Siapa itu Jena Teke? Menjadi sebuah pertanyaan tersendiri dalam kajian sejarah kesultanan Bima. Memang, selama ini banyak yang mengaitkan bahwa Jena Teke itu secara simbolik adalah jabatan Sultan yang mempunyai hak istimewa maupun ahli waris yang akan di tetapkan oleh hadat, banyak berseliweran pendapat yang kurang tepat, oleh sebab itu dalam tulisan sederhana ini penulis mencoba menjabarkan siapa itu Jena Teke dan apa tugasnya.

Secara terminologi Jena Teke terbagi atas dua kata, pertama Jena yang mempunyai arti seseorang dan Teke berarti Tongkat. Secara harfiah Jena Teke adalah seorang yang bertugas memegang tongkat kekuasaan yang akan datang. Gelar Jena Teke hanya untuk anak-anak sultan, namun gelar tersebut tidak harus di turunkan kepada anak pertama, bisa juga di turunkan pada anak kedua, ketiga atau anak dari istri sultan yang lainnya. Pemberian gelar tersebut haruslah melalui kesepakatan majelis kesultanan bukan aklamasi keluarga sultan.

Pelantikan Ferry Zulkarnain sebagai Jena Teke, 5 Juli 2002.

Dalam sejarah kesultanan, juga banyak anak-anak sultan yang tidak mendapatkan gelar Jena Teke atau dalam adat di sebut “wati ra londo kaipu sara”. Mari kita melihat sejarah terdahulu seperti Sultan Alauddin anak dari Sultan Hasanuddin yang di angkat menjadi Jena Teke adalah anak kedua juga dari istri kedua Karaeng Bisampole. Sebelumnya Sultan Hasanuddin mempunyai anak pertama dari istri melayu yang bernama Datu Muslimin, namun dia memilih menjadi melayu dan menolak gelar Jena Teke (lihat Bo Bumi Luma Rasanae).


Peristiwa yang kedua adalah sultan Abdul Kadim (1751-1773) merupakan anak dari istri kedua sultan Alauddin, awalnya gelar Jena Teke diberikan pada Abdul Qudus anak laki-laki pertama dari istri pertama sultan yang bernama Karaeng Tanasanga. Abdul Kadim di kukuhkan sebagai Jena Teke tahun 1748 masehi. Geneologi Sultan-sultan Bima memang banyak garis menyamping (tahta tidak turun lurus) jabatan sultan banyak dinobatkan pada adik, sejarah tersebut di mulai dari Raja Marta Indarwata dengan adiknya Raja Matra Indartarati, yang berlanjut hingga Bilmana dan adiknya Manggampo Donggo kemudian  yang terakhir adalah sultan Abdul Aziz Ma Wa`a Sampela meninggal tahun 1881 dandi ganti oleh adiknya Ibrahim (1881-1915).

Penobatan seorang Jena Teke, dilakukan oleh Raja Bicara, dimana ketika majelis sudah memutuskan siapa yang menjadi Jena Teke, lalu Raja Bicara menyerahkan sebuah payung pada sang pewaris tahta tersebut. Jena Teke sangat diperhatikan penampilannya, mulai dari pakaiannya, tutur katanya hingga perilakunya. Dalam majelis biasanya posisi duduk saling berhimpitan antara Bumi Luma Rasanae, Wazir Al-Muazam (Raja Bicara) bersama Jena Teke didepan seluruh Khatib, Lebe dan Tureli Jeneli (lihat Upacara dan Busana Adat Bima dalam naskah). 

Dari sini kita bisa menilai bagaimana seorang Jena Teke itu di bentuk kepribadiannya sesuai dengan syara kesultanan, dimana etika sangat di utamakan. Menurut Abdullah Ahmad dalam prosesi Tuha Ro Lanti sebelum seorang Putra Mahkota menjadi Sultan ia terlebih dulu di panggil ‘Nggou’ yaitu panggilan untuk anjing (bahasa Bima halus), hal ini untuk memaknai bahwa dia harus tahan mental dan melatih kesabarannya. Kemudian dia mengucapkan sumpah ‘Tohompa ra weki sura dou marimpa’ yang berarti mengutamakan kepentingan rakyat dan Negara daripada kepentingan keluarga dan pribadi. Setelah itu di lantiklah dia menjadi Sultan.

Dalam tradisi kesultanan Bima yang tercatat dalam kitab Jawharat Ma`arif, calon pemimpin itu mempunyai tiga konsep pasangan yang saling mengisi yaitu Akal-Iman, Ilmu-Takwa dan Adil-Haya. Pertama Akal berpasangan dengan iman. Iman bagi seorang pemimpin dijadikan pendamping akalnya. Jika tidak ada imannya maka akalnya akan digunakannya untuk mengakali atau membohongi rakyat dan bawahannya maka Jadilah dia seorang pemimpin yang penuh dengan penipuan, sifat munafik serta sombong (takabur).

Setelah itu yang kedua adalah Ilmu pasangan dengan takwa. Ketakwaan seorang pemimpin akan menjadi patokan untuk dirinya dalam mengamalkan segenap ilmu yang dimilikinya di jalan kebaikan, dimana ilmunya tersebut menjadi ilmun yuntafa`u bih (ilmu yang memberi manfaat) kemudian Takwa, dalam Jawharat M,a`arif ditejemahkan dengan istilah takut. Kata takut mempunyai makna seorang pemimpin takut untuk tidak melakukan kebaikan-kebaikan sebagai pengamalan ilmu yang dimiliki. Menjadi tolak ukur seorang pemimpin dalam tindakannya (lihat Mukhlis, Wacana Politik dan Kepemimpinan Islam dalam Naskah Kuno Kesultanan Bima).

Ketiga yaitu Adil berpasangan dengan haya (malu). Mengenai adil dalam Jawharat Ma`arif sangat di tegaskan untuk calon pemimpin maupun pemimpin yang akan menjadi Sultan di tanah Bima, karena keadilan menyangkut rakyat maupun dirinya, di tulis dalam kitab tersebut :

Jika /40/ ada padanya adil apabila tiada haya‘nya bukan tempatnya yang ditempatinya artinya bukan ia adil hukum syara` Allah Ta`âlâ hanya adil dengan kira-kira sendirinya juga daripada tiada ada haya‘ padanya.

Adil dan Haya sebuah refleksi dalam symbol kultural Bima kini yaitu Maja Labo Dahu, apalagi bersangkutan dengan seorang pemimpin, maka akan menjadi sebuah panutan.  Sebuah pertanyaan kita, apakah Jena Teke masa silam dan masa kini tetap sama? Tentu sama, selama mengatasnamakan majelis kesultanan Bima dan adat yang sama, selama itu juga ketetapan adat untuk Jena Teke berlaku.


Oleh : Fahrurizki 



0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top