Awal abad 19 Pulau Sumbawa di landa bencana Catastrophy yang sangat dahsyat yaitu meletusnya sebuah gunung di Kerajaan Tambora, Semenanjung Sanggar. Sehingga menciptakan kondisi Pulau Sumbawa yang sangat memprihatinkan, terlebih kerajaan-kerajaan yang posisinya sangat dekat dengan areal letusan seperti Sanggar dan Dompu. Letusan terjadi tahun 1815 masehi dimana kelaparan dan wabah penyakit menyerang rakyat Sanggar, Dompu dan Bima.

Hingga tahun 1820 pemulihan pulau Sumbawa akibat letusan masih jauh dari sempurna, lahan-lahan sawah masih ditutupi abu yang setebal 15-20 cm, dimana-mana seluruh kerajaan pulau Sumbawa mengalami krisis makanan, “ketika seorang Botanis C.G.C Reindwardt datang di Bima tahun 1821, dia mengalami kesulitan besar untuk mendapatkan persediaan bahan makanan kebutuhan kapalnya.” Tulis Helius Sjamsuddin dalam Letusan Gunung Tambora 1815.

Lukisan oleh J.E. Heemskerkck tahun 1864, menggambarkan bajak laut Tobelo (sumber : Historiek).

Dalam hal ini kelaparan di pulau Sumbawa juga salah satu faktor yang menjadikan beberapa kelompok masyarakat sebagai bajak laut. Seperti halnya orang-orang di pulau Kaung bagian selatan Sumbawa, setelah letusan Tambora lahan pertanian mereka rusak dan susah untuk ditanami lalu untuk menyambung kehidupan akhirnya mereka membajak kapa-kapal pedagang yang lewat di perairan laut Flores (lihat : Kelaparan Memaksa Mereka menjadi Bajak Laut).

Lain halnya dengan para bajak laut yang menyerang Bima pada sekitaran tahun 1820, saat Sultan Ismail dan Wazir Raja Bicara Abdul Nabi berkuasa, ketika musibah letusan Tambora 1815 terjadi kemudian pulau Sumbawa kembali di landa malapetaka serangan bajak laut lagi. Dalam Syair Kerajaan Bima (SKB) yang sebagai sumber dan saksi mata ditulis oleh seorang Khatib kesultanan yang bernama Khatib Lukman, dimana bajak laut digambarkan dengan ciri fisiknya “tubuh hitam memakai kancut” dan mereka adalah orang Tobelo.

Awal penyerangan bajak laut dilakukan di kerajaan Sanggar yang saat itu sedang membangun kembali kerajaannya akibat letusan Tambora, disana mereka mendapatkan perlawanan dari raja Sanggar. Namun karena jumlah perompak bajak laut sangat banyak sehingga Sanggar mengalami kekalahan dan kemudian rajanya berlari memasuki hutan. Negeri itu dijarah habis oleh para perompak, senjata, harta dan tawanan mereka ambil setelah itu pelabuhannya di hancurkan dan musnah.

Setelah kerajaan Sanggar dijarah, kemudian para bajak laut menuju Wera. Disana merekapun menjarah dan membakar perkampungan, kemudian Sape menjadi target berikutnya. Namun sebelum bajak laut tiba di Sape terlebih dahulu hal itu sudah didengar oleh Raja Bicara. Disana (Sape) disiapkan strategi perlawanan untuk menyambut penyerangan bajak laut, pasukan kesultanan dikirim ke Sape untuk membantu kaum Melayu dan Bugis yang sudah bersiap melawan bajak laut, pasukan kesultanan kala itu dipimpin oleh Jeneli Parado dan Bumi Waworada.

Dua hari peperangan berlangsung di Sape, suara-suara tembakan meriam membahana. Namun karena jumlah para bajak laut terlalu banyak akhirnya Sape dikuasai dan pasukan Bima dikalahkan, semua rumah dibakar dan dijarah harta bendanya, dalam SKB dikisahkan sebagai berikut :

tingkah dan lakunya berbagai-bagai
seperti anjing merebut bangkai
mendapatlah ia makan dan pakai
dinaiknya pula negeri Sape

negeri Sape pergi dilanggar
datangnya bagai halunnya yang besar
tempik dan sorak terlalu gempar
setengahnya menembak setengahnya membakar
(Bait 249-250, Syair Kerajaan Bima)

Jeneli Parado dikisahkan dalam SKB berperang dengan sangat heroik melawan para perompak yang mulai menduduki pelabuhan Sape selama dua hari, tak kenal takut dia ingin menuju pelabuhan dan membunuh perompak namun dirinya dilarang oleh para prajuritnya dan menyuruh untuk mundur. Bukanlah Jeneli Parado untuk mundur, di Sari dia mempersiapkan pertahanan untuk menghalau bajak laut. Gambaran dari Jeneli Parado sendiri adalah seorang panglima perang seperti yang dikisahkan beberapa bait dalam SKB.

hendak dilawan Jeneli Parado
orang melarangnya sangat gaduh
“janganlah dilawan kafir yang bodoh
Biarlah kami temannya berjodoh”

Jeneli Parado hatinya berani
Memandang lawannya sangatlah seni
Tetapi banyak orang menahani
“biarlah kami dahulu yang fani”
(bait 251-252 Syair Kerajaan Bima)

Raja Bicara mendengar kekalahan pasukan Jeneli Parado, kemudian pasukan lain dikirim menuju Sape yang dipimpin oleh Imam Bima (sebuah gelar). Setelah mereka tiba di Sape, malam harinya mereka membangun benteng kecil dengan pagar kayu yang kokoh, oleh Imam Bima merancang strategi perang yang sangat unik yaitu strategi Garuda Mengeram, “dimana tiap bagian tubuh burung tersebut dipimpin seorang pembesar yang terkenal berani.” Tulis Henri Chambert-Loir dalam Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah.

Pada tiap-tiap bagian strategi tersebut sudah terstruktur dengan baik, dibagian sayap kanan dipimpin oleh Rato Waworada, sayap kiri dipimpin oleh Bumi Parisi dan Jeneli Parado memimpin bagian dada dan tubuh dimana posisi dada tersebut kunci dari strategi Garuda Mengeram, jika dada kalah maka keseluruhannya akan jatuh. Lalu pada bagian ekornya dipimpin oleh Daeng Palina.

Kemudian jam tujuh pagi para bajak laut melancarkan serangan mereka, kegaduhan suara serangan meriam terdengar seantero Sape, bajak laut menghujani benteng dengan tembakan “bagai hujan lebat” kata Lukman. Namun serangan itu gagal sepenuhnya, tembakan dan tombak para bajak laut tidak dapat menembus pertahanan pasukan Bima. Setelah bajak laut kewalahan lalu pasukan Bima melancarkan serangan balik, tembakan dan penyerbuan kiri kanan pasukan Bima menyerang membuat bingung bajak laut.

Setelah perang berlangsung lama, maka terbunuhlah Kapitan (ketua) bajak laut oleh Bumi Parisi dengan tombaknya, kemudian para Kafir (sebutan bajak laut dalam SKB) tidak karuan tanpa arah dan bingung menghalau serangan dari orang Bima, "banyaklah kafir mati tergelimpang” tulis Khatib Lukman. Maka terusirlah sisa dari bajak laut yang hidup, mereka berlari menuju kapal dengan kekalahan yang amat besar.  

Atas keberhasilan Imam Bima dan Jeneli Parado dalam mengalahkan para bajak laut tak pernah lagi datang ke Sape. Imam Bima ini adalah seorang panglima dan arsitek perang yang sangat lihai namun dalam SKB tidak ditulis nama asli hanya gelarnya (Imam), dia sering dikirim untuk berperang diberbagai mendan pertempuran oleh kesultanan, dalam SKB menceritakan ketika dia mendengar akan dikirim ke Sape untuk berperang dengan bajak laut, “gembiranya bagai gajah yang meta” dan “tingkahnya bagai harimau yang garang” tulis Khatib Lukman.


Oleh : Fahrurizki




0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top