Tidak setenar pulau Bungin tetangganya, pulau Kaung merupakan pulau kecil yang juga penghuninya kebanyakan dari suku Bajo, Makassar dan Bugis. Sama halnya seperti Bungin bagai pinang dibelah dua, Kaung dan Bungin mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat melalui kawin mengawin. Pulau Kaung juga masuk pada wilayah administrasi Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Terletak di pesisir barat Alas, Kaung merupakan pulau yang kebanyakan profesi penduduknya bekerja sebagai nelayan seperti leluhur mereka dari pesisir Sulawesi asal para pelaut ulung Nusantara.

View bukit Bulu Baki yang menjadi benteng pulau Kaung, perahu warga disimpan disekitar bukit dan dermaga sangat jarang dijadikan tempat penyimpanan perahu. (Foto : Fahrurizki) 

Pulau yang sangat padat, rumah-rumah tradisional panggung kayu berderet dan berhimpitan satu sama lain, seperti sebuah pagar berdempetan rapi membatasi pengaruh buruk diluar lingkungan mereka, bentuk arsitektur rumah panggung mereka adalah perpaduan Sumbawa dan Sulawesi, akulturasi dua budaya itu tampak indah dan menawan, diberi berbagai warna-warni cat yang cerah menghilangkan kekakuan hidup mereka dengan pola ciri pesisir, pertemuan modernisasi dan adat lokal yang tergambarkan pada sebuah rumah, jendela sudah memakai kaca dan diatapnya terdapat sebuah antena Parabola yang suatu waktu bisa menayangkan menawannya pulau mereka, dibawah kolong rumah panggung dijadikan sebagai ruang utama untuk aktifitas sehari-hari, seperti menyulam jaring ikan, ruang makan, serta tempat dimana mereka berleha-leha untuk tidur siang dan bersantai, juga tempat interaksi satu sama lain untuk saling bertukar informasi. Kolong rumah panggung di Kaung tingginya kurang lebih 2,5 meter, suasananya sejuk terlindungi dari sinar matahari tropis yang sangat menyengat. Tidak hanya dijadikan tempat mereka beraktifitas dan  bersantai, kolong rumahnya juga dijadikan sebagai tempat jualan seperti toko kecil yang biasa disebut warung. Rumah panggung dengan tiang-tiangnya yang tinggi menjadi tempat yang aman dari pasangnya air laut serta menjaga keluarga mereka ketika yang laki pergi melaut.

Letak pulau Kaung tersembunyi dibalik bukit yang tampak bagaikan benteng menjaga  pulau dari kehidupan lain diluar komunitas mereka, bukit tersebut dinamakan “Bulu Baki” yang berarti rumah para Jin. Bukit Bulu Baki memagari mereka sejak dulu, melindungi wanita dan anak-anak ketika para lelakinya pergi mencari nafkah di laut hingga berbulan-bulan, dijaga oleh para Jin yang setia menjadi Khadam mereka hingga orang berpikir dan ragu untuk membuat kerusakan di pulau mereka. Bapak Sindrang seorang guru Sekolah Dasar (SD) yang dilahirkan di pulau Kaung bercerita, bahwa awalnya Kaung merupakan sebuah pantai yang terpisah dari bukit Bulu Baki, ditempati oleh leluhur mereka yang berasal dari Sulawesi, untuk menuju Alas mereka harus menyeberang menggunakan perahu lalu ditahun 1982 orang Kaung mulai membuat jalan yang menghubungkan dengan Alas, batu karang di tumpuk dengan tanah hingga menjadi sebuah jalan yang menghubungkan mereka dengan budaya baru dan kehidupan lain.

Seorang yang dituakan yaitu Bapak Abdul latif atau biasa disapa dengan Pak Late mengisahkan bahwa dahulu Kaung awalnya bernama Ujung Besi, dimana dahulu para pria-nya adalah prajurit yang ikut berperang melawan penjajah. Ada seorang tokoh pejuang yang terkenal di Ujung Besi bernama Asbula. Tidak hanya sebagai prajurit, mereka juga ahli dalam membuat pedang untuk menjaga tanah mereka dari penjajah. Setelah kemerdekaan, Ujung Besi berubah nama menjadi Kaung yang berarti bebas dari penjajahan dan bersatu untuk menjaga tanah air.

Rumah warga Pulau kaung, kolong rumah sangat multifungsi untuk kegiatan lainnya. (Foto : Fahrurizki)

Kemerdekaan dan kedamaian sudah tergapai kemudian mereka tidak lupa asal leluhur mereka mencari makan yaitu kembali melaut. Para pria di pulau Kaung ketika umur sudah beranjak dewasa 15 hingga 17 tahun diwajibkan untuk melaut hingga ke pulau seberang. Saat masih muda Bapak Sindrang bercerita pengalamannya sebelum menjadi guru Sekolah Dasar (SD), beliau melaut hingga ke Ternate, Tidore, Kupang dan Dili (Timor Leste). Pergi melaut sangat jauh sekali, jauh dari rumah dan keluarga hanya untuk mencari Lobster mempunyai harga yang sangat tinggi dibanding ikan lainnya yang biasa di tangkap oleh nelayan Kaung, tak hanya Lobster yang mempunyai harga tinggi juga ada ikan hias ditangkap oleh nelayan untuk dijual, dimana nantinya dijadikan sebagai ikan hias dalam sebuah akuarium restoran atau menjadi pajangan mewah rumah orang kaya yang mau membayar seekor ikan Napoleon dengan harga tinggi hanya untuk sebuah kepuasan hedonis.

Kehidupan masyarakat pesisir tidak bisa jauh dari hal-hal Mistis dan Mitos, kisah-kisah mistis diceritakan turun temurun ke anak cucu mereka dan sengaja disebar luaskan untuk menjaga pulau mereka dari gangguan orang-orang yang berniat jahat ketika para pria pergi melaut. Ada mitos yang menarik di Pulau Kaung yaitu bagi orang (khusus pria) berniat jahat yang mendatangi Kaung akan tersesat selama tujuh hari dan bahkan lebih. Untuk menemukan jalan kembali atau pulang sangat cukup sulit, namun ada satu persayaratan untuk melepasnya dari tersesat yaitu harus menikahi gadis Kaung supaya menemukan jalan kembali. Mitos ini menunjukkan bagaimana orang Kaung terbuka kepada siapapun, namun jika berniat jahat maka dirinya akan tersesat dan tertelan oleh keburukan dirinya sendiri, gadis yang dinikahkan sebuah wujud melepaskan keburukan pada diri sendiri dan jadilah seperti orang Kaung yang hidup dengan bebas diatas lautan dari tangan mereka sendiri.

Tidak hanya mitos juga ada tradisi mistis yang dipraktekkan oleh orang Kaung, tradisi tersebut bernama Balian dimana seorang kerasukan Dhewa (mahluk halus) yang sengaja dimantrai melalui sebuah irama dari pukulan gendang diadakan hanya saat Kaung mengalami musibah. Ketika Balian diadakan ada sesajen yang dipersiapkan yaitu pisang, telur ayam dan beras kuning. Lalu sesajen diletakkan diatas sebuah tandu yang terbuat dari bambu di bawa menuju ke laut, dimana rombongan tersebut di pimpin oleh Sandro seorang dukun yang mempunyai keahlian supranatural di dampingi oleh para dayang tujuh laki-laki dan tujuh perempuan. Seorang Balian berada di tengah rombongan berjalan sambil Joget (nama tarian khas Kaung) di iringi gendang dengan irama “Pakan Jaran” nama sebuah irama khusus yang mempunyai nada mistis untuk mengiringi Balian menuju laut saat melepaskan sesajen sebagai sebuah persembahan kepada penguasa laut dan penguasa kehidupan. Sekarang Balian sudah jarang yang mempraktekkan namun hanya ada beberapa orang saja, kata Pak Sindrang.

Tradisi Balian adalah sebuah performance, simbol dari kentalnya mistis di Kaung, sebuah unjuk kegaiban sebagai penanda bahwa Kaung adalah pulau yang mempunyai kekuatan kosmologi sebuah energi gaib yang tetap menjaga mereka dan sebuah peringatan jangan pernah berniat jahat pada mereka.  Bapak Sindrang pernah bercerita bahwa dahulu para tetuah mereka ketika kerasukan Dhewa mereka saling beradu kekebalan yaitu duduk di atas ujung keris. Bapak Sindrang juga bercerita waktu dia kecil dengan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan seorang ibu dari temannya kerasukan Dhewa atau sedang Balian mencuci kakinya dengan menggunakan bara api, keesokan paginya dia melihat kaki Ibu temanya tampak baik-baik saja dan tidak ada sedikitpun luka bakar pada kakinya, kata Pak Sindrang.

Selain Balian juga ada praktik budaya yang sama, juga berbau mistis yaitu “Makan Betah” dimana praktik tersebut lebih ke ritual pengobatan, dimana seorang yang sakit akibat terkena ilmu hitam dan lain sebagainya disembuhkan melalui pengobatan tradisional, yang sakit bersama Sandro berdua duduk di pinggir pantai untuk mengobatinya. Juga ada sesajian yang harus di persiapkan yaitu pisang dua sisir, telur ayam, beras kuning, beras merah, beras hitam yang sudah diragi, dua lilin serta daun sirih yang dilipat dimana di tengahnya terdapat rokok jontal (rokok tradisional Samawa). Setelah Sandro membaca sebuah doa yang kalimatnya dari Al-Quran dan campuran bahasa lokal lalu sesajen tersebut kemudian dimakan bersama-sama oleh yang sakit dengan Sandro.

Mistisnya Kaung juga tak kalah indahnya alam sekitar, seperti aktifitas penduduk Kaung serta pantainya yang indah. Aktifitas penduduk Kaung bagi yang lelakinya ketika tidak turun melaut mereka memperbaiki perahu atau menyulam jaring ikan yang sobek. Adapaun para wanitanya juga turut membantu memperbaiki jaring ikan yang sobek atau duduk dibawah kolong rumah saling mencari kutu satu sama lainnya, dimana wajah mereka sudah di olesi Berra untuk melindungi kulit wajah mereka dari sinar matahari. Bagian barat pulau terdapat kuburan namun disebelahnya ada pantai berpasir putih, ketika air pasang pemandangan yang indah akan tampak sebuah perpaduan mistisnya kuburan dan indahnya pantai menjadi magical beach yang mempesona.


Oleh : Fahrurizki



0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top