Akhir abad 18 merupakan babak baru pergolakan politik di kesultanan Dompu, konspirasi yang melibatkan keluarga istana antara kubu Abdurahman dan saudranya Abdul Wahab. Perebutan tahta kesultanan Dompu ini membawa malapetaka tersendir bagi para Sultan Dompu kala itu.

Dalam hal ini para sultan terpecah-pecah mempunyai kelompok masing-masing yang saling menjatuhka satu sama Lain. Sehinga kala itu kesultanan Dompu di pimpin oleh para sultan yang lemah-lemah (Sejarah Kabupaten Dompu, Agus Soeryanto).

Para Penunggang Kuda dengan Tombak di Dompu tahun 1945 (Sumber : IWI)

Semuanya berawal dari Abdurahman yang juga dikenal dengan nama Daeng Malongi yang dilengserkan oleh pendukung dari adiknya Abdul Wahab. Abdurahman dinilai sangat tidak tepat menjadi sultan untuk memimpin dompu karena sikapnya terlalu lemah pada Belanda, di tambah pengukuhan Abdurahman dua kali menjadi sultan. Kemudian para keturunan yang merasa diri sebagai ahli waris saling berebut dan menyatakan diri sebagai putra mahkota yang sah.


Menurut professor Truhart tahun 1799 Sultan Abdullah I dilengserkan dari tahta kesultanan Dompu. dapat disimpulkan setelah Abdullah I dilengserkan kemudian diganti oleh Zainal Abidin yang tak lain adalah Daeng Ilauh. Namun menurut Profesor Held, Daeng Ilauh adalah anak pertama dari Sultan Abdul Wahab dari hubungannya dengan istri lainnya. Namun Truhart menyebutkan bahwa Daeng Ilauh anak dari Sultan Pabeta, Sultan Dompu yang ke XI.

Kemudian Daeng Pabeta  dikukuhkan pada tahun 1798 untuk menggantikan ayahnya Sultan Abdurahman, namun dia lengserkan sebelum genap satu tahun menjadi sultan karena juga dinilai tidak berhak memegang tampuk kesultanan. Setelah Pabeta lengser semua keluarganya pindah ke Bima, yang sejak awal juga anaknya Daeng Ilauh juga sudah tinggal dan dibesarkan di Bima, diperkirakan istri dari Sultan Pabeta berasal dari Bima.

Daeng Ilauh menyatakan tidak menyetujui dan keberatan atas dikukuhkannya Sultan Abdullah I pada tahun 1798 yang tak lain adalah pamannya sendiri. Membentuk pasukan dari orang-orang yang masih setia pada keturunan Abdurahman, Daeng Ilauh menuju Dompu dan didukung oleh beberapa bangsawan Bima beserta para prajuritnya.

Kondisi keamanan Kesultanan Dompu tidak stabil, pasukan Daeng Ilauh memperok-porandakan seisi Dompu. Kemudian Sultan Abdullah I berhasil dilengserkan pada tahun 1799, campur tangan residen untuk stabilitas keamanan juga tidak begitu berpengaruh, karena residen lebih mendukung kelompok Daeng Ilauh. Kemudian Daeng Ilauh naik tahta pada tahun yang sama lengsernya Abdullah I, di nobatkan sebagai Sultan Dompu ke XIII dengan nama Zainal Abidin (Daeng Ilauh) yang berkuasa dari 1799 hingga 1805.

 Dari laporan residen kompeni Bima A.T Vermeleun bahwa Daeng Ilauh adalah seorang, yang sangat sopan dan pemberani dengan pikiran yang baik. Dia (Daeng Ilauh) sangat mengambarkan seorang Abdul Wahab yang sangat pemberani. Vermeleun merupakan kepala militer yang baru dipindahkan dari Makassar. Melihat dia lebih mendukung dan menyanjung Daeng Ilauh, karena watak Vermeleun yang sudah terpengaruh oleh lingkungan Makassar yang berwatak kasar dan keras yang juga terdapat pada Daeng Ilauh.


Oleh : Fahrurizki




1 comments Blogger 1 Facebook

  1. Selamat Pagi semua nya DEWALOTTO kini lebih lengkap dengan ada games TOGEL, BATU GONCANG, POKER, TEMBAK IKAN dan sebagainya lagi wahhh seru lo ini dengan 1userid saja kita sudah bisa bermain semua permainan disini lohh modal 20rb saja kita sudah bisa mencoba peruntungan disini jadi tunggu apa lagi yuk segera bergabung bersama kami ya proses mudah dan cepat kami sajikan untuk anda semuanya silahkan untuk info lebih jelas pin 7BF59345 di add ya..

    ReplyDelete

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top