Kopi bagi masyarakat desa Padende sudah menjadi kebutuhan sejak di budidayakan pada tahun 1975 oleh Bupati Bima H. Umar Harun atau biasa disebut Ama Emo oleh orang Bima. Kebutuhan kopi sudah menjadi hidangan wajib saat bersantai atau sehabis makan. Biasanya sajian kopi masyarakat Padende digoreng dengan wajan terbuat dari tanah liat yang apinya dari kayu bakar setelah itu ditumbuk dengan lesung kayu tapi sekarang sudah di giling menggunakan mesin, namun aromanya tetap sangat memikat hidung.

Masyarakat Padende sejak masa silam, zaman kesultanan sudan mengenal dan mengkonsumsi kopi, cerita Haji Ridwan (67), salah satu penduduk asli desa Padende yang sudah sejak lama menanam dan membudidayakan kopi. Haji Ridwan sosok yang sangat ramah dan sangat menarik ketika Mbojoklopedia berbincang dengan beliau. Perbincangan dimulai cerita asal muasal kopi, dahulu kopi tumbuh liar dihutan belantara disebut “Kahawa Mpida” yang artinya kopi kecil. Biasanya masyarakat dahulu mencari Kahawa Mpida pada bulan Juni dan Juli, kata Haji Ridwan.

Kahawa Mpida memiliki cita rasa yang sangat nikmat, aromanya tajam. Tahun 1968 masyarakat Padende turun gunung melakukan barter kopi dengan masyarakat desa lain, barter kopi dengan kebutuhan mereka, misalkan ikan dan garam.  Waktu kecil Haji Ridwan sering pergi bersama teman sebayanya untuk memetik Kahawa Mpida, kenang Haji Ridwan. Namun sekarang Kahawa Mpida sudah tidak lagi dipetik, “tapi ada beberapa orang yang masih suka akan seleranya mereka akan pergi memetiknya,” tambah Haji Ridwan sambil menunjuk ke arah hutan.

Seiring waktu berjalan tahun 1975 pemerintah Kabupaten Bima melalukan uji coba budidaya kopi di desa Padende, dan usaha itupun menuai keberhasilan hingga kini, karena cuaca Padende yang sangat dingin dan mempunyai ketinggian kurang lebih 1000 meter diatas permukaan laut. sekarang kopi hasil dari budidaya tersebut dinamakan oleh masyarakat yaitu kopi “Ker” yang berasal dari kata kerjasama. Panen kopi pertahunnya di desa Padende bisa mencapai 20 ton perdusunnya, tapi harganya tidak begitu stabil. “Pernah pada tahun 1990-an panen kopi melimpah, namun sayang harganya sangat anjlok tidak sesuai dengan keinginan petani,” kata Haji Ridwan.

Haji Ridwan, sosok yang ramah dan menyenangkan.

Tiba – tiba aroma kopi keluar dari balik horden rumah Haji Ridwan, ternyata istrinya Ibu Maemunnah membuatkan kopi dari hasil kebun miliknya, kopi yang sangat nikmat yang diolah secara tradisional, sehingga perbincangan semakin menarik. Tiap musim panen kopi diladang Haji Ridwan bisa mencapai 1 hingga 2 ton. Cuman satu hal yang ditakuti oleh para petani kopi yaitu hama monyet. Ditahun 2014 mereka sering mengadukan hal itu pada pemerintah setempat gangguan monyet pada kebun kopi mereka akibat dari pembabatan liar hutan, kerap juga terjadi jika tidak ada tindakan pemerintah, para petani tersebut memburu dan membunuh monyet sebanyak-banyaknya, seiring waktu mereka sadar bahwa monyet termasuk hewan liar yang dilindungi.

Dahulu cerita Haji Ridwan, monyet sangat berguna ditahun 1970-an masyarakat sengaja melepas monyet pada kebun mereka untuk memakan ulat yang ada pada pohon kopi. “Tapi sekarang monyet menjadi gangguan pada kebun kopi akibat orang sering membakar dan membabat hutan, sehingga monyet turun ke desa untuk mencari makanan,” imbuh Haji Ridwan dengan nada kecewa.

Masyarakat desa Padende selain bertani kopi, mereka juga bertani kemiri dan cengkeh. Pak Majid (50) warga desa Padende yang bertani cengkeh. Dia bercerita tentang jatuh bangun dalam bertani cengkeh, ditahun 2013 Padende dilanda angin topan yang besar dan banyak pohon cengkeh tumbang dihantam oleh angin. Seluruh pohon cengkeh mengalami 70% yang rusak, sehingga panen mengalami penurunan dari tahun sebelum angin topan datang. “Dari sebelumnya 20 pohon sekarang tersisa 4 pohon milik saya, Sekarang melalui dana desa, masyarakat Padende mulai lagi menanam bibit cengkeh,” kata Pak Majid.(mbojoklopedia.com)




0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top