Awal tahun 1930 hasil bumi di pulau Sumbawa banyak diminati di pulau Jawa, Bali hingga Makassar. Berbagai macam hasil bumi seperti bawang, kacang dan kapuk menjadi primadona dengan untung yang sangat besar. Terlebih kapuk yang sudah menjadi pengiriman tetap di tahun 1920 hingga 1930 sebagai bahan kasur dan bantal.

Pengiriman bawang dan kapuk terbanyak yang masuk di Pulau Jawa berasal dari sebuah perusahaan yang bernama NV Yasin Idris FH Company berasal dari Bima, Pulau Sumbawa. Pengiriman perbulannya mencapai ratusan ton hasil bumi dari Bima, memenuhi permintaan pasar yang mengharuskan Yasin Idris FH Company membangun beberapa bangunan besar gudang penyimpanan di Pelabuhan Bima.

Haji Yasin (tengah) ketika pulang menghadiri acara bersama Sultan Bima Muhammad Salahuddin (Kiri) dan Sultan Sumbawa Muhammad Kaharudin (Kanan). sumber koleksi keluarga Haji Nurdin Djafar

Yasin Idris FH Company perusahaan dagang milik bumiputra yang pertama kali membangun sebuah gudang penyimpanan bersebelahan dengan Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) sekarang menjadi kantor PELNI, gudang berjejer berdiri kokoh bersaing bersama para importer tionghoa. Yasin Idris sebuah perusahaan yang menghasilkan ratusan ribu gulden berkembang hingga membangun cabang perusahaan di seantero Indonesia Timur.

Merajai perdagangan hasil bumi di Nusa Tenggara, membawa nama Haji Yasin di kalangan perusahaan besar milik orang Belanda. Bukan hanya hasil bumi yang dijual oleh Yasin Idris FH Company juga berbagai macam ternak seperti kuda, pada catatan dagang perusahaan G.W Tromp de Haas & Co pada hari selasa 16 Juni 1925, Haji Yasin melakukan transaksi besar jual beli kuda bersama perusahaan Batavia bernama Benteng Miring dengan jumlah yang sangat besar.

Siapakah pemilik NV Yasin Idris FH Company? dia juga bernama yang sama  dengan perusahaan dagang miliknya yaitu Yasin Idris yang terlahir dari seorang saudagar bernama Idris di Kampung Soro, Bima. Yasin adalah anak pertama dari dua bersaudara, adiknya bernama Ibrahim Idris, belum diketahui tahun berapa beliau di lahirkan.

Menurut nara sumber yang juga cucunya Haji Nurdin Djafar, diperkirakan Yasin Idris atau biasa disebut Haji Yasin lahir pada tahun 1900-an. Keluarga Idris berangkat haji bersama keluarganya diperkirakan saat anak-anaknya usia remaja.

Foto Haji Yasin Idris. Sumber koleksi keluarga Haji Nurdin Djafar

Ilmu dagang diwariskan oleh orang tuanya kepada Yasin muda kala itu, dia memulai meniti karir menjadi seorang pedagang di usianya yang masih sangat muda. Lapak kecil yang diwariskan oleh orang tuanya, dibangun dengan modal tekun hingga menjadi kerajaan bisnis NV Yasin Idris FH Company yang besar di kepulauan Nusa Tenggara. Haji Yasin juga adalah pelopor membuka jalur perdagangan bawang di pulau Jawa, melalui perusahaan miliknya.

Tahun 1942 jepang masuk di Bima, segala macam peraturan dan kebijakan Hindia Belanda diubah oleh Jepang, Yasin Idris FH Company mengalami kesulitan untuk menukar mata uang yang ditetapkan oleh Jepang. Perusahaan mengalami kemacetan untuk sementara, tahun 1943 sekutu memborbardir Bima melalui pesawat udara, uang cash di isi memenuhi lemari besar milik Haji Yasin, kemudian di kuburnya di belakang halaman rumah untuk menghindari penjarahan oleh Jepang, di bantu oleh beberapa anaknya. Kisah Umi Eno salah satu menantu Haji Yasin yang masih hidup.

Tahun 1940-an Yasin Idris FH Company banting setir menjadi perusahaan properti pertama di Pulau Sumbawa. dia membangun areal pertokoan di pasar lama Bima tepatnya jalan Sultan Hasanuddin mulai Toko Daya Indah hingga Duta Ban, kenang Haji Nurdin.

Kebanyakan pedagang Tionghoa dan keturunan Arab menyewa pada Haji Yasin. Lalu tahun 1951 pengembangan bisnis property Haji Yasin berkembang, dia membangun sebuah Hotel di bilangan Jalan Lombok, hotel itu diberi nama Hotel Merdeka, karena bertepatan dengan masuknya Bima ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Perusahaan NV Yasin Idris FH Company ditutup, lalu Haji Yasin mulai merambah bisnis properti di Bima. ratusan bangunan pertokoan di bangun dan disewakan oleh haji Yasin. Kemudian sekitaran tahun 1955 seorang pengusaha bioskop Tionghoa bangkrut, lalu Haji Yasin membeli bioskop tersebut dan mengubahnya menjadi bioskop modern dan diberi nama “Merdeka”.

Jejak kerajaan bisnis Haji Yasin sekarang tinggallah kenangan, bangunan-bangunan yang beliau bangun masih terlihat di jalan Hasanuddin, Kota Bima. seorang pemuda yang diwariskan lapak kecil hingga merajai properti, seorang Bumiputra yang mampu bersaing dengan pedagang asing.


Oleh : Fahrurizki





1 comments Blogger 1 Facebook

  1. Tks mas fahru rizki tulisan yg manis ini. Smg bisa menginspirasi kita yg muda. Beliau ada khilafx.. pasti, mdh2an beliau almarhum dan keluarga2nya yg sudah wafat diampuni dosanya, ditempatkan di jannah bersama dgn ulama2 dan kaum cendekia.. amiin Allahuma amiiin

    ReplyDelete

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top