Desa Donggo merupakan desa yang tertua di Bima yang diperkirakan mulai adanya sejak abad 14, desa Donggo terletak di bagian barat Kota Bima, yang masuk dalam wilayah Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima. Berbagai macam peninggalan kerajaan Hindu juga sangat banyak ditemukan di wilayah Donggo mulai dari Wadu Tunti, kuburan-kuburan kuno, dan Wadu Pa`a. dengan berbagai macam keunikan budaya dan sejarahnya seperti Uma leme, bangunan peristirahatan Belanda, kuburan Lahilla, Tolopihi dan Benteng Asakota. Dalam tulisan kali ini Mbojoklopedia akan mengulas mengenai trip menjelajahi eksotiknya Donggo dengan berbagai kearifannya.

Untuk Trip pertama setelah sampai di Donggo yang dimana rombongan Explore Bima dan Makembo (Majelis kesenian Mbojo) memulai star dari kota Bima pukul 9:25 pagi yang memakan waktu kurang lebih 40 menit perjalanan menuju Sila, setelah sampai di Sila rombongan mengambil jalur sebelah selatan dari Sila menuju desa Mbawa Donggo, perjalanan di jalur ini dijamin tidak membosankan sepanjang jalan akan ditemani oleh keindahan landscape Donggo dengan latar Doro leme yang artinya Gunung Runcing.

Dari Sila ke desa Mbawa Donggo akan memakan waktu kurang lebih 20 menit, setelah memasuki Mbawa rombongan langsung menuju Uma Leme atau warga setempat menyebutnya Uma Ncuhi yaitu rumah kepala suku.

Di rumah Ncuhi (kepala suku) rombongan langsung memulai mengabadikan tempat tersebut, dan berbaur dengan masyarakat sekitar, di Uma leme ini bila ingin mengambil foto dengan memakai baju adat yang disebut Baju Kababu dengan latar Uma Leme, kita bisa menyewanya pada penduduk setempat dengan tarif seikhlasnya (minimal 20 ribu), dan di Mbawa ini juga terdapat susu kuda liar jika ada yg ingin mencobanya atau membeli sebagai oleh-oleh dari Donggo.

Diatas uma leme kita bisa melihat isi ruangnya yang masih terbilang sangat tradisional, pengunjung bisa naik di atas rumah tersebut dengan batasan hanya dua orang atau 3 orang saja dengan persyaratan hanya membuka alas kaki supaya kebersihan tetap terjaga.

Uma Leme Desa Mbawa
Salah satu rombongan berfoto dengan baju adat Donggo Mbawa
Penduduk asli Donggo Mbawa

Ada yang menarik di Mbawa mengenai kehidupan sosial masyarakatnya yang mayoritas beragama katolik tetapi nilai luhur dan saling menghargai umat beragama di Donggo hingga sekarang ini masih tetap terjaga, masuknya agama Katolik di Mbawa dimulai sejak abad 18 sejak banyaknya orang-orang timur atau Flores di bawa oleh VOC untuk dipekerjakan maupun di perdagangkan ke Batavia.

Setelah rombongan sudah menjelajahi Mbawa kemudian melanjutkan trip kedua menuju kuburan La Hilla yang terletak di Donggo Kala. sebelum ke Kala sebenarnya rencana awal rombongan akan singgah ke pesanggrahan di Donggo O`o karena berhubung cuaca agak mendung akhirnya rombongan membatalkan untuk pesanggrahan dan melanjutkan ke kuburan Lahilla.

Perjalanan menuju Donggo O`o sebelah utara akan sangat menyenangkan mata anda akan di hibur oleh view-view alam Donggo yang indah, karena letak Donggo di atas dataran tinggi, kita bisa melihat Kota Bima dan teluk yang sungguh sangat menakjubkan, apalagi anda memakai motor akan semakin membuat petualangan anda menarik, dan merasakan kesejukkan udara pegunungan Donggo.

Setelah tiba di Donggo Kala dan rombongan langsung menuju kuburan La Hilla, bagi anda yang belum tahu lokasi kuburan La Hilla kita bisa menanyakannnya kepada warga setempat dimana letak kuburan tersebut, dari cerita rakyat Donggo La Hilla ini dulu katanya merupakan putri tercantik yang pernah hidup dan diperebutkan oleh para raja dan La Hilla kemudian akan dinikahkan dengan seorang raja yang sangat jahat, La Hilla tidak ingin menjadi permaisuri dari raja tersebut dan menyuruh orang tuanya untuk mengubur dirinya hidup-hidup dan menyuruh membongkar kembali kuburan tersebut setelah satu matahari berlalu, setelah kuburan di bongkar kembali oleh orang tuanya didapatkan kuburan tersebut kosong dan untuk mengenang La Hilla maka orang tuanya membuat kuburan tersebut dari batu. Itulah sepenggal kisah La Hilla yang mempunyai rambut terpanjang seukuran tujuh bambu panjangnya.

Foto bersama di kuburan La Hilla Donggo Kala
Kemudian rombongan melanjutkan kembali untuk trip ketiganya menuju Tolopihi di Donggo Kala yang masih jalur sebelah utara wilayah Donggo, dari kuburan La Hilla menuju Tolopihi ini sangat dekat. Setibannya di Donggo Kala rombongan langsung menuju Tolopihi yang berada di ujung dusun tersebut, bagi anda yang belum tahu letak Tolopihi bisa menanyakan kepada warga setempat letak Tolopihi.

Tolopihi merupakan sebuah areal sawah tadah hujan yang dimana cerita warga setempat merupakan tempat awal mulanya api berada, jika dilihat tolopihi ini mirip sebuah kubangan seperti tempat jatuhnya meteor, bila anda ingin mengabadikan Tolopihi tersebut bisa minta ijin untuk masuk lewat sawah warga, anda akan sangat betah berlama-lama di Tolopihi ini menikmati keindahan dan keunikan bentuk Tolopihi, untuk view yang sangat bagus lebih baik Tolopihi dikunjungi waktu musim hujan.

View Tolopihi
Setelah rombongan sudah menikmati dan mengabadikan Tolopihi dan melanjutkan trip terakhir yaitu ke Benteng Asakota, dari Tolopihi kita bisa langsung menuju dusun Wadu kopa dimana jalurnya mulai dari Mbawa dan Tolopihi masih satu jalur arah utara.

Setelah melewati dusun Wadu Kopa dan menuju dusun Punti kita belok kiri ke arah utara dari Punti menuju Benteng asakota akan memakan waktu kurang lebih 30 menit dengan kecepatan sepeda motor 60/KM, sepanjang jalan menuju Benteng dianjurkan bagi anda pengguna motor untuk sangat berhati-hati di tiap tikungan karena banyaknya ternak (kambing dan sapi) yang mencari rumput di pinggi jalan.

Setelah sampai di benteng asakota di atas pemukiman warga tersebut terdapat tempat parkir untuk pengunjung benteng kemudian kita bisa berjalan kaki kurang lebih 50 meter kearah benteng, letak benteng berada di tepi laut teluk Bima yang dimana dulunya benteng ini sebagai benteng pertahanan Kesultanan Bima yang dibangun pada abad ke 16 oleh Sultan Abdul kahir (1621-1640), di benteng ini kita bisa menikmati laut lepas dan view teluk Bima.

Disebelah Benteng Asakota juga terdapat situs wadu Pa`a yang berjarak kurang lebih 100 meter (Wadu pa`a akan ada ulasan tersendiri), kenapa di sebut benteng Asakota karena posisi Benteng tepat berada di mulut teluk dimana mulut dalam bahasa Bima yang berarti Asa sehingga disebut mulut kota Bima (Asakota). Jam menunjukkan pukul 14:37 rombongan trip Donggo mengakhiri perjalanan di benteng, untuk kembali menuju Kota Bima kita melewati rute di bawah menuju desa Badjo yang tembus ke Sila lagi dan tidak perlu melewati Donggo lagi.

Jika anda berminta untuk mengunjungi Donggo untuk lebih mudahnya lagi anda bisa menyewa penduduk atau guide yang akan mempermudah trip anda menikmati budaya dan keindahan alam Donggo.

Pantai di benteng Asakota

View teluk Bima dari Benteng Asakota


0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top