Alunan sarone yang ditiup penuh dengan jiwa kecintaannya terhadaap musik, tiupan Saronenya  menggambarkan kekuatan dan keperkasaan seolah menunjukkan dirinya kepada dunia bahwa inilah Mbojo, mungkin itulah beberapa kata yang mungkin dapat menggambarkan permainan Sarone seorang Mebo waktu di era 90-an pada masa kejayaan yang penuh  semangat akan kecintaannya pada musik tradisional maupun musik modern.

Mebo begitulah biasanya orang-orang memanggil beliau, Mebo yang bernama lengkap Mubin Ibrahim dilahirkan pada tahun 1942 di Penatoi, kecintaan beliau terhadap musik dimulai dari umurnya 10 tahun, yang dimana alat musik pertama yang beliau mainkan adalah Sarone di pelajarinya secara otodidak (bakat alami).
Sejak umurnya 10 tahun beliau sudah bergabung dengan sanggar tradisional milik bapak Ahmad Dalu di penatoi pada tahun 1952, disitu beliau memegang alat musik Sarone juga berbagai macam alat musik tradisional. Alat musik lainpun beliau kuasai seperti Silu dan gendang dimainkannya dalam umur 10 tahun itu. Bagus dan pintarnya permainan Mebo membuat pemilik sanggar terus memanggilnya untuk bermain di berbagai acara dengan bayaran Rp.100 saat itu.

Memasuki umur 12 tahun Mebo mulai merambah kemampuan dan jiwa seninya dengan mempelajari alat musik lain yaitu Biola secara otodidak, dari melihat beberapa permainan orang seperti Pak Puasa Raba Dompu merupakan orang pertama yang beliau lihat memainkan biola di bima saat itu.

Saat memainkan biola dengan mahir, Mebo bermain genre musik keroncong. Setelah banyaknya orkes melayu yang bermain di Bima seperti AKA grup (grup militer) orkes melayu asal Surabaya yang didatangkan oleh Dandim Bima, saat itu juga alat-alat musik modern mulai masuk ke Bima dan  mulai digemari sebagian masyarakat.

Kemudian Mebo jatuh hati pada alat musik fluit, alat musik modern yang kedua yang dipelajari setelah biola, tahun 1973 Mebo membentuk orkes melayu Oi Lanco bersama Amar Hadi kepala perdagangan Bima saat itu.

Saat di orkes melayu Oi Lanco, Mebo memainkan/ memegang alat musik arkodian, saxophone, biola dan fluit dan beranggotakan Sulaiman pada vocal, Henny Taka pada gitar bas, Bambang Sugiri bas dan Yusuf gitar, di orkes melayu ini Mebo bersama anggotanya membawakan lagu keroncong dan juga lagu-lagu Bima.
Perjalanan hidup Mebo pada musik membawanya pada pengalaman-pengalaman yang indah juga kreatifitasnya dalam menciptakan lagu-lagu berbahasa Bima, hingga melahirkan sebuah karya lagu yang hits yaitu “Baju Ndere Kala” yang populer pada saat itu hingga kini bagi pecinta musik daerah.

Untuk memajukan dunia seni dan kreatifitas musik di Bima, Mebo banyak membentuk band-band untuk memberikan inspirasi kepada teman-temannya untuk mau berkarya, beberapa band yang di bentuk oleh Mebo yaitu orkes melayu Reanita tahun 1979, Eba Kasipahu Band tahun 1982 dan BRI Band tahun 1983 hingga membawanya bekerja sebagai pegawai di Bank BRI.

Setelah lama berkecimpung didunia musik modern Mebo pun tidak lupa dengan music asalnya yaitu musik tradisional Bima, tahun 1998 Mebo membentuk sanggar Kemuning bersama Almarhum Pak Malik (mantan ketua DPRD Kab.Bima), Syarifuddin M.Noer (Dae Syari), Ruslan (Alan Malingi), A Karim (Dae Kero) dan anggota lainnya.

Banyak karya dan pementasan oleh sanggar Kemuning yang dipertunjukkan di Bima maupun pementasan di luar Bima dan juga sebagai utusan daerah di ajang pengenalan musik tradisional tingkat nasional. Dari zaman ke zaman yang di lalui oleh Mebo dan banyak genre-genre musik modern bermunculan akan tetap membuat teguh kecintaannya pada musik tradisional Bima. Pernah suatu waktu tahun 2002 Mebo dan sanggar kemuning berangkat ke Bali untuk memberikan semangat kepada Persebi (persatuan sepak bola Bima) yang ikut laga kejuaraan di Denpasar, mereka memainkan musik tradisional di atas tribun penonton alhasil Persebi menang dan menarik perhatian penonton lainnya karena suara musik tersebut sehingga penonton duduk mendekati mereka.

Hidup Mebo di dunia musik dan seni budaya memberikan kesan tersendiri pada masyarakat Bima, Mebo dikenal dengan figur yang baik, humoris, dan suka menolong. Selain menjadi musisi, Mebo juga berprofesi sebagai Guru Ngaji yang tidak lupa akan kenikmatan dan kesyukuran yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa, sekarang di usia senjanya ini Mebo tidak hentinya memberikan perhatian pada musik tradisional Bima dengan mengajarkan Sarone pada orang di waktu luangnya di rumahnya Lewirato Kota Bima, ibarat kata bila fluit tetap di jaga dan dirawat walaupun sudah tua tetap akan mengeluarkan suara yang indah dan merdu, begitupun seni dan budaya bila dijaga dan dirawat akan tetap kelihatan indah.

4 comments Blogger 4 Facebook

  1. Replies
    1. kemarin saat wawancara kami lupa untuk merekamnya, semoga nanti ada waktuu tersendiri untuk mereka beliau, terima kasih, salam

      Delete
  2. iya bang, pengen bgt dengar suara saronenya

    ReplyDelete
  3. tabe om,,,,
    itu alat musik yg di pgang beliau,,, alat musik tradisioanal/modern kah om,,,

    ReplyDelete

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top