Beberapa pekan ini sangat viral di media sosial mengenai ikrar Suku Dompu, dan itu bagi saya sesuatu kabar yang sangat baik, yang berarti itu ada beberapa penemuan literatur atau manuskrip yang bisa  mendukung akan ikrar tersebut untuk menambah dan menjadi khasanah kultur di Pulau Sumbawa. dalam artikel yang sederhana ini saya akan mencoba membedah kesejarahan dan budaya masyarakat Dompu.

Para wanita Dompu dengan kerudung khasnya, depan Istana Sultan Dompu, tahun 1924. (Foto Oleh : Tillema)

Dapat di lihat dari samanya bahasa serta budaya, Dompu dan Bima berasal dari satu suku yang sama yaitu Suku Mbojo, Bima dan Dompu adalah dua kerajaan kembar yang tidak bisa jauh dari satu alur kesejarahannya. Kultur Bima dan Dompu adalah Mbojo, namun saya melihat ada beberapa kesalahan dalam pengertian Dou Mbojo yang selalu di identikkan dengan Bima. Tidak ! menurut saya itu sangat salah, sebab Dou Mbojo meliputi seluruh Suku Mbojo, entah itu dari Dompu maupun dari Bima.


Mulai dari historis kerajaannya, Raja-raja Dompu berasal dari satu keturunan Raja Bima, masih mempunyai pertalian darah yang sama, secara genealogi seperti yang dibahas oleh Profesor Truhart dalam Regent Of Nations Vol.3 Asia & Pacific Oceania, Raja Dompu pertama adalah anak dari Raja Bima. Tahun 1961 M. Jauffret merekam Silsillah raja Dompu atas keterangan Sultan Dompu yang terakhir, tak lain adalah Sultan Tajul Arifin II (1947-1955). Dari keterangan tersebut bahwa Raja Dompu pertama Batara Dompu Indra Kumala anak dari Sang Bima. Bisa dipastikan bahwa Indra Kumala adalah adik dari Indra Zamrut Raja Bima, yang bersumber dari manuskrip lama kesultanan Bima.

Sebelum pengidentifikasian Dompu paska letusan gunung Tambora oleh seorang Botani asal Swiss bernama Heinrich Zollinger tahun 1847 dalam bukunya “Verslag Van Eene Reis Naar Bima En Soembawa: En Naar Eenige Plaatsen Op Celebes, Saleijer En Floris” yang diterbitkan tahun 1850. Namun Dompu pertama kali di identifikasi dan di tulis oleh seorang guru besar bahasa dan ethnografi Belanda bernama Philippus Pieter Roorda van Eysinga.

Dalam salah satu bukunya yang berjudul “Handboek der land- en volkenkunde, geschied-, taal-, aardrijks- en staatkunde van Nederlandsch Indië” yang di terbitkan tahun 1841, dia menulis tentang Dompu paska letusan Tambora tahun 1815, hanya satu paragraph tentang Dompu, “Kerajaan Dompo terletak di sebelah barat Bima dan terkena letusan yang dilaporkan juga sempat sangat lama, penduduk terus mengalami kelaparan membutuhkan pucuk pohon palem dan makan dengan pucuk pepaya dan pohon pisang. Hal ini diperintah oleh satu Radja,” tulis Roorda van Eysinga.

Tentang paska letusan Tambora sangat banyak tercatat dan lengkap tentang Dompu oleh Heinrich Zollinger pada tahun 1847, sepulangnya dari Tambora Zollinger melewati Dompu, dia melihat sawah-sawah yang kering serta keadaan yang cukup parah, di kutip dari Profesor Helius Sjamsuddin, Dompu dalam pandangan Zollinger saat membandingkannya dengan Bima, “dalam bahasa dan agama, rakyat Dompu sama dengan Bima. Hanya bedanya orang Dompu kurang rajin dibandingkan dengan orang Bima”. tulis Profesor Helius Sjamsuddin dalam Memori Pulau Sumbawa.

Berkurangnya rakyat Dompu paska Tambora membuat penduduk Dompu sangat sedikit dari waktu ke waktu semakin berkurang karena kelaparan, sakit dan pindah. Hingga terjadilah gelombang migrasi besar orang Bima yang menempati Dompu. Juga menurut Zollinger hubungan kekerabatan Dompu dan Bima terjadi melalui perkawinan. “Terbentuklah komunitas-komunitas Bima di Dompu yang lambat laun akhirnya menjadi orang-orang Dompu”. Kata Profesor Helius Sjamsuddin.

Orang-orang Bima dari waktu ke waktu terus berdatangan menempati wilayah Dompu, karena luas wilayah dan tanahnya yang subur, kedatangan orang Bima di Dompu juga karena tradisi Kanggihi (mencari tanah subur untuk bercocok tanam), mereka menemukan tanah yang tepat hingga menetap dan beranak pinak. “Terjadi interaksi yang relative intensif antara penduduk Dompu dan penduduk Bima. orang –orang Bima datang menetap di Dompu”, tulis Zollinger.

Dalam catatan Jeneli Dompu terakhir bernama M. Azis Saleh (Bapa Ntero) yang di salin oleh Profesor Helius Sjamsuddin yang juga merupakan sejarahwan Dompu pada tahun 1959 ketika sedang melakukan penelitian dan pengumpulan bahan-bahan Sejarah Dompu, catatan tersebut berisi :

“Sebab itu atas persetudjuan sultan Dompu dan Bima didatangkan rakjat kolonisasi (pembojong) dari Bima dengan sjarat rakjat itu mendjadi rakjat keradjaan Dompu. Karena itu bertambah djumlah kampung dan djiwa di Dompu:  Bolonduru,  Bolobaka, Montabaka, Rasana’ebaka, Belobaka, Buntju dll.”

Juga pengalaman saya ketika melawat ke desa Wawonduru, Dompu. Pada akhir Juni kemarin, menemukan satu hal yang sangat menarik, yaitu ternyata leluhur mereka di Desa Wawonduru berasal dari Wawo, Bima. dan itu sangat lantang di jelaskan oleh Haji Ahmad, salah satu tokoh tertua di Wawonduru, bahwa leluhur mereka berasal dari Wawo.

Bima dan Dompu sangat dekat hubungan kekerabatannya, hingga budaya dan tradisi Dompu sangat mirip dengan Bima. Namun ada beberapa postingan di media sosial yang sangat menggelitik bagi saya, yaitu tentang Rimpu yang dikatakan berasal dari Dompu. Mengenai asal usul Rimpu itu sendiri menurut saya bukan berasal dari Dompu maupun Bima, tradisi Rimpu tercipta oleh komunitas masyarakat kampung Melayu yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal Bima. Adapun pengenakan Rimpu di Dompu itu tak lain di bawa oleh masyarakat Bima dulunya.

Dalam hal ini tulisan saya bukan untuk menegaskan bahwa Dompu dan Bima berbeda, tulisan di atas coba saya jabarkan melalui data-data yang bisa di pertanggung jawabkan untuk menjadi kajian bersama, bagi saya keduanya tetap satu ethnik (Mbojo). Sayapun sangat mendukung jika ada sejarahwan Dompu yang coba menyusuri asal usul Dompu sesuai dengan literatur yang dapat di pertanggung jawabkan untuk menjadi proses pembelajaran bersama.


Oleh : Fahrurizki



2 comments Blogger 2 Facebook

  1. Informasi yg sangat bermanfaat, mungkin sedikit saran saja, ada beberapa kalimat yg ambigu

    ReplyDelete
  2. Saya banyak mempelajari sejarah Bima melalui buku-2 sejarah Bima, Bo Sangaji Kai, Sejarah Bima Dana Mbojo, Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah, dan semua mengatakan Mbojo itu adalah translatenya Bima, dan menurut Abdullah Tajib, BA, ini sudah menjadi suatu kesepakatan,bahwa tanah Bima artinta Dana Mbojo, orang Bima juga berarti dou Mbojo. Dan secara kaidah Bahasa orang Dompu artinya dou 'Dompu. Nah, dari istilah ini saja, apa yang ditulis tidak singkron, seolah ingin merubah orang Bima -Dompu (bahasa Indonesia) menjadi dou Mbojo. Hal ini secara kaidah bahasa sudah berbeda.
    Pertanyaan saya yang paling mendasar adalah, Mbojo atau dou Mbojo, atau dana Mbojo itu kapan ada. Secara Historis, Mbojo yang berarti Bima baru ada sejak Kerajaan Bima terbentuk, dan begitu pula dengan dou Mbojo, baru ada sejak kerajaan Bima terbentuk, dan dou Mbojo menurut Abdullah Tajib, BA, adalah pendatang di ilayah kerajaan Bima. Disebutkan pendatang dari Bugis-Makasaar, namun bahasanya sama denngan dengan dou Dompu. Suatu kejanggalan.
    Maaf, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, seb sesama pemerhati Sejarah, namun hal ini sepertinya suatu kejanggalan, disimak dari historisnya.
    Penyebutan suku Dompu bukan hal baru, justru suku Mbojo lah yang hal baru. Coba dilihat di buku Ensiklopedia Suku-suku bangsa di Indonesia, sampai terbitan 2015, masih tersebut suku Bima. Pertanyaannya, kapan berubah suku Mbojo. Begitupun suku Dompu ada dalam Ensiklopedia tsbt, bahkan ada dalam arsip kolonial tahun 1.800 san. Jadi bikan hal baru diproklamirkan.
    Tentang bahasa, Catatan Kesultanan Dompu menulis istilah Bahasa Dompoe, dan ini secara historisnya hausnya seperti itu, karena secara Hirtoris (Bo Sangaji Kai) menyebut Indra Kumala dan Indra Jamrut baru mendarat di teluk Cempi tahun 1420 M, dan saat itulah baru Bima terbentuk dan juga bahasanya.
    Orang dari Jawa itu (Sang Bima), datang dan duduk di Dompu dan menjadi raja. Menduduki singgasana yang telah ada, sedangkan Bima baru dibentuk oleh Sang Bima. " Kalau Legenda itu diperbandingkan dengan apa yang disampaikan kepadaku SECARA TERTULIS di Dompu, bahWa keturunan dewa-2 di Jawa (antara lain dari Mojo Pahit)menjadi raja, bahwa beberapa di antaranya meninggalkan pulau Jawa dan berlabuh di nisa Satonda, bahwa mereka akhirnya duduk di Dompo dan menjadi raja di negeri itu, maka di situlah TERDAPAT PETUNJUK TENTANG CARA BAGAIMANA HAL SEBENARNYA TERJADI.
    Saya ulangi : ...duduk di Dompo dan menjadi raja di NEGERI itu"
    Dalam kata lain menjadi raja di negeri Dompo, saat sang Bima datang membentuk negara Bima.
    Menduduki dan membentuk itu istilah yang berbeda.
    Saya pikir dasar pemikiran Professor Agus Aris Munandar idem dengan tulisan Zollinger.
    (Henri Chambert-Loir, 20404 : 60)

    ReplyDelete

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top