan habis kerajaan Pekat hingga tak tersisa, dari catatan Zolinger ada 2000 jiwa korban di Pekat.

Sisa wilayah dari kerajaan Pekat akibat letusan oleh Gubenur jendral Bosch dimasukkan pada kerajaan Dompu pada tahun 1866. Tidak begitu banyak catatan mengenai asal muasal pendiri kerajaan ini, namun Pekat dalam bahasa Bima mempunyai arti putih sedangkan dalam bahasa Sumbawa yang berarti burung kakak tua.  


Oleh : Fahrurizki


0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top