Sebuah tanggung jawab besar yang di emban oleh Steven Van Der Hagen ketika dipekerjakan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang bertugas untuk menghimpun kerjasama perdagangan rempah bersama kerajaan-kerajaan di Nusantara yang masuk dalam wilayah Hindia Timur. Tahun 1603 Van der Hagen dipilih sebagai Laksamana pertama VOC sesuai dengan pengalamannya di bidang pelayaran.

Pada 25 Februari 1605 Van der Hagen merebut benteng Portugis di Ambon yang memudahkan pihak VOC memegang hak penuh atas monopoli rempah, konflik Belanda dan Portugis kian memanas di Nusantara. Konflik kedua belah pihak bangsa eropa itu hingga menarik nama Bima masuk dalam peristiwa sejarah tersebut.

Lukisan Steven Van der Hagen Oleh Gillis Joosten Saeghman tahun 1663 (sumber : Wikipedia)

Bima sebelum Belanda masuk sejak abad 13 hingga 14 masehi sudah menjadi pelabuhan penting bagi Portugis untuk perdagangan pewarna kain (kayu sopang) maupun pengisian bekal kapal. Belanda melihat jika Bima dikuasai oleh mereka secara otomatis kapal-kapal Portugis akan  kesulitan mengisi perbekalan mereka seperti air dan bahan makanan lainnya untuk menuju Maluku atau wilayah timur Nusantara lainnya.

Awal terjalin hubungan Bima dan Belanda disebabkan ketika Belanda bertempur dengan Portugis di Sape, lalu Portugis kalah dan melarikan diri ke Sanggar untuk meminta bantuan Portugis lainnya yang sudah berada disana. Serangan balik dilakukan oleh Portugis kepada Belanda yang sedang berlabuh di Sungai Belo tepian selatan teluk Bima. Banyak pihak Belanda yang terbunuh oleh Portugis, kemudian kejadian itu di dengar oleh Raja Bima yang saat itu berkuasa adalah Raja Salisi.
 
Kemudian Raja Salisi membantu pihak Belanda mengalahkan Portugis dan mengusirnya dari Bima. Orang Belanda dipimpin oleh Steven Van Der Hagen hingga mereka melakukan perjanjian untuk persahabatan dan saling tolong menolong. Perjanjian tersebut dilakukan di Cenggu pada tahun 1611 yang dikenal dengan nama Sumpah Ncake dan juga awal perjanjian kontrak kerja pertama bersama Belanda (BSK 114).

Namun tahun peristiwa tersebut mempunyai beberapa perbedaan pendapat bagi para sejarahwan, peristiwa tersebut dalam catatan Bo Sangaji Kai terjadi pada tahun 1611 beda halnya Menurut J Noorduyn peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1619 sedangkan menurut Lalu Massir peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1605.
  
Pendapat Lalu Massir tahun 1605 juga sama pada tulisan W.R van Hoevell dalam Sejarah Kepulauan Maluku, di tahun 1605 ketika rombongan kapal Van Der Hagen menuju Ambon, disekitaran Bima mereka bertemu dengan kapal portugis yang mengangkut kebutuhan perang untuk Ambon. Bisa dipastikan terjadi peperangan pada saat itu dan Bima juga turut membantu Belanda, juga tulisan J. Couvreur pejabat Controlaur Bima menulis perjanjian antar Raja Bima dan Belanda pada tahun 1605 dalam bentuk lisan (J. Couvreur Controlaur van Bima, 1947).

Dapat dipastikan hubungan Raja Salisi dan Belanda mulai terjalin pada tahun 1605, namun tahun itu perjanjian tersebut terjadi dalam bentuk lisan, kemungkinan perjanjian resmi kedua belah pihak terjadi pada tahun 1611 seperti yang tercatat dalam naskah kerajaan Bima.

Setelah Portugis terusir di wilayah kerajaan Bima, maka Raja Salisi melakukan kerjasama dengan Belanda, saat itu Islam belum masuk, perkembangan perdagangan melaju dengan pesat khususnya penjualan kayu pewarna atau kayu sopeng, VOC dalam catatan Daghregister membeli kayu dengan jumlah besar hingga tahun 1620. Bersamaan dengan itu Bima juga sedang terjadi konflik perang saudara untuk memperebutkan tahta kerajaan Bima.


Oleh : Fahrurizki




0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top