Dalam bentang budaya Nusantara, setiap suku memiliki "kata sakti" yang merangkum filosofi hidup mereka, untuk menuntun, inspiratif dan spiritualitas. Bagi orang Bima, kata tersebut adalah Lembo Ade. Secara harfiah sering diterjemahkan atau dimaknai sebagai sabar dan berlapang dada, namun jika kita menyelam lebih dalam, Lembo Ade adalah sebuah kompas spiritual dan perekat sosial yang menjaga harmoni peradaban Mbojo selama berabad-abad.
Akar bahasa dan makna filosofis secara etimologi, Lembo berarti luas, lebar, atau lapang. Sementara Ade berarti hati yang merujuk pada perasaan. Jadi, Lembo Ade adalah upaya sadar untuk memiliki "hati yang luas." Kalimat ini sangat sederhana di ucapkan, tidak begitu kaku pada percakapan masyarakat urban maupun pedesaan.
![]() |
| Manuskrip Jawi |
Secara filosofis, Lembo Ade adalah upaya menjadikan hati seluas samudra. Mengapa samudra? Karena samudra tidak menjadi najis hanya karena setitik kotoran, dan ia tetap tenang meski badai menghantam permukaannya. Inilah esensi dari Qalbun Salim (hati yang selamat/bersih) dalam khazanah Islam. Dalam Terjemahan kitab Hikam dan Penjelasannya yang ditulis oleh Bahrudin Fuad menjelaskan Qalbun Salim adalah hati yang sehat, hati yang kelak menghadap Allah.
Dalam tatanan linguistik Bima, banyak kosa kata yang mengandung Qalbun Salim, bukan hanya Lembo Ade seperti : Neo Ade sama halnya Dihi Ade (kegembiraan) , Taho Ade juga sama dengan Raso Ade (baik hati) , Hau Ade (sungkan), Bae Kai Ade sama halnya Sinci Ade (penyesalan), Weha Ade (merayu), Heran Ade (bingung), Kasi Ade (kasihan), Kambia Ade (kaget), Lelo Ade (hancur), Kapoda Ade (berlebihan), Wuwa Ade sama halnya Eli Ade (suara hati) Ringi Ronga Ade (kekaguman) dan lainnya.
Dalam dunia tasawuf, Qalbun Salim juga bermakna pembersihan hati (Tazkiyatun Nafs) adalah tujuan utama dalam menghidupkan adab dan etika, menjadi instrumen harmoni sosial. Kata "Ade" termasuk dalam kategori Ngahi Asi (Bahasa Istana) bahasa Bima yang menekankan pada kehalusan dan makna secara filosofi dan spiritual.
Dalam dimensi spiritual kata ini merupakan refleksi kepasrahan pada Sang Khalik bagi orang Bima yang kental dengan nilai-nilai Keislaman, kata "Ade" adalah manifestasi dari sifat berpikir secara teologis. Di tanah Bima, Lembo Ade bukan sekadar nasihat, melainkan perekat sosial. Ia muncul dalam berbagai fragmen kehidupan.
Kembali lagi pada Lembo Ade dalam konteks spiritual, Lembo Ade adalah pengakuan bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari diri sendiri, sehingga manusia tidak perlu memikul beban dunia sendirian di pundaknya yang sempit. Ungkapan ini sering diucapkan saat seseorang tertimpa musibah atau dalam situasi yang memancing amarah.
Dunia tidak selalu ramah. Konflik, kehilangan, dan kekecewaan adalah bagian dari drama kehidupan. Di sinilah Lembo Ade berperan bukan sebagai sikap pasrah yang lemah, melainkan sebagai resiliensi mental serta motivasi diri, Ia mengajarkan bahwa masalah sebesar apa pun tidak akan menenggelamkan seseorang jika ia memiliki samudera hati yang cukup luas untuk menampungnya.
Dalam pergaulan sehari-hari, Lembo Ade berfungsi sebagai pelumas interaksi sosial. Ia adalah kata yang paling ampuh untuk meredam konflik. Ketika terjadi kesalahpahaman, ucapan "Ka Lembo Ade Mena" (Saya mohon maaf/berlapang dadalah) bertindak sebagai jembatan perdamaian. Lembo Ade bukanlah kekalahan, melainkan kemenangan atas diri sendiri.
Di era modern yang serba cepat dan penuh tekanan ini, nilai Lembo Ade menjadi semakin relevan. Ia mengingatkan kita bahwa kedamaian tidak ditemukan dengan mengubah dunia agar sesuai keinginan kita, melainkan dengan memperluas kapasitas hati kita dalam menerima realitas. Mewariskan Lembo Ade kepada generasi muda berarti mewariskan ketangguhan mental dan kelembutan spiritual, dua hal yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kemanusiaan kita tetap utuh.
Oleh :
Fahrurizki
Penulis Sejarah & Budaya

0 comments Blogger 0 Facebook
Posting Komentar