Kerajaan Bima tercatat dalam berbagai kontrak kerja sama perdagangan dengan Kerajaan lain atau dengan bangsa Eropa, kegiatan perdagangan selain barter barang dan tentu juga tercipta beberapa mata uang.

Koin Real Kesultanan Bima sejak Sultan Alaudin Muhammadsyah (1731-1748)
Masa kejayaan Kerajaan Bima di bidang perdagangan mulai dari Raja Manggampo Jawa (1370-1400) Raja Bima yang ke-8, saat Manggampo Jawa naik tahta tahun 1370 (abad 14) menggantikan Raja Matra Indratarati (1350-1370), hubungan dagang Kerajaan Bima dengan Kerajaan lain berkembang pesat dengan baik. Tekhnologi di Bima-pun berkembang seperti pengenalan batu bata, pembuatan keris dan tombak, dan juga penulisan Bo (catatan Kerajaan Bima) pertama kali dilakukan.

Era Kerajaan hingga menjadi era Kesultanan 1050 Hijriah (1640 Masehi) hubungan dagang Bima terus berkembang, banyak berbagai pedagang dari Arab, Cina, hingga Eropa datang singgah untuk mengisi perbekalan kapal mereka sekaligus untuk berdagang. Kelebihan Bima saat jalur perdagangan laut yaitu memiliki teluk yang dapat melindungi kapal dari angin dan gelombang besar. Letak teluk Bima juga sangat strategis yaitu di tengah-tengah jalur pelayaran timur, utara dan Barat di Nusantara.

Perkembangan ekonomi Kesultanan Bima meningkat pesat sejak Sultan Hasanuddin (1695-1731) berkuasa, berbagai kebijakan dan peraturan Bandar Bima di perbarui guna menjaga stabilitas perdagangan dengan daerah-daerah lain. Sejak abad 17 Masehi aktifitas jual beli semakin meningkat di Bandar Bima (pelabuhan) dan sangat menguntungkan Kesultanan bima, kapal-kapal berdatangan dari segala daerah. Selain dari pajak dan upeti, pemasukan keuangan kesultanan Bima yang besar yaitu di Pelabuhan.

Aktifitas jual beli semakin meningkat sehingga mengharuskan Kesultanan mencetak uang untuk menjadi alat tukar perekonomian, tahun 1712 dalam catatan BSK (Bo Sangaji Kai) naskah 45-50 yaitu menjelaskan beberapa ketetapan peraturan dan hukum Kesultanan yang salah satunya mengenai menukar uang, dalam Undang-undang Bandar Bima mewajibkan para pedagang menggunakan Real untuk menukar dengan emas.

Mata uang Kesultanan Bima sejak abad 17 hingga 20 menggunakan mata uang Real, sebuah koin yang terbuat dari emas dengan diameter 13 mm dan berat 0,06 gram. Bukan hanya Real emas yang menjadi alat tukar masyarakat bima pada waktu itu, tapi juga menggunakan “Real batu” yang terbuat dari perak yang dibawa oleh bangsa Spanyol dan Portugis.  Dengan di temukannya Real Kesultanan Bima zaman Sultan Alauddin Muhammadsyah (1731-1748) yang tersimpan di rumah koleksi koin Numisaisne Paris merupakan salah satu bukti perkembangan ekonomi Kesultanan Bima saat itu.

Real Batu yang digunakan sebagai alat tukar di Pulau Sumbawa dari tahun 1600


Oleh : Fahrurizki





0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top