Bagi sebagian orang, Bima mungkin lebih dikenal dengan gaungan komersialisasi lagu pop daerah atau lebih dikenal dengan istilah 'Rawa Mbojo'. Namun, di sudut-sudut tongkrongan dan gang sempit kota, ada sebuah getaran frekuensi yang sempat meredup kini kembali memekakkan telinga. Pelakunya? Sebuah kolektif bernama Oya Dosting.
Nama "Oya Dosting" sendiri membawa identitas lokal yang kuat. Oya (teriak) dan Dosting (istilah yang sering dikaitkan dengan dorongan energi atau volume maksimal) bukan sekadar jenama. Ia adalah representasi dari dahaga anak muda Bima akan ruang ekspresi yang merdeka. Menurut Erik dan Remon bahwa Oya Dosting menyembunyikan sebuah mantra yang kuat yaitu Ayo Do Something yang artinya ayo berbuat sesuatu! Jelas mereka.
![]() |
| Penampilan Syarif Hidayatullah feat Nasir |
Skena musik independen di Bima sebenarnya punya sejarah panjang, namun jalur distribusi dan kurangnya wadah regenerasi sempat membuat pergerakan ini "mati suri". Band-band lokal seringkali terjebak dalam siklus yang terbiasa dengan terbentuk, manggung sekali di acara seremoni, lalu bubar karena kehilangan arah.
Oya Dosting hadir memutus rantai itu melawan mati suri skena musik Bima, Mereka tidak menunggu "panggung" datang mereka menciptakan panggungnya sendiri. Dengan semangat DIY (Do It Yourself), kolektif ini mulai mengorganisir gigs kecil-kecilan di gedung kosong tak terurus hingga lahan kosong, membuktikan bahwa musik indie tidak butuh sponsor raksasa untuk tetap hidup. Itu terbukti dengan jalannya acara Oya Memoris Party : Nostalgia Tanpa Batas (29/03/2029). Menghadirkan band-band indie Kota Bima, seperti : Banana Airplane (pop punk), Syarif Hidayatullah (Blues) dan Rajanente (Hardcore).
Apa yang membuat gerakan Oya Dosting menarik adalah keberanian mereka merangkul keberagaman suara. Di bawah payung ini, kita tidak hanya mendengar distorsi punk atau metal yang gahar. Ada ruang bagi musisi lokal yang liris, tema lokal yang bercerita tentang realitas sosial, hingga eksperimentasi elektronik.
Beberapa poin kunci yang dibawa Oya Dosting ke permukaan antara lain. Menghubungkan musisi lintas genre untuk saling berkolaborasi, bukan berkompetisi. Mendorong band-band lokal untuk mulai merekam karya dan mendokumentasikannya, agar musik Bima tidak hanya habis di telinga penonton saat manggung saja. Ada edukasi kolektif untuk berbagi pengetahuan tentang bagaimana mengelola band, membuat merchandise, hingga mempromosikan karya di era digital. Seperti yang dilakukan salah satu musisi ternama Kota Bima Syarif Hidayatullah atau biasa disapa Bung Rif, konsisten bergerilya melawan gempuran budaya Fomo.
![]() |
| Lapak Bung Rif |
Mereka membuktikan bahwa anak muda Bima tidak perlu merantau ke Jakarta atau Bandung hanya untuk merasa "relevan" secara musikal. Kekuatan itu ada di halaman sendiri, di tanah Mbojo, dengan bahasa dan keresahan mereka sendiri.
Tentu perjalanannya tidak selalu mulus. Perizinan tempat, pendanaan mandiri, hingga konsistensi adalah tantangan nyata. Namun, melihat antusiasme penonton yang mulai memenuhi setiap gigs mereka, ada optimisme besar bahwa Oya Dosting telah berhasil menyulut api yang sulit dipadamkan.
"Musik indie di Bima bukan lagi tentang siapa yang paling jago bermain gitar, tapi tentang siapa yang paling berani bersuara dan tetap konsisten berdiri di jalurnya." Kata Yudi, salah satu pentolan band Rajanente yang tetap konsisten pada jalur hardcore.
Oya Dosting telah membuktikan bahwa dengan keberanian untuk "berteriak" (Oya) dan energi maksimal (Dosting), skena musik Bima kini bukan lagi sekadar penonton di pinggir lapangan, melainkan pemain utama yang siap menciptakan sejarahnya sendiri.
Oleh :
Fahrurizki
Penulis Budaya & Sejarah


0 comments Blogger 0 Facebook
Posting Komentar