Friday, April 20, 2018

Perang Para Pangeran Sumbawa

Pada tahun 1648 masehi Sumbawa memasuki fase awal perintisan sisitem negara baru yaitu Kesultanan, sebelumnya terdiri dari beberapa kerajaan kecil kemudian disatukan oleh seorang anak muda yang mempunyai visi mempersatukan tanah Samawa dalam satu kekuatan, anak muda tersebut bernama Mas Cini. Setelah mempersatukan tanah Sumbawa, lalu dia diangkat menjadi penguasa pertama Kesultanan Sumbawa, menjadi pengayom dan pelindung tanah Samawa yang di emban oleh Mas Cini hingga berakhir pada tahun 1668. Meninggalnya Mas Cini juga meninggalkan Kesultanan Sumbawa yang masih seumur jagung ketika itu, berbagai gesekan politik dalam negeri dari para pangeran, bangsawan hingga Makassar (Gowa) mewarnai dinamika pertarungan elit istana.

Sultan Sumbawa Muhammad Djalaluddin III, bersama Raja Muda serta bangsawan Sumbawa dan Bima tahun 1930. (Sumber : kesultanansumbawa.com)

Dua pangeran muda yaitu saudara dan keponakan mendiang Mas Cini juga masing-masing mempunyai ambisi dan kepentingan lain, untuk meneruskan tampuk kekuasaan Sumbawa juga harus mempunyai dukungan kekuatan yang besar dibelakangnya, kekuatan itu adalah Gowa (Makassar) dan VOC, menggantikan Mas Cini yang terpilih oleh majelis pemerintahan Kesultanan Sumbawa jatuh pada saudaranya Mas Goa yang di dukung penuh oleh para bangsawan Makassar, hubungan VOC mulai terancam di tanah Sumbawa, muncullah benih perlawanan dari Mas Bantan yang juga sepenuhnya di dukung oleh VOC.

Perlawanan mulai digerakkan oleh para bangsawanan yang tidak setuju dengan Kontrak tahun 1669, ditolak mentah-mentah oleh Mas Goa hingga membuat geram pihak VOC, melalui perantara Aru Kaijo seorang bangsawan Bone, kontrak tetap ditolak oleh Sultan Sumbawa. Maka VOC melihat kekuatan lain yang juga berpengaruh di kesultanan Sumbawa seorang pangeran muda yaitu Mas Bantan Datu Loka, VOC memberikan dukungan penuh untuk melengserkan pamannya, Mas Bantan yang juga merupakan menantu dari Raja Gowa mempunyai posisi yang menguntungkan bagi VOC.

Dengan politik perkawinan para bangsawan Gowa, pihak VOC menggunakan itu sebagai taktik meredam kekuasan Mas Goa dan bangsawan Makassar, dimana paska Bungaya tahun 1667 para bangsawan adalah para pelarian yang tidak menyetujui Sultan Gowa Hasanuddin melepas kekuasaan Gowa kepada Spellman. Kekuatan militer Mas Bantan juga didukung oleh bangsawan Sumbawa lainnya. Tercatat dalam Tijdschrift voor Nederlandsch Indie , yang terbit tahun 1848, mengisahkan tepatnya pada tahun  1673 rakyat Sumbawa memberontak untuk melengserkan raja mereka, kekayaan raja 500.000 real dirampok dan kerajaan diporak porandakan oleh pemberontak. Dimana pemberontakan tersebut tak lain dipimpin oleh Mas Bantan yang berhasil melengserkan Pamannya Mas Gowa.

Pemerintahan baru kesultanan Sumbawa dibawah tampuk kekuasaan Mas Bantam memberikan angin segar bagi rakyat Sumbawa, tahun 1673 pusat pemerintahan yang awalnya di Selaparang pindah ke Sumbawa. tahun 1674 Kapten Jan Fran Hostein datang ke Sumbawa untuk memperbaharui kontrak agar kesultanan Sumbawa melepas haknya pada Seleparang, Namun Sultan Mas Bantam berubah pikiran, hingga VOC mencurigai bahwa berubahnya Sultan tersebut akibat terpengaruh oleh para bangsawan Gowa yang masih menancapkan kukunya di tanah Sumbawa (Lihat, Depdikbud_1977).

Dalam Tijdschrift voor Nederlandsch Indie mengatakan pada 12 Februari 1676 Mas Bantan menerima kembali kontrak yang dimana awalnya sudah dijanjikan kepada VOC ketika Mas Goa dilengserkan. Sumbawa memberikan hak sepenuhnya untuk Selaparang. Tahun 1701 Sultan Mas Bantan menyerahkan tampuk kekuasaan Kesultanan Sumbawa kepada pangeran muda anaknya Sultan Harun A Rasyid I, di tahun 1713 Sultan Mas Bantan menghembuskan nafas terakhirnya di tanah Samawa.


Oleh : Fahrurizki




No comments:

Post a Comment