Mungkin sebagaian pembaca belum tahu mengenai situs Wadu Tunti yang terletak di Desa Padende Dusun Ncuhi Donggo yang termasuk di wilayah Kabupaten Bima, posisi Desa Padende Dusun Ncuhi terletak paling ujung sebelah utara di atas dataran tinggi gunung Rora, suasana pegunungan yang indah sangat cocok bagi yang suka akan petualangan di alam terbuka dan didukung sejuknya udara pegunungan.

Wadu Tunti atau dalam arti bahasa Indonesianya yaitu Wadu yang berarti batu dan Tunti yang berarti tulis yang artinya Batu Tulis, dimana sebuah batu kurang lebih berukuran 100 cm x 60 cm dimana terdapat sebuah aksara dan gambar yang dipahat oleh orang jaman dulu.
Dari penelitian para arkeolog Bali bahwa aksara yang di pahat itu merupakan aksara jawa kuno yang digunakan pada abad ke 14, lebih tua dari umur kerajaan Majapahit yang selama ini diyakini oleh masyakarat Padende di pahat pada saat kedatangan Gajah Mada.

Di batu tersebut juga dipahat yang menggambarkan seorang laki-laki yang diperkirakan seorang bangsawan dan dikelilingi oleh wanita, sampingnya juga terdapat seekor harimau, kemudian di sebelahnya tertulis atau dipahat keterangan dari batu tersebut, dan menurut para arkeolog dari Universitas Udayana Bali, bahwa itu tulisan sebuah petuah bijak dari yang tergambarkan dalam di Wadu Tunti itu, apa yang tertulis oleh Arkelogi Udayana Bali mencoba menerjemahkannya sebagai berikut :

//ni wuhani.
nira sang lumiwat
ta wani winidhi sahilangnya……a
tani bhalang geni diuputan lani balutani
ngilang panini mahilangnya nira sang ngaji sapalu yiki
ba hanipuh apari sadatenga ni sapalu //
panglunga pidu rikasa//
………sira sang ngangatura
………ruwang nira sang ngaji
………sapalu//.

Terjemahannya :
Ketahuilah
Beliau(Mereka) yang melewati tempat ini (Liwat)
berani ditentukan(dipilih) akan hilang…
…..melemparkan api,gugur(duputan) langit
hilang ditiadakan(panini) hilanglah(moksa ?) beliau Sang ngaji
raja sapalu ini
……menghancurkan(hanipuh) ketika beliau datang di negara Sapalu
pergi lenyap (panglunga) ke angkasa
…… beliau yang akan mengatur(menyampaikan)
……. teman (pengikut ) beliau Sang ngaji
…….. sapalu


Masyarakat dusun Ncuhi tergolong masyarakat yang sudah beradaptasi dengan dunia modern sehingga transportasi dan sinyal handphone tidak perlu kita takutkan. Jika menuju Padende dari Bima kita bisa naik kendaraan umum/ bus mini jurusan Dompu dengan biaya Rp.25.000 lalu tinggal bilang sama supir atau kondekturnya turun di perbatasan Rora, kemudian kita tinggal naik ojek dengan biaya Rp.20.000.

Untuk menuju desa Padende dusun Ncuhi kurang lebih memakan waktu selama 1 jam dari desa Rora. Jalan menuju desa Padende sangat bagus karena sudah diberi aspal yang sebelumnya sangat susah dilalui oleh kendaraan, begitu sampai di dusun Ncuhi desa Padende, untuk menuju lagi ke lokasi situs Wadu Tunti kita mesti berjalan kaki kurang lebih 350 meter atau bila menggunakan motor mungkin akan lebih cepat sampai di lokasi situs memakan waktu 30 menit.

Asal usul masyarakat Padende berawal dari Donggo yang kemudian mereka bermigrasi kearah barat untuk berladang kemudian mereka berkembang dan membangun desa yang bernama Padende. Bukan hanya dari Donggo yang bermukim di Ncuhi Padende juga dari desa-desa lain seperti Madapangga dan juga dari Dompu yang menikah dengan orang di Padende, pekerjaan masyarakat di Ncuhi Padende kebanyakan bertani, bermacam yang tanam dari padi, jambu monyet, kacang, hingga kopi. Biasanya saat musim hujan mereka juga menanam jagung atau padi untuk sawah tadah hujan, berhubung tempat mereka terletak di atas dataran tinggi sehingga sangat menguntungkan untuk sawah tadah hujan mereka.


0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top