Begitu masuk di Desa Dori Dungga pemandangan lahan Jagung yang mulai menguning, suara deru mesin trese jagung bersaing dengan suara knalpot motor warga yang di modifikasi khusus untuk jalur ladang mereka. Heningnya pegunungan Donggo, kini sudah terganti oleh keramaian aktifitas warga di lahan jagung.
Dulu, menyebut nama Donggo adalah memanggil ingatan tentang kabut tebal yang menyapu puncak Kala dan Mbawa dibawah naungan sang Aruhasa. Kabut Donggo yang terlihat mistis tapi indah, wlayah dataran tinggi di Kabupaten Bima ini adalah benteng terakhir hawa sejuk di tanah hawa teluk berpantai panas. Namun kini, kesejukan itu seolah menjadi dongeng pengantar tidur bagi generasi tua, sementara generasi muda hanya mewarisi sisa-sisa debu dan sengatan matahari yang kian garang.
![]() |
| Wadi atau sungai hujan di Desa Kala. Sungai yang ada hanya saat musim hujan. (Foto : Mbojoklopedia) |
Ada yang hilang dari napas angin di Donggo. Jika dulu jaket tebal adalah kulit kedua bagi pengunjung, kini kaos tipis pun terasa menyesakkan. Kenestapaan alam ini bukan terjadi dalam semalam, melainkan sebuah luka yang menganga perlahan akibat pergeseran pola hidup dan eksploitasi lahan yang tak terkendali.
Banyak yang berubah dari wajah negeri La Hilla ini, dahulu tebar pesona alamnya yang begitu mistis, kini tebaran sampah yang tidak terkendali di ujung batas-batas Desa. Ditambah Pemerintah Kabupaten Bima planga plongo alias bingung mengolah limbah plastik yang semakin menumpuk. Penulis melihat ada beberapa faktor kunci yang merenggut kesejukan Donggo saat ini.
Pertama ekspansi jagung yang "Haus" dan tak kenal tempat. Lereng-lereng curam yang dulunya merupakan rimbun hutan lindung kini telah berganti wajah menjadi hamparan jagung. Hutan dibabat, akar penahan air hilang, dan kanopi pelindung matahari musnah. Kiriman air lumpur untuk teluk Bima sangat intens.
Lalu yang kedua hilangnya beberapa mata air dan debit air yang berkurang, pohon-pohon besar yang berfungsi sebagai "tabungan" air telah roboh. Dampaknya, debit air menurun drastis, dan kelembapan udara yang biasanya menjaga suhu tetap rendah kini menguap begitu saja. Seperti halnya di sungai Desa Kala, yang sangat tampak debit airnya sudah sangat sedikit.
Kemudian yang ketiga pembukaan lahan atau pembangunan yang harus mengorbankan hutan strategis. Pembangunan yang tidak berbasis lingkungan serta meningkatnya volume kendaraan di jalur pegunungan turut menyumbang peningkatan suhu lokal (micro-climate change).
Bukan hanya soal keringat yang lebih sering bercucuran, hilangnya hawa sejuk ini membawa efek domino bagi kehidupan sosial dan ekosistem. Petani tak lagi bisa mengandalkan tanda-tanda alam yang presisi. Hujan datang tak menentu, dan panas ekstrem seringkali membuat bibit layu sebelum berkembang.
Kecamatan Donggo layak dijuluki sebagai 'rahim' para doktor dan akademisi. Seiring bertumbuhnya populasi kaum intelektual ini, sudah semestinya lahir polarisasi ide-ide besar yang visioner dan progresif. Kehadiran para pemikir ini memikul tanggung jawab besar untuk merajut kembali kejayaan intelektualitas demi mengembalikan wajah Donggo yang elok dan penuh pancaran 'magis'.
Dahulu, masyarakat Donggo adalah masyarakat yang paham membaca alam. Lumbung terlahirnya kearifan (local wisdom) untuk menata kehidupan yang bergandengan dengan alam. Kini tanah ini krisis identitas, Donggo kehilangan daya tarik wisatanya sebagai "Puncak-nya Bima". Wisatawan yang mencari kesegaran kini justru menemui jalan raya yang di tutupi kerikil, sampah plastik air mineral, batas desa yang dijadikan tempat pembuangan sampah, membuat mata yang awalnya ingin melihat keindahan menjadi melelahkan.
Penelusuran penulis membawa pada perspektif masa depan, tidak menutup kemungkinan Donggo tanpa pohon, erosi menjadi ancaman setiap kali hujan deras turun, mengancam pemukiman di bawah lereng. Donggo hari ini adalah cermin dari keserakahan kita yang menukar oksigen dengan butiran jagung, dan menukar keteduhan dengan keuntungan sesaat.
Memulihkan Donggo bukan sekadar menanam satu atau dua pohon di pinggir jalan. Diperlukan keberanian kolektif untuk melakukan reboisasi masif dan beralih ke pertanian berkelanjutan yang tidak merusak tegakan hutan. Jika kita tidak bergerak sekarang, maka "Donggo yang sejuk" hanya akan menjadi catatan kaki dalam buku sejarah, sebuah kenangan tentang tempat yang pernah dicintai awan, namun kini kepedulian masyarakat yang terkubur. Sudah saatnya kita mengembalikan baju zirah kabut yang hilang itu, sebelum seluruh puncak ini benar-benar menjadi petaka.
Oleh :
Fahrurizki
Penulis Budaya dan Sejarah

0 comments Blogger 0 Facebook
Posting Komentar