Sebuah makam yang terletak di Desa Karongkeng, Kecamatan Empang, Sumbawa Besar. Dengan nisan dari batu alam yang bertuliskan huruf arab melayu dan ukiran ornament bunga dengan panjang makam tersebut dua kaki. Makam ini oleh masyarakat sekitar di anggap masih keramat dan mempunyai nilai sejarah perkembangan agama Islam di Empang.

Pada kompleks makam Karongkeng juga terdapat 5 makam, dua makam dengan nisan bermotif bunga dan pada nisan terdapat tulisan arab melayu, satu makam hanya nisan biasa, sedang dua makam dengan nisan batu biasa. Hanya dua makam yang mempunyai keterangan tulisan pada nisannya. Untuk mencapai makam Karongkeng sangatlah mudah, dari Empang kita bisa menuju Desa Karongkeng kurang lebih hanya 15 menit.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat salah satu pada makam tersebut merupakan makam dari seorang Ulama yang bernama Haji Karim yang lebih dikenal dengan panggilan Haji Kari, beliau pulang dari tanah suci Mekkah dan menyebarkan agama Islam di tanah Sumbawa khususnya Empang pada awal abad 16 Masehi. Makam tersebut tidak dikenal dengan makam Haji Kari tapi lebih dikenal dengan nama makam Karongkeng di Sumbawa.

Namun pada salah satu makam masih terdapat tulisan yang masih utuh, atas bantuan dari Doktor Suryadi salah satu ahli Filologi Indonesia yang mengajar di Universitas Leiden Belanda  menerjemahkan tulisan pada salah satu nisan Karongkeng melalui foto makam yang dikirim ke email pribadi beliau, namun ada dua kata yang sulit dibaca, terjemahan nisan sebagai berikut :

Bermula inilah ….. ingatan dari Paduka ….......... Muhammad Idris Syah ibni almarhum Muhammad Aly pada tahun sanat 1271 kepada hari bulan Dzulhijjah pada hari Jumat waktu jam 2 ke 8 siang Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fuanhu.

Dari keterangan nisan diatas pada makam menyebutkan bahwa yang dikebumikan seorang yang bernama Muhammad Idris Syah yang wafat pada tahun 1271 bulan Dzulhijjah pada hari Jum`at (kalender Hijriah). Tarikh tahun 1271 Hijriah bila dicocokkan pada kalender Masehi berarti jatuh pada tahun 1855 masehi, masuk pada dasawarsa ke 6 abad 19.

Ukiran dan ornament pada makam menunjukkan ciri dari makam seorang bangsawan, yang bercorak melayu dengan khas motif bunga. Menurut Arief seorang Geologist mengatakan bahwa nisan pada makam tersebut menggunakan batu alam dari jenis batu Andesit yang biasa digunakan untuk nisan pada zaman dulu.

Nama dan penyebutan “Paduka” pada tulisan makam sangat menunjukkan dia adalah seorang bangsawan ditambah nama belakang “Syah” yang ciri dari nama para bangsawan dan Sultan melayu. Jika merujuk pada tahun kematiannya 1855 masehi berarti beliau hidup pada era Sultan Sumbawa Lalu Mesir dan Sultan Amrullah.

Tidak begitu banyak sumber mengenai siapa Muhammad Idris Syah yang mempunyai makam dengan keterangan dari huruf arab melayu tersebut, tapi banyak beberapa sumber lisan dari masyarakat setempat mengenai Haji Kari. Akankah Haji Kari dan Muhammad Idris Syah adalah dua orang yang berbeda dalam satu komplek makam atau satu orang yang sama dengan beda nama panggilan. Sangat perlu ditelusuri lebih mendalam tentang makam guna melengkapi serpihan sejarah tanah Samawa.
  
Makam Karongkeng merupakan sebuah warisan akulturasi budaya yang sangat bernilai untuk dijadikan pembelajaran generasi mendatang. Oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa makam Karongkeng ditetapkan sebagai salah satu benda cagar budaya dan situs sejarah yang dilindungi oleh Monumenten Ordonnatie Stbl 1931-238 seperti yang tertera pada plang makam.(mbojoklopedia.com)



0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top