Sejak masa pemerintahan Kesultanan Bima masih berkuasa dari tahun 1640 hingga 1951 masehi ada tradisi yang wajib dilakukan pada saat hari-hari besar Islam yaitu disebut “Doho Sara” yang dilakukan pada waktu Maulid Nabi Muhammad SAW, Idul Fitri dan Idul Adha, Doho bahasa Bima yang berarti Duduk sedangkan Sara yang berarti Pemerintahan.

Ketiga hari besar itupun dalam tradisi kesultanan Bima disebut “Rawima Tolu Kali Samba`a” yaitu kegiatan yang diadakan tiga kali setahun dalam tradisi keagamaan Kesultanan. Setelah perayaan hari besar tersebut, mereka (pejabat Kesultanan) berkumpul pada ruang tertentu di Istana Sultan untuk memulai Doho Sara.

Doho Sara selain untuk silaturahmi antar para pejabat juga sekaligus dilangsungkannya sidang lengkap untuk Paruga Suba (majelis kesultanan yang tertinggi) yang membahas mengenai perkembangan Agama, Keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, juga merencanakan hal-hal yang akan dilakukan kesultanan untuk pembangunan kelak, semua para majelis dalam sidang Doho Sara tidak memakai kursi dan meja semuanya duduk bersila di lantai ruang istana.

Semua pejabat kesultanan Bima wajib menghadiri Doho Sara tersebut bila ada beberapa pejabat yang tidak bisa menghadiri Doho Sara tersebut di karenakan sakit akan digantikan oleh orang yang mempunyai hubungan dengan pejabat yang sakit.

Ada beberapa tata cara duduk dalam Doho Sara ini yang harus dilakukan oleh Sultan dan Pejabat-pejabatnya yaitu :
  1. Pada bagian barat, duduklah Sultan sendiri menghadap ke timur.
  2. Pada bagian kiri Sultan, yaitu di bagian utaranya, duduk berderet dari barat ke timur yaitu Turelli Ngampo serta seluruh anggotanya bersama para Jeneli duduk menghadap keselatan.
  3. Pada bagian kanan Sultan, duduk berderet dari barat ke timur yaitu para Bumi Luma dan para Bumi Na`e semuanya menghadap ke utara.
  4. Di tengah-tengah deretan dari selatan ke utara, duduklah golongan agama (Mufti dan seluruh Lebe naE) yang merupakan mizan (timbangan) dari Doho Sara tersebut, semuanya menghadap ke barat di arah Sultan.
Selain diadakan bertepatan dengan hari-hari raya Islam, Doho Sara juga bisa dilaksanakan bertepatan dengan hari acara khitanan atau perkawinan keluarga Sultan.



Oleh : Fahrurizki


0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top