Pulau Kaung - Sumbawa
Saat letusan Tambora dampak kelaparan melanda pulau Sumbawa dari Bima hingga Sumbawa, kesulitan ekonomi melanda masyarakat yang hidup dekat Tambora tak jarang mereka pun menjual diri sebagai budak untuk di ditukar dengan makanan, selain di landa kelaparan penyakit  kolera juga melanda mereka hingga korban banyak yang meninggal.

Dari catatan Heinrich Zollinger yang datang di Pulau Sumbawa tahun 1847, mencatat korban letusan Tambora yang mati akibat kelaparan dan penyakit di seluruh pulau Sumbawa berjumlah 37.825 Jiwa.
Dari bencana inipun maka terbentuk suatu komunitas masyarakat yang mencoba bertahan dari kelaparan dan penyakit akibat letusan Tambora, mereka merupakan suku Badjo yang bermukim di dalam pulau-pulau kecil teluk saleh sebelum letusan 1815,  kehidupan mereka makmur dan limpahan berkah dari Yang Maha Kuasa bergelimang.

Di ceritakan oleh Pak Sumardi yang berasal di pulau Kaung- Sumbawa, bahwa dulu nenek moyang mereka hidup bercocok tanam dan melaut di pulau tengah, kemudian bencana besar terjadi gunung Tambora memuntahkan isi perutnya yang amat dahsyat tahun 1815 Masehi, sehingga  membuat para suku badjo yang tinggal di pulau-pulau kecil teluk Saleh mengungsi di pinggir.

Lukisan Tambora pantai timur tahun 1856, oleh Thomas Baines

Tanah mereka rusak tidak bisa untuk bercocok tanam, begitupun kondisi teluk yang terombang- ambing oleh tsunami dan ikan-ikan sangat susah didapatkan. Mereka pun mencari sebuah tanah yang layak dihuni, maka salah satu sesepuh mereka menemukan satu pulau di wilayah alas yang bisa mendukung untuk bertahan hidup, maka di kumpulkan dan di rangkul semua orang yang selamat dari malapetaka Tambora untuk tinggal di pulau kecil itu dan dari situlah asal muasal dinamakan pulau Kaung yang artinya merangkul.

Setelah bermukim di pulau kecil itu bencana kelaparan melanda mereka, tanah yang semula bisa untuk bercocok tanam kini telah rusak akibat matahari yang jarang menyinari karena cuaca yang tidak menentu menjadikan pulau Sumbawa gelap tertutup awan dan abu vulkanik Tambora.

Akhirnya para tertua di pulau itu mengambil langkah membentuk armada kecil dengan kapal-kapal seadanya untuk merampok setiap kapal-kapal laut yang lewat di semenanjung Sanggar guna mengambil logistik kapal dan barang-barang yang bisa dijual untuk bertahan hidup mereka dari kelaparan, kejadian ini menurut pak Sumardi terjadi setelah lima tahun paska letusan Tambora 1815 maka itu terjadi pada tahun 1820, seperti yang dituturkan oleh Pak Sumardi cerita para leluhur mereka yang menjadi bajak laut karena terpaksa untuk bertahan hidup di ceritakan dari generasi ke generasi.

Oleh : Fahrurizki


0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top