Membicarakan Sanggar takkan pernah usai dengan berbagai kisah dan keindahannya, nama Sanggar sendiri tidak setenar Tambora tapi keseruan saat menjelajah Sanggar mungkin tidak kalah dengan Tambora, berbagai tempat yang menakjubkan terbentang luas di bagian utara Semenanjung Sanggar tersebut.

Sanggar salah satu kecamatan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Buma, Nusa Tenggara Barat. Dahulunya Sanggar juga mempunyai Kerajaan tersendiri yang selamat dari tragedy letusan gunung Tambora tahun 1815 Masehi.

Haju Temba - So Loka, view dari atas tebing

Dari Kota Bima kami berangkat jam 15.20 Wita, Sabtu (9/4/2016) sore dengan beranggotakan enam orang yang dimana kami bakal menjajal untuk camping di So Loka salah satu pantai di Sanggar. Setelah tiba di Kore yaitu ibukota Sanggar jam 19.21 malam kami beristirahat sejenak di rumah salah satu kawan di Kore bernama Arie. Saat itu juga bertepatan dengan pembukaan dari Festival Mbojo  2016 sehingga Kore malam itu nampak ramai.

Sebelum menlanjutkan perjalanan menuju So Loka kami menyaksikan sejenak pentas tarian di Festival Mbojo, satu jam lebih di acara itu kemudian kami berkemas dan menlanjutkan perjalanan menuju tujuan.

Dari Kore menuju So Loka memakan waktu hanya 30 menit, saat tiba di So Loka suasana kampung sangat sepi, mungkin penduduknya pergi ke Festival Mbojo. Jalan menuju So Loka tidaklah begitu sulit dari Sekolah Dasar (SD) langsung lurus, keseruanpun di mulai saat memasuki areal hutan dan gonggongan anjing seakan menyambut kedatangan kami.

Begitu tiba di So Loka jam 21.35 Wita kami disambut oleh gemerlap cahaya lampu kapal-kapal Baga nelayan setempat yang sangat menakjubkan sehingga membuat suasana di pinggir pantai tersebut tidaklah begitu gelap. Tenda didirikan dan sebagaian anggota bersiap untuk menyiapkan makan malam.

Setelah tenda didirikan sebagian anggota ada yang langsung tertidur sambil menunggu makan malam yang disiapkan oleh koki andalan kami Ayenk. Tiba-tiba dari kejauhan ada seseorang mendekat dengan senternya yang super besar, kamipun menyapanya dan melaporkan untuk ngecamp. Kemudian orang itu datang lagi dengan membawa sekantung plastik yang berisikan jagung untuk diberikan kepada kami, orangnya sangat ramah dan baik namanya Pak Dion dan berladang di sekitar tempat kami camping.

Makan malam telah siap dengan menu ayam dan bebek di tambah mie rebus sajian yang sangat istimewa, setelah usai makan malam acara puncakpun dimulai yaitu api unggun diselingi cerita-cerita lucu. Jam menunjukkan pukul 2 pagi, obrolan yang menarik tak terasa hingga kamipun bergegas untuk tidur.

Pagi hari, So Loka

Pagipun tiba di arah timur sang fajar dengan warnanya yang sangat indah menghiasi So Loka. Dari info Pak Dion bahwa sebelah utara So Loka pemandangannya sangat indah, kamipun menuju ketempat tersebut dan apa yang kami temukan sungguh memang sangat indah. Nama tempat tersebut Haju Temba yang berarti sumur kayu. Dari atas tebingnya kita bisa melihat dari kejauhan pantai Boro dan kapal-kapal nelayan yang berjejer di pantai dengan latar Doro Na`e.

Setelah satu jam lebih berada di Haju Temba kamipun balik ke tenda dan menyiapkan sarapan, seusai sarapan kamipun bergegas untuk pulang dan jam menunjukkan pukul 9 pagi. Sebelum balik ke Kota Bima kami mampir sebentar untuk bersilaturahmi ke salah satu kerabat di Kore yaitu Aswin. Kemudian dari rumah Aswin kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Kota Bima.

Masyarakat Sanggar sangat teguh dan giat dalam hal bertani, tiap musim tidak dilewati dengan sia-sia begitupun juga para nelayan di Sanggar, hasil lautnyapun juga terbilang sangat melimpah. Berbagai potensi di Sanggar juga sangat bisa diandalkan dan tempat-tempat untuk berwisatanyapun juga sangat menakjubkan.(Mbojoklopedia.com)



0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top