Pada bulan juli 2016 yang lalu, di Kabupaten Bima terselenggara pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak di sekitar 58 desa secaraaman dan demokratis. Para kepala desa terpilih juga sudah dilantik, disumpah di atas kitab suci untuk menunaikan janji-janji sepanjang jalan kampanye. Besar sekali harapan semua elemen baik pemerintah daerah maupun masyarakat agar pemimpin desa itu, diharapkan berperan secara optimal sebagai pelayan masyarakat yang baik, sederhana, pekerja keras dan membumi.

Perhelatan pesta demokrasi desa yang damai, memang layak diapresiasi. Harapan untuk menikmati kenduri demokrasi nan gurihperlahan mulai terjawab atas terselenggaranya hajatan suksesi kepemimpinan desa dengan relaks tanpa ketegangan tingkat tinggi. Tak lagi seperti yang lalu-lalu, dimana suhu politik dalam setiap momen pergantiankursi kekuasaan di Dana Mbojo (Tanah Bima) kerapkali bersuhu panas melebihi takaran. Bukan hanya pada level Pilkada, tapi juga terjadi dalam sejumlah pesta demokrasi Pilkades. Pada Pilkada Bima 2010 misalnya, kantor KPU daerah Bima menjadi sasaran amuk massa pendukung salah satu pasangan calon, begitu pula sebuah kantor partai politik dibakar.

Sungguh layak disyukuri, momen Pilkada Bima 2015 relatif aman, tampak mulai ada kedewasaan berdemokrasi dan berkompetisi yang sehat, walaupun disana-sini terjadi ketegangan kecil,tidak begitu signifikan. Preseden yang cukup baik itu kemudian berlanjut di arena Pilkades serentak 2016, dimana gejala yang mengarah ke tindakan kekerasan dapat dicegah dan diantisipasi berkat kerjasama semua pihak. Kendati pada tahun sebelumnya, waktu Pilkades 2013, pernah terjadi bentrokan antar pendukung Cakades di salah satu desa di Kabupaten Bima, sehingga ketua panitia menjadi korban. Belum lagi gesekan antar elite yang bertarung hingga menggiring massa pendukung ke dalam kubangan anarkis.

Karena itu, besar sekali harapan kitaagar panggungdemokrasi Mbojo di masa yang akan datangsteril dari kerusuhan yang sangat kontra-produktif. Sungguh layak disyukuri ikhtiar untuk mewujudkan Bima Ramah menuai sinyal positif. Sebagai muslim, dan sebagai Bimanes yang ber-Maja Labo Dahu memang harus begitu. Islam itu, ya Cinta damai. Dalam bahasa Bima, dikenal ungkapan ‘Meci Angi’. Dan Meci Angi adalah makam tertentu dalam keberislaman, keberihsanan, yang perlu dibumikan pula ke jalur politik.

Pada masa pemilihan Walikota Bima yang akan datang, tentu saja demokrasi damai menjadi harapan semua penghuni Dana Mbojo. Pesan moral yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadis serta seruan para Tuan Guru pun, intinya menebarkan cinta dan kasih sayang, mencintai dan mengasihi antar sesama, sekalipun dalam kompetisi politik demokrasi. Ketika kita berbuat kerusakan, kerusuhan dan kekacauan, apalagi melukai sesama saudara se-muslim, saudara se-kampung dan se-tanah air, maka ritual peribadatan bahkan kadar keislaman patut dipertanyakan.

Secara esensial, muslim sejati itu semestinya tidak hanya menjalankan ibadah ritual semata, seperti shalat, puasa, naik haji, baca Al-Qur’an, dzikir dan lain-lain, tapi juga harus beriringan dengan menjalankan ibadah sosial, misalnya gotong royong, saling membantu dalam kebaikan, peduli kaum terpojok, harmonis dengan tetangga, dilarang mencuri, dilarang membunuh, dilarang berjudi dan menjauhi perbuatan tercela lainnya. Tak kalah pentingnya, kita berupaya serius menjauhi praktik korupsi, penyalahgunaan narkoba dan berbuat teror.

Penting pula bagi kita untuk beribadah yang berwawasan ekologis, menjaga lingkungan alam sekitar, menjaga kebersihan, merawat tanaman, dilarang membuang sampah sembarangan, dilarang membakar hutan, dilarang merusak fasilitas publik dan lain-lain. Itulah sebabnya, nilai-nilai keagamaan itu seharusnya ditransformasikan ke dalam agenda politik baik bagi elite maupun publik dalam ruang partisipasi berdemokrasi. Dengan begitu, maka politik akan menjadi wahana yang membawa kemaslahatan bagi umat dan kesejahteraan rakyat.

Dalam konteks yang lebih universal, kepada pemeluk agama lain saja kita diperintahkan untuk menghormati dan menghargai serta mengedepankan etos toleransi, apalagi antar umat muslim. Maka sangatlah ironis hanya gara-gara kalah dalam percaturan politik misalnya, lantas kita berbuat buruk yang mencelakakan sesama warga. Karena itu, mental ‘siap menang siap kalah’ harus benar-benar diamalkan secara nyata. Begitu pula pada kompetisi lainnya, misalnya main bola, harus siap menang siap kalah, dan menunjukkan jiwa sportifitas. Kalau tak ada yang bermental siap kalah, akan jadi bola panas yang menyengat massa liar ke tindakan brutal. Disini memang dibutuhkan kerendah-hatian yang mesti dilatih terus-menerus.

Untuk mengekang nafsu amarah yang merusak orang lain itu, kita punyaritual puasa sebagai teknik pengandalian stabilitas temperatur batin. Untuk mengendalikan pikiran liar dan perilaku brutal, dzikir adalah metode spiritual yang menenangkan, lalu terpancar aurakedamaian. Shalat berjama’ah juga punya makna penting, maka wajarlah ‘bonus’, atau pahala dilipatgandakan karena mengandung nilai-nilai sosial, mencerminkan lambang silaturrahmi dan merekatkan kejamaahan. Modal spritual tersebut sangat perlu sebagai pendorong demi tegaknya akhlak berpolitik, akhlak bersosial yang saling mencintai tanpa syarat. Dalam konteks itulah, pada akhirnya spirit keislaman diharapkan bisa mewarnai pentas politik dan menghidupkan energi demokrasi. Kalau prosesnya baik, maka hasilnya juga baik. Itu hukum alam.

Ikhtiar untuk menjadi pemimpin politik sangatlah tenang rasanya kalau diawali dengan niat yang tulus untuk benar-benar mengabdi sebagai pelayan publik sepenuh jiwa. Kalau niatnya baik, maka apapun yang terjadi akan menghadirkan suasana yang tenang pula, entah kalah atau menang dalam kerangka demokrasi elektoral itu. Yang penting kita sudah berpartisipasi dalam upaya memberikan edukasi politik yang konstruktif bagi warga masyarakat. Nilai-nilai edukasi politik itu dapat direfleksikan dalam hal tertib secara prosedural-administratif, mengikuti aturan main yang berlaku, menunaikan tugas dan kewajiban dengan penuh tanggung-jawab.

Secara komunikasi politik, para aktor yang berlaga di pentas politik demokrasi dapat menyampaikan pesan-pesan politik, nilai dan gagasan yang berpijak di atas visi kerakyatan yang terang, menawarkan jawaban yang konseptual dan praktis terhadap persoalan yang dihadapi oleh lingkungan dan komunitasnya. Pada tataran kampanye, para kandidat mengedepankan promosi diri sesuai fakta objektif apa yang menjadi keunggulannya, dan tidak melancarkan kampanye hitam yang merusak cita rasa persaudaraan. Disinilah urgensi dari moralitas dan etika politik agar jadi cahaya pemandu terarah untuk mewujudkan marwah demokrasi yang bermartabat.

Pada saat yang bersamaan, para pendukung masing-masing kandidat dapat berpartisipasi menyukseskan agenda demokratisasi agar berlangsung aman dan damai. Karena ujung daripada kompetisi itu demi kepentingan publik, maka kesuksesan hajatan demokrasi harus menjadi inisiasi akar rumput dan gerakan publik, serta tugas bersama semua lapisan kelompok masyarakat. Kalau ada kesadaran semua pihak, maka rumah demokrasi di Dana Mbojo yang dibangun akan menjadi ruang hunian ideal yang dapat merekatkan “kamar-kamar politik”atas ragam ekspresi yang multi-warna dari berbagai penghuni yang ingin menguji kapabilitas dalam proses seleksi alam kepemimpinan. Dalam aras kultural, kita dapat mengacu pada kearifan budaya lokal Mbojo seperti Mafaka Kataho (musyawarah mufakat yang baik), Maja Labo Dahu (Malu dan Takut kepada Allah SWT (takwa), Kalembo Ade (berhati besar) yang mengandung makna filosofis untuk berikhlas, bersabar dan beryukur.

Kalau terjadi kekhilafan antar sesama, maka bersegera untuk saling meminta maaf adalah jauh lebih tampan ketimbang memahat ‘patung’ perselisihan. Hal itu juga adalah manifestasi dari filosofi Kalembo Ade. Karena itu, perpaduan antar etika politik universal, kearifan kultural dan Islam sebagai sumber tatanan nilai orang Bima pada umumnya harus dijalankan dalam praktik berdemokrasi, bepolitik. Dengan begitu, terciptalah demokrasi tanpa ceceran darah, dalam bahasa Bima: mboho ra’a. Demokrasi tanpa mboho ra’aadalah sebentuk paras politik yang indah. Lalu terciptalah wajah demokrasi yang bening, yangsteril dari noktah arogansi, bebas dari konflik dan kekerasan, bersih dari penyakit hati (dendam, sombong, dengki) yang sungguh bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya adi luhung. Dari butir-butir hikmah itulah kita bisa bercermin demi masa depan Dana Mbojo yang lebih maju, toleran, religius dan berkebudayaan.


Oleh: Mawardin Sidik

Penulis adalah Pemerhati Sejarah dan Budaya Bima, serta Editor mbojoklopedia.com


0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top