Rimpu dalam kamus tertua yang di tulis oleh Jonker tahun 1896, tidak menjelaskan apa arti kata Rimpu itu. Memang, selama ini masyarakat luas mengenalnya hanya sebatas sebuah hijab tradisional masyarakat Bima Dompu (Mbojo). Penjelasan-penjelasan mengenai Rimpu banyak selama ini masih berpatokan pada hal Religiositas lokal. Namun bila kita lebih dalam membedah Rimpu ini, kita kan banyak menemukan hal-hal yang menyangkut Islamisasi, History dan Culture. Karena Rimpu adalah media bagaimana wanita Bima mempresentasikan adat mereka.

Wanita Bima di Pasar tahun 1956 (Sumber : UWM Library)

Dalam pandangan masyarakat Bima sendiri, Rimpu itu berarti Islam, sebuah symbol wanita muslim yang kini masih tetap bertahan, namun sayangnya, kini Rimpu hanya bisa di temui pada acara seremonial sesaat atau festival lokal, dijadikan sebuah symbol pergelaran dan pertunjukan pariwasata yang sangat jauh dengan kaidahnya. Padahal jika kita melihat penggunaan Rimpu di masa sekarang, itu adalah sebuah perlawanan, upaya kebangkitan ekonomi lokal dan bagaimana wanita Bima memperlihatkan jati diri keyakinan mereka terhadap kepercayaan leluhurnya (Islam). Dalam gempuran era modern saat ini, kita hanya bisa jumpai Rimpu pada masyarakat pesisir dan pedalaman, wanita-wanita angkatan 50 hingga 60-an masih mengenakan Rimpu bilamana dia keluar rumah dengan spirit dan tata cara pemakaian yang sama seperti leluhur mereka. Untuk itu dalam tulisan yang sederhana ini, penulis mencoba menguraikan bagaimana penerapan dan spirit wanita Bima pada praktik tradisi mereka tersebut (Rimpu).

Nama Rimpu sendiri dilihat dari naskah abad 18 dan 19 yang sudah di translit oleh dua orang filolog yaitu Dr. Sri Wulan Rujiati dan Dr. Siti Maryam, menerjemahkan bahwa terminologi nama Rimpu adalah tata cara pemakaian sarung, dimana nama sebenarnya adalah Kudung Sarung oleh masyarakat Bima hingga kini menyebutnya Rimpu. Datangnya kudung sarung sendiri di tanah Bima, dimulai saat datangnya kaum melayu yang menyebarkan Islam. Kemudian berasimilasi kedalam kebudayaan Bima. Kudung Sarung menjadi hijab wanita Bima ketika mereka akan keluar rumah.

Pada tulisan seorang Khatib istana yang bernama Lukman, pada tahun 1817 masehi dimana saat penobatan Sultan Ismail menggantikan pendahulunya Sultan Abdul Hamid. Sang Khatib menceritakan bagaimana begitu ramainya rakyat menyambut pelantikan tersebut saat Sang Sultan di arak keliling Bima. Dan wanita Bima keluar mengenakan sarung (Rimpu) untuk menyaksikan seremonial tersebut. 

Kemudian dalam catatan para penjelajah Antropologi, yang termuat dalam Oosthoek Geilustrede Encylopedie  terbit tahun 1917, di tulis bahwa wanita Bima jika keluar rumah mereka mengenakan sarung seperti jilbab dan kerudung yang berwarna merah. Laki-laki dan wanita rata-rata mengenakan celana panjang. Dari situ bisa dilihat bagaimana implementasi keagamaan masyarakat Bima tercermin dalam pakaian dan adab keseharian. Rimpu biasa digunakan dengan dua sarung atau di sebut Tembe. Namun dewasa ini Rimpu sudah identik dengan Tembe Nggoli, nama Nggoli sendiri adalah sebuah nama jenis benang yang digunakan untuk menenun, masyarakat Bima dahulunya lebih mengenal dengan nama ‘Tembe Bhali’.

Ada beberapa istilah dahulu yaitu Siwe Ma Rimpu mempunyai makna perempuan yang menjaga etika dan perilaku, tidak hanya menutup auratnya juga menjaga perilaku dan ketaatan. Dahulu sekitar kampung Melayu para wanita ketika keluar rumah tidak hanya Rimpu yang mereka kenakan, namun juga kendaraan benhur (dokar) yang memuat mereka juga di tutupi dengan kain. Penerapan peraturan agama (Syariah) pada wanita Bima juga bisa dikatakan sangat keras untuk membentuk karakter mereka, tentu mereka juga di anggap sejajar dalam Islam di Bima itu bisa dilihat dalam syair Kande sebagai berikut :

“Wara kai ndai Ruma dende pu ana mone, Ruma ndaka ba ana siwe sa ntoi-ntoi dunia”
(Allah tetap ada karena di tuntun oleh anak laki-laki, Allah di jaga oleh anak perempuan selama-lamanya di dunia).   

Menengok kembali kesejajaran wanita dalam kultur Bima, sekolah-sekolah yang dibangun sejak abad 19 hingga 20 juga mengutamakan pendidikan bagi kaum perempuan. Tahun 1921 kesultanan Bima mengusulkan kepada pemerintahan Hindia Belanda untuk mendirikan sekolah umum khusus wanita (Meisye School). Hal ini hendak bertujuan melonggarkan akan kekakuan tradisi Bima yang sangat kaku terhadap anak perempuan. Lalu sekitar tahun 1930 madrasah darul ulum juga dibuka khusus wanita, hingga tahun 1940-an kesultanan Bima mendirikan organisasi pemberdayaan khusus wanita yang diberi nama Rukun Wanita (RW).

Mengembalikan lagi perjalanan panjang sejarah Rimpu juga upaya mengembalikan lagi nafas ketaatan beragama di Bima. Kita semua tahu bagaimana kondisi sosio religius Bima sekarang ini, upaya mengembalikan lagi spirit keagamaan di Bima juga tidak segampang membuat festival atau event rimpu lainnya. Rimpu bukan hanya dijadikan sebuah symbol kebudayaan namun perlu pemahaman bagaimana dan kenapa rimpu ini ada dan hadir sebagai legacy (warisan). Tidak masalah adanya saling bersaing mencetak rekor MURI terbanyak mengenakan Rimpu, namun masih adakah semangat Rimpu yang menjaga marwah wanita Bima? 


Oleh : Fahrurizki



0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top