Ngge’e Nuru merupakan sebuah tradisi adat masyarakat Bima yang diawali dengan proses saling mengenal antara laki-laki dan perempuan. Setelah tercapai kesepahaman, pihak laki-laki kemudian datang untuk mengabdikan diri kepada keluarga perempuan yang hendak dinikahinya. Bentuk pengabdian ini bukan sekadar simbolis, melainkan wujud dari keterlibatan aktif pada pekerjaan keluarga, khususnya di ladang maupun bertani. Dalam praktiknya, Ngge’e Nuru berlangsung paling singkat satu tahun sampai dua tahun. Selama itu, pihak laki-laki secara sukarela membantu keluarga perempuan tanpa mengharapkan imbalan apapun. Kehadirannya dianggap sebagai bentuk tanggung jawab dan kesungguhan dalam mempersiapkan diri menuju jenjang pernikahan. Apabila kedua belah pihak telah dinilai mampu secara ekonomi dan sosial, maka prosesi pernikahan dapat dipercepat.
Menariknya, dalam tradisi ini tidak dikenal sistem upah atau balas jasa. Namun, terdapat ketentuan adat yang tegas “apabila pihak perempuan melarikan diri atau menjalin hubungan dengan laki-laki lain”, maka keluarga perempuan wajib mengganti kerugian kepada pihak laki-laki yang sebelumnya telah menjalani Ngge’e Nuru (Mengabdi)”. Hal ini menunjukkan sakralnya ikatan moral yang terbangun dalam tradisi ini.
Dalam praktiknya, tradisi ini tetap dijalankan dengan batasan dan pengawasan yang ketat. Calon pengantin perempuan berada di bawah pengawasan keluarga dan menempati kamar tersendiri, sementara calon pengantin laki-laki juga tinggal di tempat yang terpisah. Kebutuhan makan selama prosesi Ngge’e Nuru disiapkan oleh orang tua calon pengantin perempuan atau anggota keluarga yang lebih tua. Ketika hendak keluar rumah, calon pengantin perempuan harus didampingi oleh orang tua perempuan serta keluarga dari pihak calon pengantin laki-laki, sebagai bentuk penjagaan terhadap norma dan kehormatan adat. (baca. Mengenal orang Bima dan Kebudayaan. Anwar Hasnun).
Ompu Wihu (90) menuturkan bahwa “Waktu itu ia pernah melihat dan mendengar tradisi Ngge,e nuru di kampung Nitu yang berlangsung pada Haji Maslah. Ia melihat Haji Maslah tinggal dirumah pihak wanita yang ingin dinikahi. Tinggal satu rumah, masih dianggap baku saudarah terlebih dahulu. Paling lama Ngge,e Nuru dulu itu tiga tahun lamanya, saling membantu dalam berladang dan berkebun. Setelah Ngge,e Nuru, diadakan Pitta Nggahi lalu persiapan untuk melangsungkan pernikahan. Setelah akad pernikahan tiba, laki-laki akan siap-siap untuk sholat, diadakan satu ritual dalam satu ruang laki-laki akan memberikan keberkahan kepada wanita yang ia nikahi sebagai berkah atau dalam adat Bima disebut dida’ ka wange. Ngge,e Nuru ini dilakukan sekitar tahun 1950-an. Walaupun tinggal satu rumah, perempuan tinggal di bagian atas rumah, dan pihak laki-laki di bawah sebelum diadakan pitta nggahi perempuan dan laki-laki tidak akan pernah bertemu, dan hanya akan bercanda gurau tanpa melihat satu sama lainnya.
Memasuki dekade 1990-an, pelaksanaan Ngge’e Nuru mulai mengalami perubahan. Pihak laki-laki tidak lagi diwajibkan tinggal di rumah keluarga perempuan, melainkan tetap tinggal di rumahnya sendiri dan hanya datang ketika ada pekerjaan yang perlu dibantu. Perubahan ini menandai pelunakan nilai-nilai adat yang sebelumnya sangat ketat. Nurdin (57) bercerita tentang pengalamannya dalam tradisi Ngge,e Nuru yang pernah dilaluinya :
“saramba kai na pata angi wau nahu labo inamu, waup ede nuntu keluarga, waur nggori nuntu ede nahu, lao bantu keluarga ina doho mu, ade lao karaso doro, de lao karaso tolo ra lao rombe fare ra wonto kaca. Pala lao nuru nami ma aip ede re wati bune nuru dou zaman ma ntoi, ma lao maru aka uma dou matua ma siwe na, name re nggori si karawi mu de malao dular di uma ndaim, kalo ma ntoi re na lao nuru ngge,e. nahu lao nuru ku inam aip akan re selama samba’a ntoi na, ampo de nika labo inam. ”
artinya, pertama-pertama saling mengenal terlebih dahulu, setelah itu pembicaraan oleh pihak keluarga, baru keluarga sudah sepakat, dilakukan pengabdian kepada keluarga pihak wanita untuk bekerja membersihkan lahan gunung, membersihkan sawah, bahkan pergi panen padi maupun kacang. Mengabdi tahun 1990an berbeda dengan mengabdi zaman dulu, zaman dulu mengabdikan diri tinggal di rumah pihak wanita sedangkan yang dialami oleh Nurdin itu tinggal di rumah nya sendiri sertelah selesai melakukan pekerjaan di rumah wanita. Pengabdian belangsung selama satu tahun lamanya, setelah itu baru melangsungkan acara pernikahan.
Pada masa lalu, Ngge’e Nuru dikenal sebagai tradisi yang berat dan penuh konsekuensi. Ingkar janji dianggap sebagai aib besar. Nurdin kembali berkisah :
“ti loa sala sake, salah sake tahop nono nocu.”
Artinya, lebih baik mati dari pada melanggar komitmen adat.
Ungkapan dan nilai tersebut perlahan ditinggalkan karena semakin berkurangnya masyarakat yang memahami dan mengamalkannya secara utuh. Tradisi Ngge’e Nuru mulai menghilang setelah periode 90-an. Beberapa faktor penyebabnya, yaitu perubahan perilaku dan pola pergaulan yang semakin bebas dan terbuka, sehingga tidak lagi sejalan dengan nilai adat lama. Selain itu, meningkatnya minat masyarakat dalam pendidikan, anak muda sekarang suka yang lebih praktis, tidak ingin capek untuk melakukan pengabdian seperti yang dilakukan orang-orang terdahulu, mereka lebih baik membayar lebih banyak mahar, jika ingin melakukan pernikahan.
Pada masa lalu, Ngge’e Nuru dipandang sebagai tahapan pernikahan yang ideal dan bermartabat. Tradisi ini mencerminkan perjuangan seorang laki-laki dalam memperjuangkan perempuan yang dicintainya, melalui kerja keras, ketekunan, tanggung jawab, serta pengorbanan nyata. Nilai-nilai tersebut menjadi cermin karakter dan kelayakan seorang laki-laki untuk membangun rumah tangga. Dalam konteks masa kini, tradisi Ngge’e Nuru nyaris tidak mungkin lagi dilaksanakan. Kemajuan teknologi, perubahan sosial, serta perkembangan dunia pendidikan telah menggeser pola kehidupan masyarakat. Lebih disayangkan lagi, berbagai rangkaian adat pernikahan lainnya, seperti Kalondo We’i, Boho Oi Ndeu, dan tradisi sejenis, mulai terkikis oleh waktu. Kondisi ini menuntut adanya upaya dokumentasi dan penulisan sejarah agar tradisi-tradisi tersebut tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Bima.
Bentuk kedua dari Ngge’e Nuru berkaitan erat dengan tradisi mengabdi sekaligus menuntut ilmu agama dan Al-Qur’an di rumah guru. Praktik ini dapat dipandang sebagai cikal bakal sistem pesantren tradisional di Bima. Namun, nilai dan praktik pendidikan Islam tetap hidup melalui pola Ngge’e Nuru di rumah para guru Ngaji atau ulama. Kata Ngge'e Nuru mempunyai arti Ngge'e adalah bermukim atau menetap sedangkan Nuru serapan dari bahasa Melayu Nurut, secara harfiah berarti menetap untuk nurut kepada ajaran yang baik.
Prosesi Ngge’e Nuru untuk menuntut ilmu agama dilakukan dengan penuh tata krama dan simbol penghormatan. Seorang anak atau pemuda yang hendak berguru diantar langsung oleh orang tuanya ke rumah guru, sambil membawa seperangkat Nasi Lemang (Oha Mina), pisang, disertai untaian doa dan restu dari Guru Ngaji. Rangkaian ini bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan ungkapan keikhlasan, kerendahan hati, dan penyerahan anak sepenuhnya kepada bimbingan sang guru. Selama menjalani Ngge’e Nuru, murid tinggal bersama guru dalam satu lingkungan rumah. Ia tidak hanya belajar membaca dan memahami Al-Qur’an serta ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga mengabdi dengan membantu pekerjaan sehari-hari guru. Seperti, membersihkan Padasa (Gentong air dari tanah liat), toilet/kamar mandi, tempat mengaji atau bahkan rumah guru Ngaji, serta menyapu halaman dan lainnya. Pengabdian tersebut dipahami sebagai bagian dari proses pendidikan akhlak, sekaligus sarana membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan kesabaran.
Dengan demikian, Ngge’e Nuru dalam dunia pendidikan agama menjadi bukti bahwa masyarakat Bima memiliki model pendidikan Islam yang khas dan bermartabat. Meski tidak berwujud pesantren formal, sistem ini telah melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan menghormati tradisi keagamaan. Nilai-nilai tersebut kini menjadi bagian penting dari ingatan kolektif masyarakat Bima, sekaligus warisan budaya Islam lokal yang patut dikenang dan dilestarikan.
Oleh :
Haryati
Penulis Budaya dan Sejarah

0 comments Blogger 0 Facebook
Posting Komentar