Pada tahun 1907 hingga 1909 merupakan tahun berdarah bagi rakyat Bima, bagaimana tidak sejak saat itu semua rakyat kesultanan Bima serentak memberontak melawan kebijakan Hindia Belanda tentang Inkomsten Belasting (penarikan pajak) yang dimana menetapkan 5% panen padi harus diberikan kepada Belanda dan setiap rumah wajib membayar Rp.250.00 dan ditambah setiap keluarga membayar satu beban pikulan beras.

Serentak semua daerah kesultanan Bima seperti Monta, Dena, Donggo, Ngali dan Cenggu dan desa-desa lainnya memberontak menyatakan perlawanan kepada Hindia Belanda, yang dimana selama dua tahun (belasting pertama kali diterapkan di Bima pada Januari 1907 hingga 1909) Belanda mengerogoti rakyat Bima melalui pajaknya, bukan hanya di Bima yang terjadi perlawanan penolakan tapi juga terjadi di seluruh wilayah kekuasaan Hindia Belanda (Indonesia) di tahun yang sama, salah satunya peristiwa perang belasting di Kamang dan manggapoh wilayah Sumatera tahun 1908.

Kondisi masyarakat Bima saat itu (1907) mungkin sudah mencapai puncak kemarahan akan kesewenangan para pemungut pajak selama tiga tahun merongrong-rongrong kaum jelata, sehingga membangkitkan perlawanan Ntehi Ama Ntihi gelarang Kala dan seorang perempuan Ncahu Samiu menggerakkan rakyat Donggo untuk melawan kesewenangan Belanda.

Ketidak patuhan Ntehi Ama Ntihi ini pada keputusan Sultan dianggap sebagai pemberontak, begitupun sebaliknya rakyat Donggo menganggap Sultan Ibrahim telah mendukung pemungutan pajak yang merugikan dan diperalat oleh Belanda, mengetahui posisi mereka akan di serbu oleh pasukan marsose Belanda karena telah dianggap memberontak tidak mau membayar pajak. Akhirnya di atas bukit Doro Kaboe atau Mpirindaru Ntehi Ama Ntihi dan Ncahu Samiu dan pemimpin-pemimpin lainnya menyuruh rakyat bersatu membuat “Sancari” semacam serambi yang banyak untuk dipasang diatas bukit di atas. Sancari itu di taruh dan disusun batu-batu yang banyak sekali untuk menjadi jebakan yang ketika Belanda mendekat maka Sancari itu akan di lepas talinya kemudian batu-batu tersebut akan mengelinding kebawah dan mengenai pasukan Belanda yang mencoba mendekati mereka.

Senjata-senjata yang digunakan oleh rakyat Donggo saat itu yaitu Parang, Tombak, dan Lira (alat tenun kain), di Doro Kaboe/ Mpiri Ndaru pasukan marsose Belanda terbunuh lebih kurang 150 orang dan rakyat Donggo 11 orang yang terbunuh. Para pemimpin rakyat Donggo yaitu Mangge, Hoti, Ngkati, Ndiri, Samoe membakar semangat rakyatnya untuk terus bertempur melawan Belanda yang juga di bantu oleh beberapa pasukan dari kesultanan Bima, saat pertempuran mencapai di Desa O`o dan Belanda mulai masuk kedalam Desa kekuatan rakyat Donggo mulai goyah dikarenakan pemimpin mereka Samoe, Ngkati dan Ndiri Ama Mundu mati terbunuh.

Saat itu pasukan Belanda di Pimpin oleh Overste Van der Zwas yang dikirm untuk memantau situasi perlawanan rakyat di Bima, di tahun yang sama 1907 pada bulan Maret di Desa Dena juga terjadi perang perlawanan terhadap Belanda karena juga menolak kebijakan Belasting mereka, di Dena di pimpin oleh para Ulama seperti Haji Abdurrahim Abu Sara, Haji Usman Ruma La Beda dan Haji Abdul Azis Abu La Sarah dalam perang Dena dikenal pasukannya dengan nama Sabilullah, korban dari pihak Dena 40 orang sedangkan di pihak Belanda korban 30 orang.

Perlawanan terus dilakukan oleh Ntehi Ama Ntihi beserta pengikutnya di Desa Kala yang tersisa berjumlah 29 orang sejak paska perang O`o, sisa pasukan dari rakyat Donggo mengungsi ke Mpiri Lua dan disana dijadikan markas untuk bertahan selama satu tahun lebih, pasukan Belanda mencari dan memeriksa semua Desa di Donggo yang dijadikan tempat persembunyian pasukan Ntehi Ama Ntihi. Kemudian memasuki tahun 1909, Ntehi Ama Ntihi dan Ncahu Samiu akhirnya tertangkap dengan 29 orang pasukannya yang tersisa dan di adili di Bima, setelah di adili dan dinyatakan sebagai pemberontak atas keputusan Sultan Ibrahim memerintahkan untuk membuang Ntehi Ama Ntihi di Makassar untuk selama-lamanya dan tidak pernah lagi kembali ke Bima.

Oleh : Fahrurizki


10 komentar Blogger 10 Facebook

  1. Boleh tau referensi ceritanya dari mana pak? Terimakasih

    BalasHapus
  2. Boleh tau referensi ceritanya dari mana pak? Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. dari korespondensi perang tahun 1900-an dan buku sejarah 70-an oleh sejarahwan lokal.

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Mau tanya pak yang di asingkan di Ambon itu siapa y pak dalam perang Donggo tersebut

    BalasHapus
  5. Terima kasih atas tulisannya.

    Maaf pak penulis ini org bima mana?

    BalasHapus

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top