(Ilustrasi, Asi Mbojo yang didirikan tahun 1930)
Kehadiran sebuah cermin pertama kali di Bima diperkirakan tahun 1769 setelah kontrak kerjasama dengan Kompeni pertama kali dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid (1773-1817), cermin dari hadiah yang diberikan oleh Belanda itu sontak membuat benda itu terasa sangat ajaib kehadirannya di istana kala itu.

Dalam catatan Bo Bumi Luma Rasanae, dikatakan bahwa Sultan Abdul Hamid menerima hadiah dari Belanda yaitu dua cermin, satu lonceng dan dua arloji. Hubungan Sultan dengan Belanda kala itu sangatlah akrab dan mesra, dengan bukti temuan surat-surat Sultan Abdul Hamid yang tersimpan di UB Leiden.

Sultan Abdul Hamid adalah seorang parlente yang sangat memperhatikan penampilannya, mungkin karena itu orang Belanda menghadiahi Sultan sebuah cermin. Penampilan Sultan sangatlah menarik perhatian, seperti saat mengunjungi Makassar tahun 1792, Sultan sangat terlihat gagah memakai pakaian kebesarannya, pakaian Sultan juga mempunyai nama tersendiri “Pesangingan Balabasa Gadu Putih”.

[...] Maka penuhlah seluruh lorong Hujung Pandang itu. Maka terlalu ramai orang Kampung Baharu itu memandang Duli Yangdipertuan Kita yang berjalan itu dengan kereta, demikian lagi orang Wolanda yang berpandang wajah durja Paduka Tuan Kita. [...] Adat berbaris itu orang Wolanda ke atas kota besar memandang juga Tuan Kita seolaholah pandang garuda dalam rimba dan gunung.(Alamat Sultan, Chambert Loir - 2004)

Tidak hanya penampilan, juga istana Sultan sangat memperhatikannya. Istana Sultan Abdul hamid sangatlah megah dan mewah, pintu istana sangat besar dengan ukiran bunga seroja dimana seperti yang tertulis dalam Syair Kerajaan Bima bait 90 ketika Khatib Lukman menjenguk Sultan saat sakit.

Dalam surat Sultan Abdul hamid di UB Leiden terefleksi bahwa Sultan juga sangat menyukai barang-barang modern buatan Eropa (Iman dan Diplomasi, 2010). Tak sembarang para pegawai dan dayang-dayang yang bekerja di istana, pemilihannya harus melalui penentuan hukum adat yang tegas. Jumlah para gadis yang dijadikan dayang-dayang tak lebih harus 19 orang.

Karena mempunyai sebuah cermin pada istananya kemudian Sultan Abdul Hamid diberi gelar Anumerta Ruma Mantau Asi Saninu (yang mempunyai istana cermin), Saninu dalam bahasa Bima adalah pantulan diri pada cermin, kehadiran cermin di kehidupan istana saat itu sangat begitu luar biasa menjadi pembicaraan orang-orang ketika melihat cermin untuk pertama kali.


Oleh : Fahrurizki



0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top