Kerajaan Tambora dahulu berpusat di bagian barat Semanjung Sanggar dan sekarang Tambora adalah nama salah satu Kecamatan yang masuk di wilayah Kabupaten Bima. Nama Tambora mulai mendunia sejak abad 19 tepatnya pada tahun 1815 masehi dimana terjadi bencana Catastrophe erupsi gunung Tambora yang meluluh lantahkan semenanjung sanggar.

Erupsi gunung Tambora memberikan dampak yang sangat signifikan pada dunia terlebih pulau Sumbawa, dimana kelaparan terjadi pada empat kerajaan sekitarnya akibat gagal panen dan juga “Years Without a Summer” atau tahun tanpa musim yang melanda Eropa Utara, Amerika Timur, dan Kanada Timur. letusan itu mengeluarkan abu vulkanik sebesar satu setengah juta ton debu ke lapisan atmosfir sehingga gagal panen dan kelaparan terjadi di negara-negara tersebut.

Jauh sebelumnya nama Tambora mulai disebutkan dalam catatan lama babad Dwijendra Tattwa sebuah babad yang ditulis pada lontar dengan panjang 40 cm dan lebar 3,5 cm dengan jumlah 63 lembar yang menggunakan aksara Bali, berasal dari Mambal Badung. Dimana dalam babad tersebut mengisahkan perjalanan Danghyang Niratha dari Daha ke Tambora pada tahun 1478-1560. Sang Brahmana tersebut melawat ke Tambora dalam rangka mengunjungi saudaranya yang bermukim di pulau Sumbawa.

 Rombongan Raja Bali tahun 1597, oleh Houtman. (sumber : Bali Chronicles, Willard Hanna)

Danghyang Niratha adalah seorang pengelana Hindu asal Jawa abad 16 dan pendiri ajaran Shaivisme di Bali. Dia diyakini sebagai orang suci dan mempunyai kesaktian dalam ajaran Hindu, sedangkan di Lombok dia kenal dengan nama Tuan Semeru. Suatu legenda mengisahkan perjalanannya dari Jawa ke Bali dengan menduduki sebuah  Labu, karena itulah dalam lingkungan Brahmin di Bali mengkonsumsi labu sangatlah tabu.

Berbagai legenda tentang kesaktian Danghyang Niratha kerap mewarnai kisah-kisahnya di Bali, seperti ketika dia sampai di Bali di kerajaan Raja Dalem Baturenggong, saat itu wabah penyakit menjangkit di pulau itu, kemudian Danghyang Niratha membantu kerajaan itu agar terselamatkan dari wabah dengan memberikan rambutnya pada Raja untuk membantu menghapus penderitaan.

Perjalanannya di mulai dari pulau Jawa, Bali hingga ke timur pulau Sumbawa. Dalam Babad Dwijendra Tattwa tentang perjalanan Danghyang Niratha ke Tambora (Pulau Sumbawa) dikisah sebagai berikut :

Perahu yang kandas di Ponjok Batu dan yang ditumpangi oleh sang pendeta ke Sasak, kini telah menanti di pantai dengan perlengkapan yang sempurna, bersiap akan menyebrangkan sang pendeta ke Sumbawa. Sesudah sang pendeta habis bercakap-cakap lalu naik ke perahu dan terus berlayar. Tak lama antaranya telah tiba di pantai Sumbawa, perahu berlabuh dan sang pendeta turun ke darat dengan pelan-pelan diiringi juragan perahu (kepala anak buah perahu). 

Di jalan banyak orang yang dijumpai atau berpapasan, semuanya mengelak atau minggir memberi jalan kepada sang pendeta yang baru datang dengan sikap menundukkan kepala, ada yang melirik memperhatikan, semuanya takjub melihat perbawa wajah muka sang pendeta sungguh-sungguh angker dan suci tak ada bandingannya.

Ada diantaranya yang bertanya kepada juragan perahu yang mengiring, “Siapakah orang yang baru ini?” Juragan perahu menjawab dan menjelaskan, “Orang ini adalah seorang pendeta yang suci, bernama Tuan Semeru, sungguh-sungguh suci dan sakti tak ada bandingannya berasal dari Daha Jawa Timur. Kami pernah mendapat bahaya hanyut. 

Perahu kami dibawa arus hampir sebulan lamanya sampai perbekalan kami habis, sehingga kelaparan dan mabuk laut, pingsan tidak sadarkan diri, akhirnya kandas di pantai pesisir Bali. Beliau Tuan Semeru yang menolong memberikan kami hidup kembali, sebab itu kami mengiring beliau sebagai pembalas jasa dengan hati yang sungguh-sungguh bakti. Beliau mengatakan, konon ada saudara sepupu beliau disini, sebab itu beliau datang kemari ingin jumpa kepada saudara sepupunya kalau masih hidup”.

Jawab orang Sumbawa itu, “O … ya, junjungan kami yang dari Majapahit itu telah pulang ke alam baka dan telah lama sekali”. Demikian percakapan mereka itu, namun sang pendeta terus saja berjalan sampai ke kaki gunung berapi yaitu Gunung Tambora.

Di sana baru beliau berhenti dan bermalam di sebuah pondok orang tani. Yang punya pondok menerima dengan hormat Tuan Semeru bermalam di sana. Beliau disuguhi ketela rebus dan pisang rebus ala kadarnya, karena sawah tegalnya tidak menghasilkan tahun itu, sebab tanaman padi gagal dan palawija tidak jadi karena diserang hama penyakit ulat dan belalang.

Besok paginya Kepala Desa mendengar ada seorang pendeta sakti mengunjungi daerah desanya. Segera ia menghadap kepada sang pendeta di pondok orang itu. Setelah bertemu Kepala Desa dengan khidmad berjabat tangan dan mencium tangan sang pendeta.

Sesudah sama-sama duduk Kepala Desa bertanya kepada sang pendeta, “Dari mana datang dan apa kepentingan beliau datang ke Sumbawa”. Jawab sang pendeta, “Bapak dari Bali, tapi sudah lama diam di Sasak. Bapak datang ke mari sekedar ingin mengetahui keadaan alam di sini, terutama ingin mengetahui gunung api Tambora dari dekat”.

“Kalau demikian, Tuan pendeta, kami menghaturi sang pendeta pindah menginap di rumah kami selama di Sumbawa, karena rumah kami cukup besar dan ada tempat yang layak untuk Tuan pendeta. Lain dari itu kami permaklumkan bahwa sawah tegal desa kami di pegunungan ini sejak lama diserang hama penyakit ulat dan belalang sehingga segala tanam-tanaman tidak menjadi. Karena itu rakyat Tuan pendeta di sini mengalami kekurangan bahan makanan, sehingga hidupnya dalam kesulitan besar. Kedatangan Tuan pendeta sekarang ini, kami anggap dari Tuhan Allah menolong kemelaratan hidup umatnya di sini. 


Babad Dwijendra Tatwa. (sumber : Kahle/ Austin Foundation)
Kesimpulannya kami mohon tolong dengan segala hormat agar tuan pendeta memberikan hidup rakyat di sini, dengan mengusir atau memusnahkan hama penyakit tanam-tanaman itu”.
Sang pendeta menjawab, “Kalau begitu, baiklah nanti malam dicoba, supaya semua orang yang punya sawah ladang mengisi sawah ladangnya suatu pedupaan yang berisi api dan kemenyan yang harum yang mengepul asapnya semalam-malaman. Bapak nanti memuja dari suatu tempat, memohonkan kepada Tuhan dan Dewa di Gunung Tambora agar seluruh hama penyakit itu dipindahkan dari sini” demikian sang pendeta.

Kepala Desa itu sangat gembira hatinya mendengar kata Tuan Semeru, lalu diiring pindah tempat ke rumahnya. Pembantu-pembantunya diberitahu agar memerintahkan orang-orang desa yang punya sawah ladang supaya semua membawa pedupaan berisi api dan kemenyan ke sawah ladangnya masing-masing malam nanti.

Setelah sang surya terbenam dan hari mulai menggelap malam, Tuan Semeru diiringi oleh Kepala Desa pergi ke suatu tempat di ladang yang tanahnya agak tinggi. Di sana beliau itu memuja dengan melakukan Yoga. Sampai larut malam baru kembali ke pesanggrahannya. Keadaan di sawah ladang malam itu diliputi dengan bau harum asap kemenyan. Besok paginya seluruh ulat dan belalang yang biasanya memenuhi sawah ladang tidak ada tampak seekorpun. Bersih sama sekali. Orang-orang desa semuanya heran dengan kesaktian sang pendeta. 

Semuanya memuji mengatakan sungguh-sungguh seorang pendeta sakti dan suci, tidak memikirkan upah, belas kasihan kepada orang-orang melarat. Semenjak itu tanaman-tanaman di sana menjadi baik subur dan berhasil. 

Tuan Semeru tiap-tiap hari keluar juga melihat-lihat alam dan tanam-tanaman orang disertai beberapa pengiring. Di dalam perjalanan banyak menjumpai orang-orang sakit yang memohon obat kepada beliau dan semuanya menjadi sehat segar bugar setelah diobati, sehingga beliau masyhur di sana, seorang pendeta sakti dan mampu mengobati orang-orang sakit.

(terjemahan Dwijendra Tattwa di atas disadur dari blog Bapak Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari).


Oleh : Fahrurizki





0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top