Melangkah menelusuri sebuah kearifan dan keindahan memang tak pernah membosankan untuk mendapatkan pelajaran ilmu falsafah hidup dari para tetua adat. Perjalanan kali ini hari Sabtu (19/1/2016) kami menuju sebuah Desa adat yang bernama Desa Ncuhi, terletak di wilayah barat di atas gunung Donggo dengan ketinggian kurang lebih 1300 di atas permukaan laut.

Dari Kota Bima menuju Desa Ncuhi lamanya perjalanan kami sekitar 1 jam lebih, saat memasuki Desa Rora, jalan masuk menuju Desa Ncuhi jalanan mulai menanjak tapi sudah di aspal dan tidak perlu kuatir jalan yang berlumpur. Suasana menuju Desa Ncuhi sangat menyenangkan di tambah udaranya yang sejuk.

Setelah tiba di Desa Ncuhi kami langsung menuju “Uma Leme” sebuah rumah adat tempat berlangsungnya berbagai kegiatan adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa setiap panen. Uma Leme seperti halnya “Uma Lengge” yaitu rumah tradisional Suku Mbojo (Bima) di areal Uma Leme juga berjejer Jompa yaitu lumbung penyimpanan padi warga Desa Ncuhi.

Setelah dari Uma Leme, kami melanjutkan untuk berkeliling Desa dan melihat aktifitas warga, kemudian perhatian kami teralihkan oleh aroma kopi yang sedang digoreng asapnya keluar dari dapur salah satu rumah warga. Sungguh aroma yang sangat enak, seketika kami langsung menghampiri rumah tersebut dan yang kami temukan di rumah beraroma kopi tersebut tidak kami temukan orang yang sedang menggoreng karena semua pintu rumah tertutup.

Agak sedikit kecewa tidak bisa melihat penggoreng kopinya, kamipun melanjutkan berjalan berkeliling Desa lagi untuk menuju rumah ketua adatnya. Setelah tiba di rumah ketua adatnya yang bernama Bapak Alwi ternyata sedang keluar sebentar ke tempat acara pernikahan warga. Dan kamipun menunggu Bapak Alwi di sebuah warung kecil, dengan agak sungkan kami memberanikan diri untuk bertanya apakah di warung ini menjual kopi lokal, sambil tersenyum Ibu pemilik warung tersebut bilang “kalian suka ya minum kopi lokal?” dan kamipun menjawab dengan semangat “sangat suka bu”.

Kemudian Ibu itu menyuruh anak gadisnya untuk menyeduh dua gelas kopi hitam, saat menunggu kopi dibuat tiba-tiba Bapak Alwi dan Bapak Amar selaku BPD (Badan Perwakilan Desa) Desa Ncuhi datang, kamipun bergegas menemui ketua adat tersebut. Setelah memperkenalkan diri dengan ketua adat dan perbincanganpun di mulai dengan pertanyaan awal yaitu sejarah asal usul Desa Ncuhi.

Suasana Desa Ncuhi sangat sepi ketika musim berkebun atau biasa di sebut Kanggihi

Dari penuturan Bapak Alwi bahwa asal usul Desa Ncuhi dulunya Desa mereka terletak di atas puncak Oi Mbani, dimana desa mereka dulunya di pimpin oleh seorang Ncuhi yang bernama Ncuhi Pajo. Setelah berkembang dan semakin banyaknya penduduk Desa maka merekapun pindah turun kebawah di tanah lapang yang rata dan luas yang sekarang di kenal dengan Desa Ncuhi, nama Desa Ncuhi sendiri di ambil dari nama Ncuhi yang berarti Kepala Suku.

Setelah era kesultanan masuk Ncuhi Pajo ini di angkat oleh Sultan Bima menjabat Bumi sehingga nama wilayah Desa Ncuhi, Padende, dan Rora disebut Bumi Pajo, kata Bapak Amar menambahkan cerita Bapak Alwi.

Desa Ncuhi dan Desa tetangganya Padende sangat melekat dengan mitos patih Gajah Mada dengan ditemukannya situs Wadu Tunti yaitu sebuah batu yang terdapat ukiran aksara Jawa Kuno yang bercerita mengenai Raja Sapalu (baca : Situs Wadu Tunti Karya Sastra Abad 14 ). Keyakinan warga Desa bahwa situs tersebut bukti dari Gajah Mada datang di Bima, juga dari penuturan Bapak Amar bahwa di atas puncak Oi Mbani juga terdapat telapak kaki Gajah Mada dan kuburannya. Keyakinan warga Desa bertolak belakang dengan penelitian dari para Arkeolog yang membaca tulisan di situs Wadu Tunti tersebut.

Ada salah satu tradisi kepercayaan yang menarik di Desa Ncuhi yang bernama “Pe`e”, yaitu jika tidak ada hujan turun di musim hujan dan terlalu lama dan terdapat warga yang sakit-sakitan maka warga percaya pasti ada beberapa orang yang melakukan perbuatan maksiat, maka dilakukan Pe`e yaitu razia keliling Desa oleh ketua adat dengan membawa cambuk kabel yang dibuat sendiri oleh Bapak Alwi. Jika ditemukan warga yang berbuat maksiat entah itu berzina atau perbuatan buruk lainnya yang merugikan  maka hukumannya akan di arak keliling Desa dan di cambuk.

Kebanyakan warga desa Ncuhi berprofesi sebagai petani, berbagai hasil pertanian seperti Jagung, Padi dan Kopi hasilnya melimpah di tahun ini dan sangat membantu perekonomian warga, dan kepercayaan warga juga sebagian masih sangat percaya dengan kepercayaan para leluhur mereka yaitu roh suci para leluhur yang memberikan keberkahan serta keselamatan, kata Bapak Alwi.

Tak terasa sudah 1 jam lebih kami berbincang dengan Bapak Alwi dan Bapak Amar mengenai  kisah Desa Ncuhi, kamipun pamit untuk pulang karena jam menunjukkan pukul 2 siang. Setelah bersiap untuk kembali ke Kota Bima kami teringat bahwa tadi telah memesan kopi di warung sebelah rumah Bapak Alwi, dan kamipun menuju warung tersebut. Ternyata kopi tersebut sudah disiapkan 1 jam yang lalu dan sudah dingin, untuk mengobati penasaran akan cita rasa kopi Desa Ncuhi kamipun tidak menyia-nyiakan untuk minum kopi itu, dan kopi masih terasa sangat enak dinikmati.

Setelah menikmati kopi di warung itu kamipun berpamitan untuk pulang, dalam perjalanan pulang kami di hidangkan oleh alam Bumi Pajo dengan keindahan view pegunungan yang sangat segar. Kiri kanan berjejer kebun kopi milik warga dan suara ayam hutan berkokok menghibur perjalanan kami.
Dalam perjalanan kami mengalami hal gaib yang mungkin hanya kebetulan, dengan tiba-tiba angin besar datang menghampiri kami dan juga tiba-tiba semua rem motor muka belakang tidak berfungsi apalagi posisi jalan saat itu turun, dengan sekuat tenaga kami memakai kaki untuk menahan motor, dengan posisi di dalam hutan dan bingung karena rem motor tidak berfungsi. kemudian kami berdoa kepada Yang Maha Kuasa meminta kepadanya keselamatan perjalanan kami sampai rumah sambil berpikir untuk mencari solusi turun. Sambil menenteng kami berjalan untuk turun dengan perlahan. Setelah berjalan sepanjang 100 meter lebih, tiba-tiba rem motor kembali berfungsi seperti sedia kala, kamipun sangat gembira dan bersyukur kemudian dengan hati-hati kami melanjutkan perjalanan untuk pulang.



0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top