Pada abad 16 masehi adalah awal sebuah perubahan besar pada sejarah Nusantara, akibat sebuah biji yang terkenal di pulau Run sebuah biji yang dikenal dengan nama Pala, membuka peradaban baru bagi Nusanatara khususnya bagian timur. Berawal  pada tahun 1471 masehi Portugis berhasil membuka jalur pelayaran pada garis khatulistiwa Hindia Timur hingga kembali ke negeri mereka dengan muatan kapal lada dan rempah yang melimpah, lada dan rempah yang berasal dari sebuah pulau yang dijuluki ‘Gudang Rempah” atau dikenal dengan nama Maluku.

Eastern islands of Indonesia c.1653, peta kuno yang digambar oleh Antoine De Winter


Setelah Malaka giliran Maluku yang menjadi incaran bangsa Eropa kala itu setelah keberhasilan Portugis menguasai Malaka. Spanyol, Belanda dan Inggris berlomba mencari rempah hingga sebuah penemuan benua bersejarah yaitu Amerika oleh Christoper Columbus yang awalnya sebuah kekeliruan jalur (kesasar) untuk menuju pulau rempah. Pelayaran terus dilakukan oleh bangsa eropa di Nusantara yang awalnya dikatakan berdagang lalu membentuk koloni hingga mengklaim wilayah (ekspansi).

Karena Maluku, Nusantara menjadi kepulauan perdagangan, serta menciptakan sejarah besar dan sejarah baru bagi kerajaan-kerajaan di Nusantara melalui pelabuhannya. Pada Nusantara bagian timur, Makassar, Pulau Sumbawa dan Kupang juga ikut terlibat dalam perdagangan jalur rempah. Sebuah kerajaan identik dengan pelabuhan yang menjadi pusat jual beli sebagai pengumpul pundi-pundi kekayaan kerajaan pada kala itu. Pada pulau Sumbawa mempunyai lima pelabuhan strategis yaitu Sumbawa, Tambora, Sanggar dan Bima dengan komoditi khas masing-masing seperti kayu sapan, kuda, beras dan kain.

Awal abad 16 para pelaut Portugis mulai membuka jalur pelayaran menuju Timur, adalah Tome Pires seorang ahli obat-obatan asal Lisbon dan juga sebagai bendahara Portugis di Nusantara dalam kurun waktu 1512 hingga 1515. Tome Pires berlayar dari Malaka hingga ujung timur Nusantara, dalam catatannya yang diberi judul Suma Oriental ketika kunjungannya di Pulau Sumbawa. Selain Bima dan Sumbawa, Pires mencatat adanya kerajaan kecil di Sangyang Api dimana terdapat banyak aktifitas perdagangan dan pulau tersebut dipimpin oleh seorang raja yang kafir, catatnya.

Pires mengira bahwa Sangyang Api adalah sebuah kerajaan kala itu, mempunyai pelabuhan dengan aktifitas jual beli kuda serta lainnya. Namun dalam catatan Kerajaan Bima, Sangyang Api adalah sebuah pulau kecil yang ada dibawah wilayah kekuasaan Bima dahulu dikepalai oleh seorang Dalu. Tidak hanya sebagai tempat penangkaran kuda Sultan, Sangyang Api juga adalah tempat pengasingan bagi narapidana kerajaan. Pemasukan penghasilan kesultanan Bima tak hanya di pelabuhan Bima, juga Sangyang Api juga banyak memberikan pendapatan, terutama dalam perdagangan kuda. Diperkirakan Sultan Bima pada tahun 1840-an memiliki sekitar 10.000 ekor kuda (Atlas Pelabuhan-pelabuhan Bersejarah di Indonesia).

Selain Sanghyang Api adalah pelabuhan Sape, oleh para pelaut disebut Gevapy. Pelabuhan Sape terletak di ujung timur Bima, selat yang juga dinamakan “Sape”. Sebuah pelabuhan dimana menjadi pemukiman berbagai etnis Nusantara, dari Bugis, Badjo, Manggarai dan Sumba. Sape adalah simbol gerbang peradaban timur yang menghubungkan budaya dan agama, pelabuhan kedua terbesar di pulau Sumbawa selain pelabuhan Bima. Menariknya pada katografi abad 16 dan 17 banyak pelaut mengira bahwa Sape adalah sebuah kerajaan kecil.

Kartografi kuno tentang pulau-pulau timur dari tahun 1653 dengan title “De Molukkische Eilanden Celebes Gilol c.1653” memposisikan Sape dengan kerajaan lainnya di pulau Sumbawa, peta tersebut berasal dari Prancis yang digambar oleh Antoine De Winter, pelukis asal Belanda, kemudian diterbitkan di Prancis oleh Nicolas Sanson d`Abbeville.  Dalam peta pada pulau Sumbawa terdapat enam nama tempat yaitu Cumbava (Sumbawa), Pecato (Pekat), Aram (Tambora), Buena Bima (Bima), Gevapy (Sape) dan Gunapy (Sangyang Api). Biasanya dalam peta kuno nama tempat dan pelabuhannya juga diidentifikasi sebagai sebuah kerajaan, hingga Gevapy dan Gunapy dalam peta Antoine De Winter dikira sebuah kerajaan di kepulauan timur.

Arus perdagangan di timur semakin ramai ketika kayu sapan melejit di Batavia, mulai dari perdagangan tahun 1680 hingga 1799 masehi. Nama Sape dan Sangyang Api juga dikenal saat kayu cendana meenjadi primadona Kerajaan Hindu pada abad 15, posisi kedua pelabuhan tersebut (Sape dan Sangyang Api) sangat mendukung kapal-kapal pelaut mengisi perbekalan yang akan menuju timor untuk mencari cendana, disebutkan dalam catatan kuno Majapahit yaitu Nagarakertagama, ditulis pada tahun 1365 masehi bahwa Sangyang Api dan Bima yang menjadi pos militer Majapahit.


Oleh : Fahrurizki



Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top