Setelah Proklamasi dibacakan oleh Soekarno-Hatta 17 Agustus 1945 bahwa Indonesia telah merdeka dari penjajahan, maka untuk mencapai kabar kemerdekaan diseluruh Indonesia terbentuklah Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di gedung kesenian Jakarta, pada tanggal 29 Agustus 1945 dilantiklah seluruh anggotanya untuk membantu presiden.

Untuk tingkat daerah dibentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) dan wilayah kepulauan sunda kecil berpusat di Bali, oleh Gubernur Sunda Kecil I Ketut Pudja menindak lanjuti kebijakan pemerintah pusat membentuk KNID Sunda kecil dan mengangkat Ida Bagus Manuaba sebagai ketua untuk bertugas menyebarluaskan berita kemerdekaan Indonesia di bagian timur.

Serdadu Belanda memperlihatkan Foto Presiden Soekarno yang disita dari rumah yang dicurigai sebagai Gerilyawan Indonesia di Cirebon, 27 Juli 1947. Lukisan Soekarno dilukis berdasarkan foto Alex Mundur yang bekerja sebagai pewarta foto kantor berita IPPHOS. (sumber : Museum Bronbeek)

Penyebarluasan berita kemerdekaan segera dilakukan di berbagai kerajaan di Bali, pulau Lombok, pulau Sumbawa dan Nusa Tenggara. Berita mengenai Proklamasi 17 Agustus 1945 pertama kali diketahui di Nusa Tenggara Barat pada awal September 1945 dari pemuda – pemuda pelajar Bima, M. Noer Husain dkk. yang datang dari Singaraja (Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Nusa Tenggara Barat).

Para pemuda tersebut ditugasi membawa surat dari ketua KNID Sunda Kecil, yang ditujukan untuk para pemimpin pemerintahan setempat, di Bima surat tersebut diterima oleh Jeneli Woha yaitu Idris M. Jafar, di kediamannya Kampung Pane, dalam surat tersebut selain memberitakan Proklamasi juga diinstruksikan kepada pemimpin pemerintahan daerah untuk segera membentuk Komite Nasional Indonesia, dan mengibarkan bendera merah putih sebagai symbol kemerdekaan.

Suasana politik di Bima semakin memanas setelah datangnya kabar kemerdekaan 2 September 1945, para pemuda seantero tanah Bima menunggu kepastian Sultan Bima untuk menyatakan kemerdekan dan masuk dalam kedaulatan Republik Indonesia, dilain tempat Jepang sedang leluasa membakar dokumen-dokumen penting dan memusnahkan senjata, takut di rampas oleh rakyat. Maka tanpa sepengetahuan Sultan, untuk mengambil alih kemerdekaan para pemuda Tente dengan inisiatif mereka sendiri membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Bima pada tanggal 17 September 1945 yang diketuai oleh Ishaka Abdullah, Wakil Ketua Thayib Abdullah, dan Sekretaris Saleh Amin.

Para pemuda di Tente telah mengikrarkan membela merah putih dan berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia di tanah Bima, berbagai upaya terus dilakukan oleh KNID untuk mengusir Jepang dan menyuruh menurunkan Hinomaru (bendera Jepang) diganti dengan merah putih. Usahanya yang pertama-tama KNID mengusahakan senjata yang dirampas dari Jepang dan mengorbankan semangat perjuangan dan kecintaan kepada tanah air di kalangan rakyat (Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat, 1977/1978).

Keadaan semakin genting karena status Bima belum jelas masuk dalam kedaulatan Republik Indonesia atau berdiri sendiri. Ketegangan para pemuda KNID dan tentara jepang semakin memanas karena sudah tersebar info bahwa senjata Jepang akan dirampas. Sebelumnya surat kemerdekaan Indonesia yang disampaikan oleh para pelajar dari Singaraja, diterima oleh Jeneli Woha dan disampaikan kepada Sultan Bima juga tak kunjung ada jawaban. Pada waktu itu Sultan masih ragu – ragu. Surat yang dikirim oleh ketua KNI Sunda Kecil beliau simpan tidak disampaikannya kepada alamatnya (Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Nusa Tenggara Barat).

Atas desekan para pemuda akhirnya pihak pemerintahan setempat (Kesultanan Bima) setelah bermufakat, Sultan Bima Muhammad Salahuddin, Idris M Jafar Jeneli Woha, Jeneli Rasanae dan Jeneli Dompu M. Amin Daeng Emo sepakat untuk membentuk KNID Bima secara resmi, dan berdiri dengan Republik Indonesia. Akhir usaha yang dilakukan oleh pemuda KNID menyebarluaskan kemerdekaan berjalan dengan baik, di berbagai wilayah kejenelian (tingkat kecamatan) di instruksikan untuk membentuk KNID oleh Sultan.

Dalam memoir autobiography Siti Hawa Thayib Abdullah, pada tanggal 31 Oktober 1945 jam 09.00 (pagi) merah putih mulai dikibarkan. Sebelum dikibarkan di depan istana kesultanan, merah putih dikibarkan terlebih dahulu didepan kantor KNID Bima di rumah Idris M Jafar secara resmi (kemudian November kantor KNID pindah di Raba), namun jauh hari sebelumnya pada 17 September 1945 di Tente terlebih dahulu dikibarkan merah putih depan beberapa anggota KNID yang terbentuk sejak itu Bima belum resmi mengumumkan berdiri bersama Republik Indonesia. Keluar surat perintah dari Sultan Bima yang dimulai 1 Nopember 1945 untuk disemua wilayah kejenelian melakukan upacara pengibaran merah putih.

Namun kebimbangan pemerintahan setempat kembali menghantui tanah Bima, merah putih diturunkan lagi didepan istana setelah kedatangan pasukan Australia 23 November 1945. Kemudian dengan keberanian untuk kemerdekaan Indonesia beberapa pemuda dari KNID mendatangi istana, dengan agak pemaksaan mereka kembali mengibarkan bendera merah putih di istana. Melihat situasi atas keraguan pemerintah setempat mengenai kemerdekaan Indonesia pada 25 November 1945 KNID segera bersidang untuk meminta kepada Jepang agar tidak lagi mencampuri urusan pemerintahan Bima yang telah resmi berdaulat kepada Indonesia yang telah merdeka. Pada tanggal 26 November 1945, melalui wakil KNID Idris M. Jafar memberutahukan kepada Sultan Bima, setiap menghadapi Jepang KNID harus turut serta mendampingi Sultan, semua usulan itu diterima baik oleh Sultan (Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Nusa Tenggara Barat).

Perjuangan para pemuda KNID tidak sampai disitu, kemudian terjadi kesalah pahaman dengan TKR (Tentara Komando Rakyat) dibawah pimpinan Putra Kahir, dimana ketua KNID Ishaka Abdullah di tangkap oleh TKR dan saling menyerang satu sama lain karena kesalah pahaman tentang kekuasaan dan ditambah lagi adu domba oleh Jepang dan NICA.

“Tetapi belakangan diadu domba oleh NICA terjadi kerenggangan dan keretakan bahkan saling tangkap dan saling ultimatum, yang dari kacamata perjuangan hal ini sudah sangat tentu sangat merugikan sekali,” tulis Muhammad Zulkarnain dalam Rangkaian Melati Kehidupan H.M. Thayib Abdullah.

Kemudian atas perintah Sultan Bima merombak kepengurusan KNID setelah ketuanya ditangkap. Kepengurusan KNID baru diganti oleh A.D Talu sebagai ketua, M. Hasan sebagai wakil ketua. Pada 11 Januari 1946 beberapa kapal sekutu dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) masuk diteluk Oi Ule, hal ini ditolak oleh seluruh rakyat Bima melalui surat dari KNID kepada Jendral Byke, jika tentara NICA mendarat maka seluruh rakyat akan siap bertempur sampai mati.

Kemudian di utuslah A.D Talu untuk melakukan perundingan dengan NICA diatas kapal perang sekutu yang diterima oleh Mayor Lynch. Perundingan tidak mencapai kesepakatan kemudian perundingan kedua dilakukan lagi, oleh kali ini rakyat Bima diwakili oleh M. Hasan, Nasaruddin (Tureli Ngampo) dan Sirajuddin (Tureli Bolo) namun hasil perundingan tetap sama menolak pendaratan NICA.

Kemudian perundingan ketiga dilakukan kali ini Bima diwakili oleh Sultan sendiri dan didampingi oleh M. Hasan, A.D Talu dan M. Jafar kemudian tercapai kesepakatan bersama yaitu pertama jika NICA mendarat Sultan akan meletakkan jabatan, kedua Sultan akan menjemput Jendral Byke bersama-sama dengan Jeneli Bolo, Jeneli Rasanae, Rato Rasanae dan Rato Bolo, (Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Nusa Tenggara Barat).

Setelah NICA di ijinkan mendarat di Bima pada 12 Januari 1946, sontak seluruh rakyat dan para pemuda menyiapkan segala peralatan perang mereka menyambut kedatangan penjajah untuk kedua kalinya. Namun jauh hari sebelumnya para pemimpin perjuangan rakyat Bima seperti Ishaka Abdullah, Thayib Abdullah, Ahmad Abdullah dan Saleh Bakry beserta tujuh pejuang lainnya di tangkap oleh Jepang sehingga tongkat komando perlawanan saat NICA mendarat tidak tersusun dengan baik.

Seluruh pemuda pejuang dari KNID dan API (Angkatan Pemuda Indoensia) ditangkap dan tahanan para pimpinan pejuang Bima sebelumnya diserahkan kepada NICA. Penyiksaan dalam penjara dilalui oleh para pemuda tersebut, terlebih Ishaka Abdullah sampai meninggal pada 15 Juli 1946 akibat infeksi dari penyiksaan yang diterimanya selama dipenjara, seluruh pemuda pembela merah putih di cap sebagai pemberontak.

“akhirnya tersualah kenyataan selanjutnya sebagai yang tersua pula di daerah-daerah lain diwilayah Indonesia bahagian Timur dengan terbentuknya Negara Indonesia Timur (NIT),” tulis Ahmad Amin dalam Sejarah Bima : Sejarah Pemerintahan dan Sera-serbi Kebudayaan Bima.

KNID dibubarkan tahun 1947 setelah Bima secara resmi masuk dalam Negara Indonesia Timur (NIT) dan sebagaian para pemuda merah putih yang ditahan dibebaskan. Pada tahun 1950 kemudian dari beberapa anggota KNID yang masih ingin berjuang melebur kedalam Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan kembali berjuang untuk membebaskan Bima dari belenggu penjajahan untuk yang kedua kalinya.


Oleh : Fahrurizki




0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top