Dalam kronik pendirian Tanah Bima, kalau kita merujuk pada naskahBo’(Kitab epos kerajaan dan kesultanan Bima), Sang Bima ditempatkan sebagai “tokoh sejarah”yang mendirikan dinasti kerajaan Bima.Sang Bimadianggap sebagaiiconkekuasaan langitanyang punya keluarbiasaan (sakti). Dalam naskah Bo’ itu juga diceritakan ketika Sang Bima menuju Tanah Bima, iasinggah di teluk Bima, hingga memahat Wadu Pa’a (batu tebing) di Desa Sowa – Kecamatan Soromandi (Kab. Bima). Karena keluarbiasaannya itu pula, lantas Sang Bima diminta menjadi raja oleh para elite lokal (ncuhi) yang dianggap merepresentasikan rakyat pribumi. Berawal dari situlah tradisi ‘kontrak politik’ masa Bima klasik bermula.

Sebagai perbandingan, mari kita menengok kisah serupa di Sulawesi Selatan, seperti dijelaskan pakar komunikasi politik UNHAS Prof. Anwar Arifin (2011:288), gejala seperti di atas dapat diterangkan melalui mitos to-manurung atau orang yang turun (dari khayangan?). Lontara melukiskan to-manurung itu sebagai manusia luar biasa yang tiba-tiba muncul di muka bumi dan tidak diketahui asal kedatangannya. Kemudian, karena keluarbiasaan yang ditunjukkan, maka rakyat melalui utusan atau wakilnya meminta to-manurung itu menjadi raja. Tentu saja to-manurung itu menerima lamaran tersebut dengan senang hati, karena memang hal itu yang diinginkannya.

Keris Samparaja dan Mahkota Sultan Bima, Foto tahun 1953 oleh G.J Held. (Sumber : KITLV)

Dari mitos tersebut, menurut Arifin (2011) lahirlah sikap bahwa bukanlah calon penguasa atau calon pemimpin yang harus aktif berkampanye untuk memperoleh kekuasaan, tetapi sebaliknya calon penguasa itu harus tenang saja, dan rakyatlah yang seyogyanya datang memintanya untuk menjadi penguasa. Supaya hal itu terjadi, seorang calon penguasa harus memiliki berbagai kelebihan yang luar biasa yang dalam tradisi lama dikenal sebagai konsep sakti. Kesaktian itu akan melahirkan kharisma yang memancar dalam diri calon pemimpin. Hal itu menimbulkan konsekuensi logis, bahwa kekuasaan itu harus terpusat, paternalistik, dan kharismatik.

Dari Sulawesi Selatan, kita melancong ke Tanah Jawa. Hal itu menautkan serpihan jejak mistis dalam konstruksi kekuasaan para raja di bumi nusantara. Begitu pula dalam konsep kekuasaan raja-raja di Bima. Perspektif politik sebagai unit analisis dalam konsep kuasa kerajaan Bima ini dimaksudkan untuk menambah horizon akademik dalam khazanah kepustakaan tradisional Dana Mbojo (Tanah Bima). Titik awal untuk melacak genealogi kekuasaan ini berangkat dari pertautan garis silsilah raja-raja tatkala dihubungkan dengan Sang Bima. Ini adalah sebuah usaha untuk melegitimasi otoritas raja-raja Bima yang bersifat dualistis, antara unsur duniawi dan unsur rohani, nyata dan gaib, mistik dan politik.

Di Jawa, menurut Supadjar (2001:27), dalam sejarahnya dunia mistis memiliki akar tradisi yang amat kuat di bumi nusantara ini. Kronik berdirinya tanah Jawa juga banyak dibumbui oleh cerita-cerita berbau magis dan sulit untuk dinalar oleh akal. Kronik berdirinya Dinasti Mataram, merupakan contoh nyata yang menggabungkan dimensi lahir dan batin, nyata dan gaib. Dalam memperoleh legitimasi kekuasaan, babad tanah Jawa banyak bercerita mengenai epos dan hierarki para raja jawa, satu diantara dari sekian yang paling mashur dan terkenal adalah panembahan Senopati, seorang founding father dari dinasti Mataram. Seorang tokoh yang berhasil membuat anyaman mistik dan politik, yang keteladanannya memandu alam pikiran kejawen.

MenurutMuslimin Hamzah (2010),sudah memprasasti dalam anggapan adat orang Bima bahwa wangsa raja-raja Bima menitis dari para dewa kekuasaan seperti Sang Bima. Maka mereka pun dianggap separoh dewa atau manusia yang menjelma menjadi dewa. Salah satu sumber penguatnya adalah silsilah Jawa-Hindu yang mempertautkan raja-raja Bima dengan penguasa khayangan. Silsilah menempatkan raja dan keturunannyasebagai figur-figur mitologis, menitis dari moyang mistis mereka, Sang Bima. Dengan demikian keluarga keraton memiliki bekal kekuasaan magis yang besar. Mereka diagung-agungkan dan didewa-dewakan.Dominasi keraton tersebut sekaligus menempatkan rakyat pada posisi bawahan (hamba, ada ro ela).

Dalam tradisi raja Khmer, bahwa seorang raja harus mengawini putri naga, sebagai lambang kesuburan dalam upaya menjaga kesuburan bagi dinasti yang didirikannya. Di Mataram, setiap raja dianggap mempermaisurikan Nyi Roro Kidul, ratu Pantai Selatan. Mitos ini bertujuan untuk melegitimasi kekuasaan raja Mataram. Dalam babad Lombok juga dikenal Putri Mandalika. Begitu juga dalam mitologi Bima, Sang Bima melakukan pernikahan dengan putri naga, ratu Pulau Satonda, untuk membangun dinasti kekuasaan sekaligus penggalangan kekuatan gaib. Mitos ini bertujuan untuk melegitimasi kekuasaan raja Bima.

Hasil perkawinan gaib Sang Bima, konon melahirkan dua pangeran seperti Indra Zamrud dan adiknya Indra Komala sebagai pewaris tahta dinasti kerajaan Bima. Indra Zamrud kemudian menjadi raja Bima pertama sekaligus fase zaman kerajaan Bima bermula. Bahkan menjadi salah satu kerajaan besar yang jaya di bumi nusantara. Secara turun temurun memerintah sebanyak 16 orang raja hingga akhir abad 16. Era kekuasaan raja Bima berakhir pada masa raja Samara (awal abad XVII) yang dibunuh (kudeta) oleh Salisi ma Ntau Asi Peka, putra raja ma wa’a Ndapa.

Menyitir Heine Robert (1972:17), bahwa sejarah Asia Tenggara, khususnya beberapa dinasti masa lampau,seperti Siam, Birma, dan Jawa, meyakini betul bahwa seorang raja di muka bumi merupakan perwakilan dari reinkarnasi dewa-dewa yang menjelma dan berpadu dalam tubuh seorang raja. Raja Airlangga dari Jawa abad ke 11, menganggap dirinya sebagai reikarnasi dewa Wisnu. Patung dirinya digambarkan sebagai Wisnu yang sedang mengendarai Garuda. Raja Suryawarman II dari Kamboja, juga mengidentikan dirinya sebagai jelmaandan titisan Wisnu, hal I tu ditunjukkan dengan monumen yang amat megahyaitu Angkorwat.

Lebih lanjut Robert (1972) mengatakan, penggunaan teori penitisan seorang dewa dalam diri raja pada masalampau, bukan hanya digunakan dalam memperkuat legitimasi dan kedudukan, akan tetapi juga memberikan pembenaran dalam kudeta dan merampas tahta kerajaan. Sebab dalam pemikiran Budha-Hindu dan Syiwais, seorang yang mampu melakukan kudeta dan mendirikan klan baru, maka ia dianggap memiliki wahyu, yaitu mandat suci untuk memerintah.

Dalam konteks itulah, kita pun menyaksikan jejak kudeta dalam serpihan sejarah dan dinamika politik kerajaan Bima. Kasus kudeta yang dilakukan oleh Salisi terhadap Raja Samara(awal abad XVII) nampak tersugesti seolah mendapat wahyu untuk menduduki tahta kerajaan yang bersumber dari pemikiran teologi-politik Budha-Hindu dan Syiwais. Salisi adalah eksponen Majapahit yang berbasis Hindu. Lakon kudeta politik dilakukan oleh Salisi terhadap La Ka’i (pewaris sah tahta kerajaan Bima), tapi gagal. Kelak, La Ka’i bertransformasi menjadi kerajaan Islam Bima yang menandai terjadinya pergeseran haluan spiritual-politik dari kutub Majapahit-Hindu menuju kutub Islam-Gowa.

Pada masa jayanya, kerajaan Bima bukan hanya menguasai seluruh tanah Bima, namun juga melakukan ekspansi ke luar. Pada abad XV, kejayaan kerajaan Bima – pada masa keemasannya dipimpin oleh Tureli Manggampo Bilmana yang dapat menaklukkan dan menguasai Sumba, Manggarai, Sabu, Ende, Larantuka dan Komodo hingga kepulauan Alor. Di daerah-daerah itu diberlakukan adat kerajaan Bima. Mereka pun diwajibkan memberikan upeti atau budak.
Dalam Cerita Asal, silsilah dirancang sedemikian rupa sehingga, sehingga nenek moyang raja Bima dihubungkan dengan para dewa melalui tokoh Pandawa. Perkawinan Sang Bima dengan putri naga disusul anaknya (Indra Zamrud) dengan seorang bidadari yang turun dari khayangan merupakan wujud dari sebuah mitos asal usul. Di Jawa misalnya, Raja Airlangga dari Jawa abad ke-11 menganggap dirinya sebagai reinkarnasi dewa Wisnu. Penggunaan teori penitisan seorang dewa dalam diri raja pada masa lampau digunakan dalam memperkuat legitimasi dan kedudukan.
Dalam tradisi Bima kuno, ramalan dijadikan sebagai alat untuk melegitimasi pendirian dinasti kekuasaan. Setelah mendirikan kerajaan Bima, Sang Bima selanjutnya kembali ke Jawa dan meramalkan kelak akan datang anak cucunya untuk menjadi raja Bima. Akhirnya memang terjadi, Indra Zamrud dan Indra Komala (anak Sang Bima) sebagai cikal bakal berdirinya dinasti Bima. Hal yang sama juga dalam tradisi kekuasaan raja-raja di tanah Jawa yang mempercayai ramalan Jayabaya.

Selain ramalan, usaha untuk menopang kekuasaan dilakukan juga dengan memiliki benda-benda tertentu yang dianggap memiliki pamor, tuah, energi kekuatan dan kekuasan seperti keris pusaka.Setiap raja memiliki sejumlah benda yang dianggap sakral, keramat dan bermuatan unsur magis. Benda itu sebagai pusaka yang melambangkan kebesaran dan kekuasaan raja. Pusaka dianggap punya aura spiritual yang dapat mempengaruhi kosmos yang diwariskan secara turun temurun.

Dalam suku Bugis-Makassar ada kepercayaan bahwapusaka diistilahkan sebagai Gaukang, pencipta kerajaan. Raja adalah penjaganya dan harus seorang keturunan dari pemiliknya yang dapat mewarisi pusaka itu.Di kerajaan Surakarta atau Yogyakarta pun demikian. Ada banyak barang pusaka yang disakralkan seperti, tongkat jalan, alat-alat senjata dan sebagainya. Kerajaan Demak memiliki keris nogososro dan sabukinten yang dikuasai oleh Raden Fatah. Sedangkan kerajaan Bima memilikipusaka parang La Nggunti Rante.

Parang La Nggunti Rante dipercayai sebagai pusaka sakti yang selalu mengawal raja Bima tempo dulu. Pusaka La Nggunti Rante inilah yang membantu raja Bima ketika berperang. Pusaka ini dijuluki La Nggunti Rante karena konon dapat memotong apa saja termasuk baja dan besi hanya dengan satu kali tebas. Menurut naskahBo’, parang ini dibuat pada abad ke-14, yaitu pada masa Pemerintahan Batara Indera Bima. Parang ini terbuat dari kombinasi emas, perak dan besi, dan di ujung parang terdapat ukiran singa sebagai simbol kesaktian.

Ada penelitian seorang ahli dari Srilanka bahwa kembaran parang ini hanya ada di negerinya. Sebagaimana diketahui dalam sejarah kesultanan Bima, bahwa di Srilanka lah tempat pembuangan Sultan Bima Kamalasyah (1748-1751), Sultan Bima ke-7. Parang La Nggunti Rante dianggap bertuah dan bermuatan magis, yang dihuni makhluk gaib, khadam. Dalam tradisi pusaka sakti, kekuatan-kekuatan makhluk gaib yang bersemayam dalam Parang La Nggunti Rante dianggap dapat mempengaruhi dimensi kosmos.

Untuk memperkuat dinasti kerajaan Bima tempo dulu, selain mengumpulkan benda-benda sakral dan keramat, para raja Bima juga mengumpulkan orang yang punya daya tahan fisik dan mentalitas spiritual yang tangguh, linuwih dan sakti mandraguna. Mereka yang punya kelebihan itu akan direkrut menjadi pendekar (mboda)untuk mengawal kerajaan di istana. Dalam kepentingan kekuasaan itu, para raja juga merekrut ‘Kalila’ sebagai operator politik yang bertugas untuk urusan khusus, terutama di bidang penguatan stabilitas politik dan keamanan.


Bahan Bacaan:

  1. Arifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik : Filsafat, Paradigma, Teori, Tujuan, Strategi, dan Komunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta : Graha Ilmu.
  2. Chambert Loir, Henri dan Siti Maryam R. Salahuddin 1999. Bo’ Sangaji Kai, Catatan Kerajaan Bima. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia dan Ecole Francaise d’Extreme Orient.
  3. Chambert Loir, Henri. 1985. Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa. Bandung : Angkasa dan Ecole Francaise d’Extreme Orient.
  4. Hamzah, Muslimin. 2004. Ensiklopedia Bima. Bima : Pemda Kabupaten Bima.
  5. Hamzah, Muslimin. 2010. Menggugat Sang Bima. Mataram : Kilas.
  6. Robert, Heine. 1972. Konsepsi Tentang Negara dan Kedudukan Raja Di Asia Tenggara. Jakarta: CV Rajawali.
  7. Supadjar, Damardjati. 2001. Nawang Sari Butir-Butir Renungan Agama, Spiritualis, Budaya. Yogyakarta : Fajar Pustaka.


Oleh : Mawardin Sidik
Penulis adalah pemerhati sejarah dan budaya Bima serta editor mbojoklopedia

2 comments Blogger 2 Facebook

  1. Melegitimasi wilayah Indonesia Timur yang membentang dari Flores, Sumba hingga Alor adalah tidak berdasar dan merupakan lelucon. Coba didalami lagi sejarahnya. Kami hanya menganggap ini hanya sebagai Hubungan bilateral atau multilateral antara negara-negara yang berdaulat atas tanah tumapah darahnya sendiri.
    https://kangsadikin.wordpress.com/2016/07/29/manggarai-dalam-historiografi-mbojo-mabar-menggugat/

    ReplyDelete
    Replies
    1. dalam tulisan "Manggarai, dalam historiografi Mbojo. MABAR, menggugat!" tidak ada sama sekali literatur yang mendukung sanggahan anda dalam tulisan itu, mungkin anda perlu mendalami sejarah dan cara menyanggahnya dengan literatur dan data yang konkrit..

      Delete

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top