Kue Tart, Balon, Lilin dan pernak pernik lainnya nampak mendominasi menghiasi acara peringatan hari kelahiran anak pada sekarang ini. Bukan hanya itu, saat sekarang peringatan hari kelahiran atau ulang tahun sudah identik dengan restoran siap saji yang menjadi tempat perayaan dalam konteks kehidupan modern.

Sejarah peniupan lilin dan peletakaannya diatas kue tart itu sendiri dimulai pada zaman Yunani kuno membuat sebuah kue berbentuk bulat untuk menghormati Dewi Artemis yang merupakan Dewi Bulan dalam kepercayaan Mitologi Yunani. Nyala lilin pada kue sebagai symbol cahaya bulan sedangkan untuk peniupan lilin sebagai symbol sebuah harapan dan doa kepada Tuhan, yang juga dilakukan oleh para penganut agama Majusi kuno berdoa kepada Api sebagai symbol perantara mereka dengan Tuhan.

Berbagai makanan lezat dihidangkan untuk para kerabat yang datang berdoa dan memeriahkan hari Maulu Weki. 
Di Eropa sendiri kue ulang tahun bermula pada abad 17 dimana kue tart dulunya hanya diperuntukkan bagi kalangan orang kaya saja, seiring adanya revolusi industri yang terjadi di Eropa kemudian kue tart merakyat dikalangan para rakyat jelata hingga kini. Dan perayaan ulang tahun menggunakan kue tart masuk di Nusantara di bawa oleh orang-orang Belanda dan kaum Eropa lainnya.

Kue tart juga sekarang sudah menggantikan posisi Nasi Tumpeng sebagai symbol perayaan hari penting yang merupakan tradisi asli dari Nusantara. Sejarah nasi tumpeng sendiri berasal dari tradisi agama Hindu yang memuliakan gunung sebagai tempat para roh suci leluhur bersemayam, bentuk kerucutnya mempunyai makna meniru gunung sebagai tempat tinggal para dewa-dewi.

Sedangkan di Bima sendiri mempunyai cara dan tradisi tersendiri dalam merayakan hari ulang tahun, perayaan hari lahir itu dinamai dengan “Maulu Weki” sebuah tradisi lama yang sering dilakukan pada masa Kesultanan. Nama Maulu Weki yang diambil dari kata Maulud (kelahiran) dan Weki (diri), tradisi tersebut juga bisa dikatakan sebuah ritus untuk ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta, ketika ada yang mempringati hari kelahirannya maka dia akan mengadakan Doa dan Zikir dirumahnya juga mengeluarkan sedekah berupa uang atau makanan.

Jika yang Maulu Weki mengeluarkan sedekah makanan biasanya berbentuk bubur, dimana bubur diletakkan pada nampan besar kemudian orang-orang berdatangan datang duduk melingkari nampan dan dimakan bersama-sama, makan bersama bubur ini namanya “Ngaha Karedo” dalam bahasa Mbojo. Dan jika yang Maulu Weki mengeluarkan uang maka akan disedekahkan kepada Lebe (Imam Masjid) untuk keperluan Agama dan juga diberikan pada anak yatim piatu.

Bukan hanya bubur yang dihidangkan pada saat perayaan, juga di hidangkan berbagai makan-makanan yang lezat sebagai jamuan untuk para kerabat yang datang untuk ikut berdoa buat keselamatan dan keberkahan yang Maulu Weki.

Seiring waktu berlalu ritus Maulu Weki perlahan menghilang dan dilupakan dalam dekapan era modern, tapi juga ada sebagian yang masih melakukan tradisi lama ini, biasanya pada keluarga tertentu di Bima yang tetap melakukan dan menjaga untuk menghormati leluhur mereka.(mbojoklopedia.com)



0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top